Lusi melihat mobil Viano keluar dari area parkir. Hari ini, tidak ada jadwal makan siang atau rapat di luar. Mau ke mana jadinya?
Kebetulan, saat mau menggandakan berkas, Ivan baru mau masuk ke ruangannya.
"Ivan!" Matikan mesin fotocopy, Lusi menghampirinya.
"Pak Viano keluar ke mana dia?"
Ivan mengangkat pundak. "Saya nggak tau."
"Dia nggak bilang sama kamu?"
"Lah, yang sekretaris Pak Viano, 'kan, kamu?" Tunjuk Ivan pada Lusi.
"Hiih, nggak penting!"
Ivan berjengit. Dikasih tahu malah marah-marah.
Lusi kayaknya kena karma dari marah-marahnya. Kaki dia keserimpet sendiri, sampai nyaris jatuh.
Untung ada Ivan super hero KW yang sigap menolong.
Lusi pikir dia bakal terjungkal, nyatanya Ivan malah menangkap tubuhnya.
Berkas-berkas yang dipegang Lusi bertaburan di lantai, sementara tubuhnya masih dipegang Ivan.
"Hati-hati," ujar Ivan yang membuat Lusi buru-buru mengakkan tubuhnya.
Sibuk rapikan penampilan dulu, lupa sama berkas yang berantakan.
"Aduh, jangan sampai kamu ulangi perbuatan gitu lagi, ya! Sampai Viano lihat, dia bisa cemburu."
Ivan mengernyit. Urusan hati Viano, apa hubungannya sama dia?
Ini kantor, kebanyakan yang jenius lama-lama pada keblinger semua. Mending ngobrol sama Nesta yang sableng sekalian.
♥♥♥
"Tante, Viano pergi lagi, nggak bilang sama Lusi." Sambil merengek ceritanya. Dia sedang menyendiri di kantin kantor. Makan siang sembari menelepon Garseta.
"Udah pasti, dia nemuin si OG itu. Apa, sih, cantiknya itu anak. Dekil, cuma OG pula!" Curhat sekalian ghibah.
Garseta mendesah. "Nanti Tante yang bilang sama Viano."
Lusi misuh-misuh. Kesal, dong. Saingan sama cewek kasta rendah, masa dia kalah?
"Sabar dulu. Minggu depan ulang tahun Tante, sekalian meresmikan pertunangan kalian. Kalau sudah diumumkan, Viano nggak mungkin macam-macam."
Soal tunangan, Lusi jadi punya ide bagus.
"Tante, untuk acara minggu depan, kita undang aja Nesta."
"Apa? Jangan mengada-ada. Pesta Tante untuk kalangan atas, Lusi. Apa kata teman sosialita Tante kalau tau Viano punya kenalan mantan pesuruh di kantornya."
"Aduh, Tante ...." Lusi sedikit gemas. "Kita undang dia, bukan untuk dijamu. Tapi, untuk bikin Viano sadar."
"Maksudnya?"
Lusi menyampaikan isi kepalanya pada Garseta. Dia juga terus meyakinkan kalau cara itu lebih baik agar Viano mau membuka mata.
"Gimana, Tan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arrogant vs Crazy
PoetryCari duit tidak segampang yang ada di drama atau novel. Dalam dunia khayalan, perempuan bisa jadi 'barang mahal' yang diperjuangkan habis-habisan sama CEO atau jadi mujur dengan dinikahi paksa sama tuan muda tampan kaya raya. Dunia nyata tidak begi...
