Septian dan teman temannya berjalan berderetan memenuhi koridor kelas X di lantai bawah. Bel pulang sudah berbunyi. Banyak anak anak yang sudah keluar dari kelasnya sehingga koridor menjadi ramai. Namun melihat kedatangan Septian dan teman temannya, mereka memilih menyingkir terlebih dahulu daripada mereka berurusan dengan pria pria yang dinobatkan sebagai penguasa sekolah.
Septian dan teman temannya menaiki sepeda motor masing masing.
"Wabus." Ajak Alvino yang mendapat anggukan dari teman temannya.
Septian menyalakan sepeda motornya. Begitu Septian ingin menancapkan gas, ia melihat beberapa pria tengah memandang mereka dari luar gerbang sekolah yang terbuka lebar. Septian lantas membuka helmnya dan turun menghampiri pria pria itu.
Revan, Adam, Alvino, Jorges, dan Farrel pun reflek melihat kemana arah Septian berjalan. Mereka melihat Bara, Marco, dan Fariz yang duduk di atas sepeda motornya sambil memandang ke arah mereka. Mereka pun segera menyusul Septian.
Murid murid yang lain tak asing melihat Bara. Secara Bara pernah menjadi bagian dari sekolah mereka. Tapi dengan dikeluarkannya Bara karena perbuatan keterlaluannya, nama Bara menjadi buruk di sekolah itu.
"Ngapain lo pada ?" Tanya Septian. "Belom cukup yang kemaren ?"
Bara turun dari sepeda motornya. Menatap tajam Septian seperti menantang. "Gak usah sok hebat ! Palingan lo sengaja nyerang markas kita pas gue sama Marco lagi gak ada !"
Septian membalas tatapan Bara. "Gue bukan pengecut kayak lo."
Bara maju kehadapan Septian. Tidak terima dengan apa yang Septian lontarankan untuknya. Satu tinjuan di layangkan oleh Bara tetapi berhasil di tangkis oleh Septian.
"Bukan di sini tempat ribut." Kata Septian. Memang saat ini sudah ramai murid murid yang melihat mereka dari kejauhan.
"Karena lo dateng ke wilayah gue berarti gue akan sambut lo dengan baik. Bawa antek antek lo ke Wabus. Inget Wabus kan ? Tempat yang sering lo pake buat nongkrong dulu." Septian mengertak sambil menyindir. Septian tidak mau mengungkit itu tapi ia hanya mau Bara malu akan kelakuannya seperti pecundang.
"Gak usah bahas bahas dulu." Sinis Bara. "Oke. Liat aja lo semua." Bara memberi kode pada Marco dan Fariz untuk pergi.
"Lo kemaren abis apain mereka, Sep ?" Tanya Jorges. Septian memang belum menceritakan apa yang ia lakukan waktu itu.
"Gue obrak abrik markasnya."
Teman temannya tidak kaget mendengar jawaban Septian. Ini bukan pertama kalinya Septian berbuat seperti itu.
"Terus pas lo dateng gak ada Marco sama Bara ?" Tanya Revan. Tadi teman temannya juga mendengar percakapan Septian dan Bara.
"Gak."
"Lo tau sebelomnya kalo mereka gak ada ?" Tanya Farrel.
"Menurut lo ?' Septian memberi jeda. "Gue bukan pecundang yang sengaja nyerang lawan di saat mereka lagi lemah."
"Sorry, Sep." Farrel jadi tidak enak dengan pertanyaanya.
"Udah. Kumpulin aja anak anak." Kata Septian lalu kembali menuju sepeda motornya. Sorot matanya tertuju pada seorang gadis yang baru saja keluar dari koridor sekolah. Sepertinya gadis itu tidak melihat kejadian ini.
~~~~~~~~~~°
"Udah dateng semua ?" Tanya Septian. Septian dan teman temannya kini sudah berada di Wabus.
"Belum semua tapi udah lumayan banyak." Jawab Revan.
Septian duduk di luar Wabus. Ada Revan dan Farrel di sebelahnya. Anak anak yang lain ada di dalam, ada pula yang di pos untuk menanti kedatangan musuh mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Septian Adelio [PRE ORDER]
Romance[OPEN PRE ORDER (@_gentebooks)] "Oke, Alexa, ini sekolah ketiga lo. Jangan sampe lo di keluarin lagi." • • • • • • • • • • • "ADUH GUE GAK BISA, ADA KAKEL BIKIN EMOSI MULU !"
![Septian Adelio [PRE ORDER]](https://img.wattpad.com/cover/220275782-64-k951721.jpg)