Dan pada akhirnya realita tak semanis ekspetasi, aku benar-benar sudah tidak hamil, aku sudah kembali datang bulan, mungkin efek obat dari dokter Lee untuk membersihkan kandunganku, aku menangis sendirian di kamar mandi, aku takut Yoongi akan melihatku menangis lagi. Jujur aku belum rela jika jalan ceritaku begini, tapi mungkin Yoongi benar, Tuhan masih menginginkanku untuk menyanyi lebih lama lagi.
Aku benar-benar sedih sampai eomma, appaku serta adikku kesini untuk menghiburku, mereka selalu menyemangatiku dan selalu ada untukku, eomma selalu membuatku untuk berlapang dada dan melihat ini dengan pikiran dan pandangan yang positif.
Eomma Yoongi masih disini menemaniku, jujur aku sudah biasa dengan adanya eommonim disini, tapi jikapun eommonim mau pergi aku tidak akan melarang.
"Kau sudah mau beraktivitas lagi Hyo?" Tanya eommonim yang melihatku keluar kamar dengan pakaian yang rapi. Seperti biasa eommonim sedang menyiapkan sarapan.
"Iya eommonim, sudah hampir seminggu aku tidak bekerja, pasti manajerku kewalahan mengatur jadwalku." Jawabku sambil membantu menata makanan dimeja. Semenjak ada eommonim meja makanku tidak pernah sepi.
"Sudah bilang Yoongi? Memangnya tidak apa? Kau sudah benar-benar sembuh?" Eommonim mencemaskanku.
"Sudah eommonim, bukankah kata dokter kemarin rahimku sudah bersih? Aku sudah baik-baik saja, eommonim tidak perlu cemas." Aku berusaha meyakinkan eommonim.
"Baiklah, tapi kau harus hati-hati, jangan terlalu lelah yah." Aku tersenyum mengangguk patuh.
"Lalu mana Yoongi? Dia belum bangun? Atau tidak pulang?" Tanya eommonim, eommonim memang tadi malam sudah tidur sebelum Yoongi pulang.
"Yoongi masih tidur eommonim."
"Bocah itu, ini sudah pagi malah masih tidur, biar eomma yang bangunkan, membangunkan dia memang butuh kekerasan." Eommonim langsung kucegah saat akan masuk kekamar untuk membangunkan Yoongi.
"Eommonim biarkan saja tidak usah dibangunkan, Yoongi baru pulang jam 3 pagi tadi, kasihan kalau dibangunkan sekarang, kata Yoongi hari ini dia juga tidak ada jadwal." Jelasku.
"Begitukah? Tapi dia harus mengantarmu Hyo." Eommonim masih saja memaksa.
"Tidak perlu eommonim, Jihyo dijemput manajer saja, lagipula bahaya kalau Yoongi menyetir dalam kondisi kurang tidur."
"Benar juga, ya sudah tidak apa-apa, tapi kabari eommonim kalau kau ada apa-apa. Ayo sarapan." Aku menganguk patuh rasanya senang sekali diperhatikan seperti ini, terlebih oleh orang tua kekasih sendiri.
Aku sarapan hanya berdua dengan eommonim, bercerita macam-macam ada saja yang dibicarakan, sampai deringan ponsel telephone dari manajerku membuat pembicaraan harus berakhir.
"Manajerku sudah dibawah, Jihyo harus berangkat eommonim." Pamitku
"Eumm, pamitlah dulu dengan Yoongi, jadi nanti dia tidak mencarimu." Aku mengangguk lalu masuk kekamar untuk pamit dengan Yoongi.
Yoongi masih tidur, tentu saja dia baru tidur jam 4 pagi tadi.
"Yoon, aku pergi dulu, kau jangan lupa sarapan yah." Ucapku sambil menepuk pelan pipinya.
"Aku pergi Yoon." Pamitku lalu mencium singkat pipinya.
"Kau mau pergi? Sudah sarapan?" Langkahku terhenti saat suara seraknya kudengar, dia bangun juga.
"Sudah tadi dengan eommonim, kau jangan lupa sarapan." Jawabku.
"Kemarilah." Dia menyuruhku mendekat dan perlahan dia merubah posisinya menjadi duduk.
