"Kita yang berjuang, jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan, atau gaji yang tinggi."
- Supriyadi
⚓
|Arin Pov|
Aku membelalakkan mata lagi untuk yang kesekian kalinya. Entah sudah berapa ratus kali aku terkejut hari ini. Sangat banyak kejadian-kejadian yang tak pernah kubayangkan akan terjadi hari ini. Beruntunglah aku yang tidak memiliki riwayat lemah jantung.
Karena saat ini, aku teramat sangat terkejut.
Terlebih lagi, aku tak mampu berkata-kata. Terlalu banyak yang harus aku pertimbangkan. Terlalu banyak yang harus aku pikirkan. Aku benar-benar bingung. Terutama, ada beberapa teman satu kelasku yang juga menyukai Bagas setengah mati. Tapi sebenarnya, itu tak akan jadi masalah.
Baik. Sejak kapan Bagas mulai menyukaiku? Bahkan Bagas sendiri pernah mengatakan bahwa aku adalah wanita tercerewet nomor dua setelah tantenya. Lalu jika marah, aku bahkan lebih mengerikan daripada seekor buaya yang sedang kelaparan, dan jika menatap, Demi Tuhan! Tatapanku bahkan lebih tajam dari parang untuk menyembelih sapi qurban katanya. Dan aku akan selamanya tetap menjadi seorang temannya, ditambah ia tak akan pernah mengubah itu, katanya.
Dan setelah ia mengatakan segala macam hal-hal menyakitkan itu, Bagas masih berani menyatakan perasaannya yang berkebalikan dengan janji bodohnya? Omong kosong macam apa ini sebenarnya?
Aku cepat-cepat mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadaran akan ucapan Bagas si bocah kasar itu tepat saat tujuh tahun yang lalu. Ucapannya tak hanya melukai hatiku, tapi juga perasaanku. Bahkan setelah tujuh tahun itu rasa sakitnya masih bisa kurasakan hingga ke ujung ubun-ubun dan meresap hingga ke usus halusku.
"Aku nggak bisa Gas."
Ia terdiam sejenak, "kenapa?" dengan lambat ia bertanya. Juga bersama ekspresi setengah tak percayanya.
Aku tak menjawab. Aku malah sibuk berpura-pura sedih dan menyesal untuk mengelabuinya.
Pak Junet! Bukannya aku yang seharusnya mendeteksi kebohongan si lawan bicara? Mengapa malah aku yang berbohong dan berpura-pura?
Aku seharusnya tak memperhatikan bagian itu saat dosen menjelaskan.
"Kenapa, Rin?" Kini Bagas meraih tanganku. Menatapku dengan mata yang memohon belas kasihan.
Aku menghela napas. Mencoba mencari alasan yang tepat untuk memperkuat pertahananku saat ini. Dan agar semua drama gila ini juga segera berakhir, lebih tepatnya.
Jujur, aku tak pernah suka dengan segala surprise yang menurutku aneh dan lebay seperti saat ini. Terlalu berlebihan untukku yang penyuka sesuatu yang lebih sederhana dan tidak terlampau heboh seperti sekarang. Serta bagian terbesarnya, jangan lupakan genggaman Bagas saat ini, bahkan terlampau memaksa hingga tulangku yang seperti diremuk.
Sekali lagi, Aku harus waras. Jangan terlena untuk segera mencakar, menendang dan menempeleng wajah Bagas. Ingat Rin, seorang psikolog tidak boleh menyiksa pasiennya.
"Maaf Gas tapi—" Aku terhenti sejenak dan mengkerutkan dahi, karena aku melupakan alasan apa yang akan kugunakan untuk menolaknya.
"Tapi apa Rin?" Aku mengernyit.
Demi semua duyung yang ada di laut mati! Hentikan wajah absurd yang sedang kau pertontonkan kepadaku, Bagas!
Andai saja aku bisa mengatakannya.
Aku masih mencari apa tadi alasan yang sempat terpikirkan sampai tiba-tiba aku tak sengaja menolehkan pandanganku ke arah jalan, di bawah. Di seberang sana.
Aku memelototkan mata dan menggeser posisi duduk menjadi lebih sedikit ke depan.
MIRIP SEKALI!
Oh—oh Jangan! Jangan dia! Jangan si loreng itu sebagai alasannya! Tidak! Tidak! Jangan Adam si loreng itu! Apa?! Kenapa sekarang aku juga mengingat namanya, Demi nenek! Tidak!
Tapi apa lagi? Tunggu! Mengapa bisa-bisanya aku sempat memikirkan dia? Oh nenek! Ibu! Mas Rayhan! Aku harus menjawab apa?
Baiklah. Sekali ini saja.
"Tapi aku udah suka sama orang lain."
Mendengarku mengatakannya, Ia tercengang. Aku tau jawabanku itu akan membuat Bagas terkejut. Memang tidak adil, tapi aku yang mengatakannya pun juga ikut terkejut. Aku tak percaya aku sudah mengatakannya. Bahkan aku bisa memikirkannya pun aku benar-benar terkejut sampai ke sendi-sendi engsel yang ada di tubuhku.
"APA?! SIAPA, RIN?!" Genggamannya menguat.
"M—maaf Gas. Kayanya ini udah kesorean deh, aku lupa kalo harus beli bedak untuk kembang keringat nenekku. Bye!" Jelasku agak terbata-bata. Karena fokusku yang sedang terbagi dua antara berbicara omong kosong dan berusaha melepaskan genggaman bagas yang sebenarnya lebih tepat jika disebut dengan cengkraman.
⚓
|Adam POV|
"Taruh disini aja dulu, ntar malam baru kita bakar." Kata Agus begitu kita bertiga sampai di asrama.
Aku mendengarnya. Tapi aku tak menoleh kearahnya. Aku masih sibuk memikirkan wanita di kafe tadi. Sedangkan Agus sedang berjongkok dan sibuk menyiapkan arang untuk membakar ikan.
Kemudian aku menyenderkan joran pancingku di tembok samping gudang penyimpanan, tetap dalam keadaan tak melihat kemana arah aku menaruhnya.
Aku hanya menatap lurus kedepan. Melamunkan Ia yang tadi secara tidak sengaja terlihat olehku belum sampai setengah jam yang lalu. Benarkah itu dia? Si wanita angkuh yang pernah aku kecewakan satu tahun yang lalu? Sebenarnya aku tak melihat dia dengan jelas, tapi entah mengapa aku yakin. Sangat yakin!
Tiga detik kemudian...
BRAKKK! Bugh!
Aku terkejut dan seketika tersadar dari lamunanku, karena Rahman memukul betisku kemudian mengusap-usap kepala berambut cepaknya. Aku tak tau jika ia juga ikut berjongkok disana dan joranku jatuh tepat mengenai kepalanya. Kebetulan ia juga baru berjongkok membantu Agus menyusun arang dan kayu-kayu.
"Sorry—sorry." Kataku tertawa-tawa bahagia sambil meneleng kepalanya. Lalu Rahman mengambil joranku dan melemparnya ke sembarang arah. melihatnya, aku tertawa terbahak-bahak, kemudian disambut cengiran dan gelengan tak jelas dari Agus.
Drrreett...Drrreett...
Tawaku surut. Ponsel yang ada di kantung celana pendekku bergetar. Langung saja aku merogoh kantungku dan mengambil ponselku yang bertengger disana. Sebenarnya aku juga mengharap-harap cemas agar bukan pesan dari senior atau atasan. Pasti akan sangat mengganggu acara bakar ikan kami.
Oh rupanya SMS. Oke, ini dari nomor yang tidak kukenal. Dengan berat hati, aku membukanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Alasan [HIATUS]
Storie d'amore"Apakah sebuah kesalahan jika saya memiliki profesi dengan seragam seperti ini? Saya mencintai negara saya, dan saya berusaha untuk menjaga negara ini seperti apa yang saya lakukan sekarang, bersama seragam ini. Lalu tidak bisa kah saya melakukan ha...
![Satu Alasan [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/189363851-64-k203339.jpg)