47. Kartu Mati

3.1K 293 91
                                        

"Jadi kapan kau akan menikah dengan Jihyo? Besok? Lusa?" Tanya Namjoon.

"Aku terserah Jihyo saja."

"Ck! Laki-laki kok terserah, laki-laki jangan terlalu sering bilang terserah hyung, kita ini calon pemimpin." Namjoon malah ceramah.

"Bukan begitu Joon, aku hanya berusaha menuruti keinginan Jihyo agar dia senang."

"Hyung, aku perhatikan akhir-akhir ini kau terlalu memanjakan Jihyo, bukan apa-apa hyung, aku takutnya dia akan terus begitu sampai nanti dia tua dan tidak ada dewasanya sama sekali. Padahal dulu Jihyo kulihat lebih dewasa ketimbang dirimu."

"Jihyo hanya sedang ingin di manja saja Joon, sifatnya tidak seperti itu kok." Yoongi membela Jihyo.

"Sekali manjanya dituruti pasti akan lanjut ke manja-manja yang lainnya, lihat saja nanti. Kau pasti akan susah kalau menikah tahun sekarang, kau bahkan baru saja kontrak dengan agensi luar. Sudah dipikirkan matang-matang?"

"Setiap keputusan yang diambil sudah pasti ada resikonya. Aku hanya ingin menjalani ini seperti air mengalir saja, toh aku sudah tidak terlalu berambisi dengan karir yang bagus. Entah dibelakang layar ataupun didepan layar aku hanya ingin terus bermusik, cita-citaku dulu kan juga hanya ingin jadi produser bukan jadi idol, mungkin aku harus memikirkan hal itu dari sekarang. Aku juga lelah terus tampil dilayar kaca, bayaran produser kan juga tidak kalah banyak dari idol Joon, aku yakin aku masih bisa menghidupi Jihyo nantinya." Jelas Yoongi panjang lebar.

"Tunggu, maksudnya kau mau pensiun dari dunia hiburan hyung?!" Namjoon terkejut, pikirannya sudah kemana-mana.

Yoongi tersenyum mendengar pertanyaan dari Namjoon.

"Mungkin akan, tapi belum tahu kapan." Jawab Yoongi asal dan Namjoon semakin terkejut.

"Kau jangan khawatir Joon, tidak sekarang kok, aku masih ingin dengan Bangtan dan juga Army." Imbuh Yoongi yang tidak tega melihat ekspresi Namjoon saat ini.

"Kau boleh jadi produser hyung, tapi bisakah kau pikirkan lagi untuk tidak meninggalkan Bangtan? Aku ingin Bangtan terus hidup meskipun dari kita sudah dengan kesibukan masing-masing." Ucap Namjoon penuh arti.

"Bisakah kita menjaga Bangtan sampai kita tua nanti? Sampai kita memiliki istri, anak. Aku hanya ingin Bangtan terus ada meskipun tidak seperti dulu. Aku tidak mau bangtan tinggal kenangan, aku tidak mau salah satu diantara kita jadi ex-member. Bangtan tidak selamah itu kan hyung?"

Yoongi terkekeh mendengar Namjoon yang tiba-tiba jadi melow seperti ini.

"Kau ini kenapa sih Joon? Aku belum mau keluar dari bangtan kok." Ucap Yoongi.

"Tidak akan keluar, bukannya belum. Kau tidak akan dan tidak boleh keluar dari bangtan. Bangtan itu bertujuh kalau tidak bertujuh itu bukan bangtan namanya." Kekeuh Namjoon.

"Iya iya astaga, kenapa kau jadi bawel sekali menandangi Jihyo sih?" Ledek Yoongi.

"Ck! Kau yang mulai duluan." Kesal Namjoon.

"Sudahlah. Ini mana Suran noona? Kau kemarin bilang padanya kan kalau aku ingin bertemu hari ini?" Tanya Yoongi yang sadar jika Suran yang ditunggu belum datang juga.

"Mungkin sebentar lagi datang. Kau mau apakan Suran noona? Kau mau melabraknya?" Namjoon penasaran.

"Hanya sedikit pelajaran agar tidak mengganggu Jihyo. Aku sengaja diam selama ini, tapi ternyata dia malah terus mengusik hubunganku. Aku sudah terlalu baik padanya."

"Jangan keterlaluan ya hyung, dia juga orang penting disini. Aku bukan membelanya, hanya saja--"

"Iya iya aku paham Joon, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya akan menasehati dan memberi dia peringatan. Itu saja. Aku juga masih punya akal sehat." Potong Yoongi.

StayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang