Yoongi terbangun karena rasa lapar yang melanda perutnya, tidak biasanya dia seperti ini. Dulu tidur dalam kondisi laparpun dia bisa, dan sekarang kenapa malah tidak nyaman? Mungkin karena faktor usia.
Setelah cuci muka Yoongi berniat kedapur untuk memasak apapun yang ada disana, dia tidak mau berharap banyak, karena dia tahu, didapur sudah pasti hanya ada ramen.
Indra penciuman Yoongi terganggu saat keluar kamar, dia mencium bau enak, jelas ini bau yang makanan dan bukan ramen tentu saja. Yoongi langsung kedapur melihat apakah ia hanya berhalusinasi efek lapar atau memang ada malaikat baik yang mengirim makanan disaat dirinya lapar.
Langkah Yoongi terhenti saat dia melihat sesosok wanita yang membuatnya harus meyakinkan diri bahwa itu memang nyata. Yoongi melihat sekelilingnya, ini benar appartemennya, dia tidak salah masuk, tapi kenapa bisa? Dia sedang tidak bermimpi kan?
"Kau mau terus berdiri disitu?" Tanya wanita itu membuat Yoongi melanjutkan lagi langkahnya mendekat.
"Aku pikir aku salah appartement." Ucap Yoong duduk di counter dapurnya.
Wanita itu tidak merespon, dan sibuk dengan makanan yang sedang dia tata dipiring.
"Bukan aku yang memasak, aku hanya beli." Ucapnya meletakan makanan didepan Yoongi. Yoongi tersenyum simpul, tanpa diberitahu pun Yoongi sudah paham. Wanita dihadapannya ini mana mau memasak apalagi moodnya sedang buruk.
"Kau sudah makan?" Tanya Yoongi yang kini mulai mencicipi makanan dari restoran favoritnya.
"Sudah tadi pagi." Yoongi lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban wanita itu, itu berarti makanan buatannya dimakan oleh Jihyo. Ya wanita itu adalah Park Jihyo yang tadi pagi masih merajuk dengan Min Yoongi, tapi kalau sekarang juga belum tahu apakah Jihyo masih merajuk atau tidak.
"Ini sudah siang, makanlah lagi." Yoongi mengambilkan sendok satu lagi agar Jihyo bisa ikut makan dengannya.
"Aku masih kenyang, makan saja makananmu, aku sudah beli cemilan." Yoongi tidak mau membantah lagi, Jihyo sedang mulai jinak, jangan sampai memancing emosi.
Yoongi fokus makan, sedangkan Jihyo sedang membersihkan sampah plastik bungkus makanan.
"Kau tahu aku disini?" Tanya Yoongi memecah keheningan.
"Mau dimana lagi memang." Balas Jihyo masih dingin.
"Ya bisa sajakan aku diBihit."
"Aku dari sana, dan kau tidak ada."
"Kau mencariku sampai ke Bighit?" Yoongi cukup berbangga diri. Jihyo menghela napasnya berat.
"Habiskan makananmu, setelah itu kita bicara." Tubuh Yoongi menegang seketika. Jihyo kalau begini menakutkan.
"Kau membuatku tak berselera makan Hyo." Keluh Yoongi tapi tetap saja makan dengan lahap, efek lapar mungkin.
Jihyo menunggu Yoongi sampai selesai makan diruang tengah sambil menonton televisi dan membiarkan Yoongi makan sendirian, sepertinya Jihyo masih enggan berlama-lama dengan Yoongi.
Yoongi menghabiskan makanannya dengan berbagai pikiran yang menghantuinya. Dia menebak-nebak apa yang akan Jihyo bicarakan, kalau boleh jujur Yoongi sedang malas jika harus berdebat.
"Kau mau bicara apa?" Tanya Yoongi kini duduk disamping Jihyo. Jihyo langsung mematikan televisi agar tidak menganggu pembicaraannya dengan Yoongi.
"Aku tadi bertemu Namjoon." Ucap Jihyo singkat.
"Oohh, lalu?" Yoongi masih menanggapi dengan biasa saja bertemu Namjoon bukan hal yang harus ditakutkan.
"Dia menceritakan semuanya, kau ternyata menyembunyikan banyak hal dariku." Jelas Jihyo membuat Yoongi harus menghela napasnya berat. Ketahuan juga akhirnya.
