6. Senjata Makan Tuan

16.9K 1.4K 42
                                        

Nesta kesal setengah mati. Bayangkan saja, kalau setiap kali dia buat masalah dipotong 20%--lima kali salah sudah habis gajinya

Makin parah dengan kontrak kerja yang menyatakan kalau dia tidak boleh mengundurkan diri sebelum masa kerjanya habis. Kalau tidak, denda tiga kali lipat gaji.

Ingin rasanya Nesta keluar dari kantor yang tidak manusiawi begini.

Diingat-ingat nanti jam 10.00 ada rapat pimpinan. Itu berarti Nesta ada kesempatan untuk membalas Viano.

Lihat saja, bosnya yang sombong minta ampun itu nanti akan merasakan akibatnya!

Masa bodoh kalau dipecat itu lebih baik, daripada menjadi budak di sini. Masih banyak tempat kerja yang mau menerima Nesta. Lagipula, dia bisa dapat pesangon besar.

Baru susun rencana, Nesta tanpa sadar menyeringai sendiri. Makin dibayangkan, makin seru. Viano bakal 'tewas' kali ini.

Lusi yang baru sampai kantor, terheran-heran melihat tingkahnya. Office Girl baru tersebut, tidak sadar kalau sedang cengar-cengir sendirian. Lusi pikir, Nesta kurang waras.

"Ngapain kamu ketawa sendiri?" tegur Lusi.

Nesta terlonjak kaget. "Ibu kebiasaan, deh, suka nongol tiba-tiba. Bikin saya kaget."

Curiga, nih, Nesta. Jangan-jangan, Lusi punya ilmu meringankan tubuh. Pasalnya, tiap kali dia datang, Nesta tidak sadar. Tahu-tahu sudah ada di depan muka.

"Saya juga males negur kamu!"

Nesta memberengut. Memang, serendah apa dia di mata Lusi?

"Yah terus, kenapa Ibu negur saya?"

"Karena saya liat kamu, cengar-cengir sendirian!"

"Yah, nggak apa dong, Bu. Saya koprol-koprol juga, itu hak saya."

Meski kesal setengah mati, semua yang dikatakan Nesta benar.

Detik selanjutnya, Lusi mengibas tangan di depan wajah Nesta memamerkan kukunya yang baru di cat warna merah terang. Kontras sekali dengannya, yang tampak kucal dengan kain pengelap kaca.

"Kayaknya kamu harus periksa ke psikiater, deh! Masalahnya udah beberapa kali kamu sering maracau sendirian." Lusi melenggang pergi setelahnya.

Waktu Lusi punggungi Nesta dan semakin menjauh, dia tirukan gaya sekertaris sok cantik itu. Lagipula, Nesta bingung, kenapa Lusi kelihatan benci dengannya?

Salah apa Nesta dengannya, sampai-sampai Lusi harus terus mengganggu.

♥♡♥

Jam 10.00 rapat dimulai. Nesta membuat kopi untuk rapat dibantu karyawan yang lain. Setelah kopi dan snack siap, mereka antar ke ruang rapat.

Sampai di sana. Nesta perhatikan, Viano duduk di posisi utama. Dia sibuk dengan pekerjaan. Matanya hanya fokus pada laptop sampai tidak sadar kalau ada orang yang paling dibencinya--Nesta.

Masuk pelan-pelan, Nesta kemudian meletakkan kopi di depan Viano.

Ada Lusi dan pimpinan lain. Saat Nesta, menaruh kopi milik Lusi, Viano mendongak.

CEO Taruna Corp, mengamati sekitar, para pimpinan lain sudah meminum kopi mereka.

"Lusi, kopi kamu sudah diminum belum?" tanyanya.

"Belum, Pak."

Viano merasa lega. "Kalau gitu, tukar kopi kamu dengan punya saya!"

Lusi tercengang. "Apa? Ditukar, Pak?"

Arrogant vs Crazy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang