"Hanya ada dua pilihan untuk memenangkan kehidupan; keberanian atau keikhlasan. Jika tidak berani, ikhlaslah menerimanya. Jika tidak ikhlas, beranilah mengubahnya."
- Lenang Manggala
⚓
"Saya ingin kamu menjauhi Adam."
Aku yang tadinya menampilkan senyum merasa tersanjung, seketika luntur sudah. Bagai disambar petir di siang bolong. Hatiku benar-benar merasa tertohok. Perlahan mataku yang membola kini mulai memburam, tertutup air mata yang mulai menyelimuti kedua mataku dengan tiba-tiba. Mulutku juga membuka dan menutup karena aku ingin mengutarakan penolakan, namun aku tak mampu.
"Tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada bapak, saya boleh bertanya—kenapa?"
Aku menggigit bibir dalamku karena menahan gemetar luar biasa di rahangku akibat menahan isakan tangisku yang sudah tertampak di ujung mataku. Ia masih memandangiku saat aku menunduk mengusap air mata yang sudah tak dapat kubendung lagi. Katakanlah aku wanita yang cengeng. Tapi aku sebagai wanita pun memang tak mungkin menangis tanpa alasan.
Ketika dirinya menolehkan wajah ke samping dan menaruh tangannya di belakang pinggangnya, aku berucap dengan tatapan memohon, "sangat tidak adil pak, kalau saya tidak tau alasannya."
Ia kembali membalas tatapanku dengan datar tapi mampu kurasakan tusukannya yang begitu tepat. Kuusap air mataku lagi dengan punggung tangan yang terasa begitu basah sampai tak mempu menghilangkan jejak air mata lagi di pipiku.
Kemudian aku mengunci bibirku rapat, ketika ia berujar, "saya orangtua yang juga ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Gina anak saya satu-satunya. Dan saya akan pastikan bahwa anak saya, akan mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik." Ia mengucapkannya lambat-lambat.
Hatiku seperti di remuk oleh dua tangan. Aku juga merasa punggungku di pukul oleh kayu besar dari belakang. Air mataku meluncur bebas dari sisi kanan dan kiri. Ia mungkin memang tak mengatakannya secara langsung, tapi maksud dari perkataannya itu terdengar begitu jelas di indera pendengarku dan juga perasaanku.
Ia menginginkan Adam untuk Gina.
Seperti itulah maksudnya yang bisa aku tangkap sejauh ini.
Lalu masih dengan berderai air mata, aku memaksa diriku untuk memahami keadaan menyakitkan ini, "saya paham, pak. Saya sangat mengerti."
"Saya dengar dari Gina, kamu salah satu mahasiswi terpintar di fakultasmu. Kamu juga dari keluarga berada, dan sepertinya kamu punya prospek yang bagus."
"Saya bisa dapatkan seorang perwira atau anak pengusaha untukmu, kalau kamu mau, sebagai penggantinya."
Aku mengangguk pasrah sambil terus menyeka air mataku yang mengalir deras. Aku menjeda untuk menarik napas yang bahkan sudah terasa sesak, "saya ungkapkan ini kepada bapak."
"Saya menyukai Adam, meskipun saya terlambat untuk menyadari perasaan saya sendiri."
"Saya akan berusaha untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan, tapi jika bapak yang posisinya juga sebagai orangtua menginginkan dia untuk anak bapak...maka keadaan itulah yang tidak bisa saya langkahi."
"Saya sangat menghormati bapak sebagai orangtua, dan sebagai orang yang lebih tua."
"Saya bukan anggota militer yang mengerti apa posisi dan jabatan bapak sehingga saya harus mengalah dan menuruti karna pangkat bapak begitu disegani. Bukan, bukan karena itu. Saya juga akan menutup mata dengan pangkat apa yang sedang bapak sandang, maka dari itu saya berani untuk berkata seperti ini. Tapi bukan karena pangkat, semua bisa dibeli. Bukan karena jabatan, semua bisa didapat sesuai keinginan kita. Hidup tidak berjalan seperti itu, pak."
"Kenapa bapak tidak tanyakan hal yang sama juga kepada anak bapak? Gina juga sama pintarnya dengan saya. Dan saya juga sangat yakin, tidak ada satupun perwira yang akan menolak Gina jika dia tau siapa ayah dan dari keluarga mana dia berasal."
Aku menyeka air mataku sekali lagi. Menahan isakanku yang sedari tadi seperti memohon untuk dilepaskan. Aku menarik kencang ujung bajuku dan menggenggamnya hingga jika kulepas, sudah pasti nampak guratan kasar yang kusut. Itulah salah satu caraku menahan segala rasa sakitku, rasa sedihku dan rasa sesakku yang berkumpul menjadi satu saat ini.
"Tapi saya benar-benar menghargai bapak sebagai orangtua sahabat saya yang paling dekat, yang mungkin juga sudah merawat Adam sejauh ini—"
Dengan mantap aku berujar, "saya bersedia mengalah untuk bapak."
Habis sudah air mataku saat mengutarakannya. Kalimat yang paling tidak ingin aku ucapkan pada siapapun, akhirnya terucap juga. Meskipun rasa sakit, tidak ikhlas, dan aku seperti ingin pingsan lagi saat mengatakannya, kini memang sudah terlanjur diucapkan. Dan tak mungkin lagi bagiku untuk menariknya kembali.
Aku bukanlah orang yang baik. Hanya saja, aku sedang belajar menjadi baik. Termasuk merelakan salah satu harapan untuk masa depanku.
Cukup lama ia menatapku sampai akhirnya ia berkata, "kamu boleh berbicara dengan Adam setelah saya."
Lalu ia berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Menyisakan aku dan pikiranku yang terus saja bertubrukan dan dipenuhi dengan tanda tanya besar serta rasa khawatir yang semakin menjadi-jadi.
Berbicara dengan Adam setelah dirinya, bukanlah sesuatu yang patut aku banggakan. Aku yakin ada sesuatu di balik kebaikannya yang membuatku menjadi yang pertama setelahnya.
Tapi tetap saja, satu hal yang paling aku khawatirkan dari semua ini, adalah—apakah aku sengaja diberikan prioritas yang pertama sebagai bagian dari yang terakhir? Bagaimana jika memang itu yang ayahnya rencanakan?
Maka ada dua hal yang tak boleh aku lewatkan. Aku minta maaf, dan aku mencintainya.
Aku berjalan gontai tak bernyawa. Entah kemana ayah Gina pergi tapi sepanjang lorong yang aku lewati ini, tak sedikitpun aku mendapati dirinya sudah terduduk atau bahkan berdiri diiringi oleh beberapa ajudannya seperti sebelumnya. Bahkan yang kulihat hanyalah Gina, dan seorang tentara yang sedang berjaga dan tengah bercakap kecil dengannya.
Gina melihatku dari ujung lorong. Ia melambaikan tangan, kemudian tersenyum. Sampai beberapa meter kemudian ia melihatku dalam keadaan kacau ditambah aku yang berjalan melewatinya tanpa meliriknya. Ia berdiri dan senyumnya memudar dengan perlahan. Padahal aku sangat sadar ini semua bukan salah yang diakibatkan oleh dirinya, meskipun memang dia lah penyebabnya. Ia pasti tidak tahu-menahu urusan ini, dan sudah menjadi kewajibanku untuk menutupnya rapat-rapat.
"Rin?" Ia memanggilku dengan suara yang parau dan rendah.
Aku berhenti beberapa langkah di depannya. Aku terdiam sejenak. Mengumpulkan keikhlasanku, lalu aku berbalik menghadapnya, mendekat kepadanya, lalu memeluknya dan menumpahkan separuh rasa sakitku di belakang kepalanya.
Kepalanya bergerak tertahan untuk menoleh , "kamu kenapa?" Tangannya menepuk-nepuk punggungku.
Namun sebelum aku menjawab, aku telah lebih dulu menarik kepalaku dari bahunya.
"Aku kalah."
Ia menatapku dengan terheran-heran, dan dengan wajah yang bertanya-tanya ditambah kerutan dahinya yang begitu dalam. Tapi aku tak ada waktu untuk menanggapinya. Aku sudah benar-benar sesak dan rasanya sudah tidak bisa bernapas. Aku butuh seseorang yang benar-benar bisa kupeluk dan memelukku dengan perasaan yang sama. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti diriku sepenuhnya.
Aku berputar tak menentu, sampai akhirnya aku menemukan pintu keluar sembari berjalan lemas ke arah parkiran, lalu mendapati mas Rayhan yang baru keluar dari dalam mobil seraya memegang air mineral yang sekarang tengah diteguknya. Kemudian aku berlari ke arahnya. Lalu memeluknya dengan amat sangat erat hingga menjatuhkan air yang sempat di genggamnya.
Air itu tumpah. Sama, seperti air mataku juga.
***
Ditunggu banget komen kalian buat chapter ini♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Alasan [HIATUS]
Romance"Apakah sebuah kesalahan jika saya memiliki profesi dengan seragam seperti ini? Saya mencintai negara saya, dan saya berusaha untuk menjaga negara ini seperti apa yang saya lakukan sekarang, bersama seragam ini. Lalu tidak bisa kah saya melakukan ha...
![Satu Alasan [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/189363851-64-k203339.jpg)