PART 35

128 45 11
                                        

"Jagalah tiap tutur katamu, jangan sampai perkataanmu itu mampu, melukai perasaan orang lain bahkan dirimu."
................

"Rev, kamu sama Fino udah kenal lama?" tanya Kyra, yang kini sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk pulang.

"Udah lama sih, sejak kami kecil, soalnya Bokapnya Fino itu sahabat baiknya Bokap Gue dari mereka SD, btw kenapa emangnya Ky?"

"Anaknya apa emang gitu yah? Cuek terus suka berantem kalo di sekolah?" Ucapnya to the point.

"Lu tadi liat dia berantem yah?" tanya Revina membuat Kyra langsung membelalakan matanya kaget. Bagaimana Revina bisa tahu bahwa ia memang menyaksikan perkelahian tersebut.

"K-kok kamu tau?'

"Gak usah kaget gitu, santai aja, tadi gue sempet papasan kok sama dia pas gue mau ke kantor kepala sekolah." jelasnya. "Hum ... dia baik kok anaknya, baik banget malahan sama semua orang, dia juga perhatian, care lah pokoknya. Cuman, memang dia cuek ke orang yang baru di kenal!" Jelas Revina panjang lebar. "Klo soal dia sering berantem itu bukan karena dia yang mau atau cari gara-gara, tapi karena kepaksa, kebayakan anak-anak pada ngejelek-jelekin dia" Tambah Revina, membuat Kyra mengernyitkan dahinya.

"Ngejelek-jelekin?" Tanya Kyra, dibalas anggukkan kecil oleh Revina, pertanda bahwa dia mengiyakannya.

"Hum ... jadi gini Ky ceritanya. Dulu, Alfino itu anak dari kerabat jauhnya Nyonya Elin, ibu angkat Fino yang di diagnosis oleh dokter tidak bisa memberikan keturunan. Karena Tuan Edward Aldivaro, merupakan anak tunggal sekaligus pewaris tunggal Keluarga Aldivaro. Jadi mereka pun mengangkat Fino sebagai Putra mereka, untuk mewarisi harta keluarga Aldivaro kelak setelah ayahnya Tuan Edward wafat. Dan entah mengapa lama-kelamaan, tiba-tiba saja berita itu nyebar kemana-mana, yang membuat semua orang pun memandangnya sebelah mata. Tak jarang, ada yang menghinanya dengan sebutan, anak pungut, anak sampah, anak buangan, anak haram, anak yang gak di harapkan, anak numpang tenar dan nama, pokoknya banyak deh julukkan-julukkan menyakitkan lainnya" jelasnya sepanjang perjalanan.

Kyra hanya mendegarnya penjelasan Revina dengan sasakma, ia terus memandangi Revina yang sedang asik bercerita, tanpa memotongnya sedikit pun.

"Terus orang tua kandungnya Fino kemana?" tanya Kyra penasaran.

"Kalo soal itu, gimana yah ngomongnya, mending Lo tanya langsung aja deh sama si Fino, Gue gak enakan sama Fino kalo cerita." ujar Revina seperti enggan menceritakannya. "Tapi sepanjang gue kenal Fino, dia orangnya gak kaya gitu kok, sejak kecil dia orangnya mandiri. Dia umur yang masih muda aja dia udah bisa buka usaha sendiri, yang dimana nantinya keuntungan yang dia dapat,bdisumbangkannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan anak panti"

"Makasih infonya Rev!"

"Btw toko sparepart tadi punya dia loh!" Lanjutnya, dengan mata yang masih terfokus menatap jalan.

"Eh beneran, toko tadi punya Fino?" ucap Kyra takjub, diiringi dengan anggukkan kepala oleh Revina.

"Dia ternyata orang baik yah, aku sudah salah menilainya" ucap Kyra dengan nada bersalah.

"Kamu kenapa? Kamu gapapa kan?" tanya Revina yang bingung dengan perubahan ekspersi wajah Kyra saat itu.

"Eh ... gapapa kok, cuman kepikiran pelajaran tadi pagi aja!" ucapnya berbohong.

❄❄❄💮❄❄❄

Pagi ini, Kyra sudah benar-benar memantapkan hatinya dengan se-yakin yakinnya, ia sudah siap untuk bertemu dengan Fino. Hanya sekedar ingin meminta maaf kepadanya, atas perkataannya kemarin, yang mungkin dapat melukai hatinya.

Ia mulai berjalan, menuju ke arah, dimana kelas Fino berada. Sejak semalam Kyra terus memikirkan kata-kata apa yang pantas ia katakan nanti jika bertemu dengan cowok itu, agar kata-katanya itu tidak dapat menyinggung perasaannya.

"Permisi, saya mau tanya, Fino udah dateng belum?" tanyanya, kepada siswi perempuan yang sedang menyapu itu.

"Fino?" tanyanya dengan tampang yang tidak suka, ia menatap Kyra dengan sangat teliti, dari bawah hingga ke atas rambutnya. "Emang ada perlu apa lo cari dia?" ujarnya ketus.

Beruntungnya Kyra. Saat ia hendak menuju ke kelas Fino, secara kebetulan ia berpapasan dengan seorang guru laki-laki, yang menitipkan dirinya sebuah surat untuk Fino. Sehingga, memudahkan ia untuk mencari-cari alasan, untuk bertemu dengan cowok itu.

"Hum ... anu, itu aku mau kasih surat titipan Pak Baron ini ke dia!" Jawkabnya, menyondorkan sebuah amplop putih, dengan stempel organisasi basket diatasnya.

"Owh .... cari aja sana di warung bi Inem, biasanya dia ada di situ!" tunjuknya kepada Kyra.

"Warung bi Inem?" tanya Kyra, mengernyitkan dahinya bingung.

"Iya, warung belakang sekolah!"

"Owh, ya udah kalo gitu, termakasih!" Ujar Kyra, yang langsung melangkahkan kakinya menjauh.

Hai Reader's...!
Dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara vote dan komen, biar mimin tambah semangat ngelanjutin part selanjutnya
Votenya gratis kok jadi,jangan pelit-pelit yah
Klo ada yang typo komen atau DM yah ! biar nanti mimin author perbaiki
See you...gais
Selamat baca part selanjutnyanya 😊

WISH STONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang