Sela Prasangka

7.9K 642 7
                                        

Waktu berjalan begitu cepat, Akmal yang sudah tiga minggu bekerja sudah mulai bisa beradaptasi, semua berjalan lancar. Di sela kesibukan kantor yang semakin menggila, aku dan Mas Argi sering meluangkan waktu untuk mempersiapkan pernikahan kami setiap akhir pekan. Hal ini membuat waktu kami cukup terkuras, apalagi di bulan puasa seperti ini.

Persiapan pernikahan sudah delapan puluh persen siap, undangan sudah tercetak dan siap diedarkan. Minggu ini kami cukup santai, karena mama akan mengurus apa yang kurang untuk pernikahanku.

"Kamu sudah siap?" Suara Mas Argi membuatku yang akhir - akhir ini malas langsung bangkit dari sofa apartemen lelaki itu yang sekarang jauh lebih tampak terurus.

"Hari ini rapat?" tanyaku dengan lemah seperti kehabisan tenaga.

Lelaki itu mendekatiku, lalu mencium keningku. "Kamu sakit?"

"Enggak, cuma kelelahan aja, mungkin efek ngurus pernikahan kita, Mas."

Lelaki itu mengangguk. "Ya sudah, ayo berangkat, ini rapat terakhir bersama Pak Shaka."

Kami segera berangkat ke kantor bersama. Sampai di kantor badanku benar-benar terasa lemas dan tak bertenaga. Badanku juga terasa dingin dan berkeringat. Aku merasa aku sedang tak baik - baik saja. Seminggu ini memang aku merasa tak enak badan, tapi hari ini sepertinya puncaknya.

Di ruangan rapat aku bahkan tak bisa berkonsentrasi, aku hanya diam dengan gejolak aneh dalam tubuhku membuat indera pendengaranku terasa lumpuh. Tadi tak separah ini, tapi kali ini benar-benar tak enak.

Bahkan sampai selesai rapat, yang entah membahasa apa, aku tak tahu, badanku masih terasa lemas. Saat aku keluar dari ruangan, seorang pria menyegat jalanku.

"Rat, kamu sakit? Pucat banget kamu."

Aku mendongak dan melihat lelaki sipit yang cukup aku kenali. "Cuma nggak enak badan biasa, Gam."

"Sedari rapat aku perhatiin kamu pucat dan nahan sakit, Rat."

Tiba-tiba saja perutku melilit dan terasa mual. Aku benci melihat wajah Gamilang. Entahlah, kenapa aku menjadi ingin muntah. Aku tak ingin menyakiti perasaan Gamilang, lebih baik aku segera pamit. Melihat wajahnya membuatku mual.

"Maaf, Gam. Gue ke kamar mandi dulu." Aku segera melesat ke kamar mandi dan menuju wastafel.

Aku memuntahkan semua isi perutku. Aku kenapa seperti ini. Setelah memuntahkan isi perutku, aku benar-benar menjadi lemas luar biasa, bahkan untuk berdiri saja aku harus berpegangan pada wastafel untuk menahan tubuhku.

"Rat, lo kenapa? Sakit?" seru Mbak Mira yang baru saja masuk ke kamar mandi. Wanita itu tampak luar biasa khawatir.

"Mbak, gue lemes banget, bisa bantu gue ke meja, Mbak?" kataku dengan lemah.

Mbak Mira segera merangkul bahuku dan membatuku berjalan ke ruangan sampai di kubikelku. Setelah berhasil duduk, aku segera menyandar pada kursi.

"Lo sakit, Rat?" tanya Fia yang kini tampak khawatir.

Aku memejamkan mataku. Aku begitu pusing mencium bau parfum Fia yang menyengat. "Lo ganti parfum, Fi?"

"Iya, gue suka sama baunya kemarin akhirnya gue beli," jawab Fia dengan ringan.

"Sumpah, Fi. Gue pusing mencium parfum lo. Terlalu tajam di hidung gue." Aku yang sadar ucapanku melukai hati Fia segera meralatnya, "Nggak gitu maksudnya, Fi. Gue lagi nggak enak badan, terus parfum lo baunya lumayan tajam, jadi gue pusing. Sorry."

Fia menghela napasnya. "Its ok, Rat. Gue kayaknya tukar tempat sama Mbak Mira, gue nggak tega lihat lo pucet gini."

Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu kembali memejamkan mataku. Kepalaku begitu berat dan perut mual kombinasi yang sempurna untuk menyedot habis energiku.

Sela [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang