"Shira Ariatih, masuk ke ruangan saya!" Suara dalam penuh tekanan nam menyeramkan itu begitu menggelegar memenuhi ruangan DA.
Aku menghela napasku. Sedari kemarin, Mas Argi bertingkah aneh. Kerjaannya marah - marah, mengabari lewat pesanpun juga tidak. Walau tak sesering itu kami bertukar pesan, tapi dua hari ini dia terasa begitu pendiam dan aneh.
Aku berdiri dan berjalan menuju ke ruangan Mas Argi, tapi saat sampai di depan meja William lelaki itu mencegatku. Aku melihatnya dengan sengit.
"Mau mesum ya lo? Jangan kebablasan, Rat, belum nikah!" katanya dengan nada sedikit mengejek.
Aku berdecak kesal. "Bodo amat, itu urusan gue, Will."
Aku menghentakkan tangannya dan segera masuk ke ruang Mas Argi. Di dalam ruangan Mas Argi aura iblis jahanam sudah begitu pekat dan terasa. Perkataan William tadi tak mungkin terjadi. Bagaimana mau mesum kalau mukanya saja sudah seperti jelmaan iblis penghuni jahanam.
"Kamu pernah belajar sopan santun tidak?" Suaranya begitu tinggi dan terdengar membentak. Aku mengelus dadaku.
"Maaf, Mas. Saya lupa ketuk pintu tadi," cicitku pelan.
Lelaki itu menyorot diriku dengan tajam. Sepertinya hidupku cukup di sini. "Sudah berapa kali kamu mengucapkan maaf, lalu tetap diulang?"
"Baik, selanjutnya tidak akan terulang lagi, Mas." Ingatkan aku jika masuk ruangan laknat ini mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu mau jadi penjaga pintu ruangan saya? Pintu saya tidak butuh kamu jagain!" Setan, tolong keluar dari tubuh calon suamiku. Ini menyeramkan.
"Enggak, Mas. Saya boleh duduk?" tanyaku terlebih dahulu untuk menghindari kemurkaan lebih lanjut.
Lelaki itu mengangguk. Selamat diri ini. "Laporan yang kamu kirim ke saya itu sudah fix?"
"Sudah, Mas. Sudah saya cek dan sudah saya teliti lagi."
Lelaki itu menatapku sengit. "Sudah kamu cek? Sampah seperti ini kamu bilang sudah kamu cek? Jangan bercanda!"
Aku memejamkan mataku. Rasanya sudah aku teliti dan tak ada kesalahan yang merugikan. Semua sudah sempurna. Aku benar-benar mengecek ulang laporan hasil analisisku itu.
"Saya rasa tidak ada masalah yang berarti, Mas. Itu semua sudah saya teliti ulang."
Lelaki itu melempar satu bendel kertas berisi print out hasil laporanku. Kuambil kertas itu dan ternyata sudah dicoret dengan tinta warna merah. Dan demi malaikat Raqib yang mencatat semua amal baikku di dunia ini, kesalahanku adalah typo koma, spasi dan sedikit perubahan kata karena Microsoft Word. Sepertinya malaikat Atid pun tak mencatatnya sebagai amalan burukku.
"Mas, ini hanya kesalahan kecil saja, Mas. Tidak terlalu berpengaruh," kataku sedikit menyentak.
"Kecil katamu? Kesalahan sekecil apapun akan selalu berakibat fatal, Shira Ariatih! Salah itu kecacatan, jadi saya tidak akan mentolerir semua kesalahan yang kamu sebut kecil itu!"
"Baik akan saya perbaiki segala kesalahan 'fatal' ini," kataku dengan menekankan kata fatal dan segera keluar tanpa permisi.
Masa bodoh, mau dia marah lagi, aku tak peduli. Dia sedang kesurupan setan yang lepas dari penjagaan malaikat Malik. Dengan kertas yang dicoret ini, aku segera kembali ke kubikel dengan muka kesal setengah mati.
"Kenapa, Rat? Nggak dapat cipokkan dari Mas Argi?" tanya William yang membuat moodku semakin hancur.
"Cipok kentut lo! Yang ada gue ketemu setan yang lepas dari neraka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sela [Completed]
ChickLitCompleted. sela /se·la /n 1 tempat (ruang) di antara dua benda (barang) ; 2 celah ; 3 sesuatu yang tersisip (terletak) di antara benda-benda dan sebagainya Ratih mempunyai prinsip tak akan mengulang kembali pada masa lalu, tapi prinsipnya seolah han...
![Sela [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/205824847-64-k607063.jpg)