41. Kenapa pada Tegang?

8.9K 963 39
                                        

Viano lihat mamanya sendiri kenapa kayak lihat setan?

Padahal, ya, dibanding-banding sama setan, Nesta pikir Viano jauh lebih menyeramkan. Secara, kalau setan cuma bisa menakuti pakai tampilan doang, sementara dia bisa menakutkan dengan berbagai cara; potong gaji, jitak kepala, sumpal permen karet, memelotot. Banyak pokoknya.

Raja meraih tangan Nesta, kemudian menyembunyikan kepalanya di sana. Ini juga si bocah, kenapa malah ngumpet?

Biasanya anak kecil kalau ketemu neneknya malah senang, kenapa jadi ikut takut?

Viano mendekati Garseta bertanya dengan nada was-was.

"Mama mau apa di sini?"

"Sama seperti kamu," jawab Garseta, dingin.

lambat laun terasa bau-bau ketegangan di sini. Semoga saja, mimpi Nesta tidak jadi kenyataan. Di mana Lusi datang, marah-marah sambil jambak rambutnya.

Idih ogah! Jauh-jauh, deh! Nesta membatin.

"Mama tau dari mana, Viano ada di sini?"

Garseta menyimpulkan senyum. "Memangnya, harus Mama jawab pertanyaan kamu, Vi?"

Suasana makin lama makin tidak enak, Viano akhirnya mengajak mamanya keluar. Raja menggenggam tangan Nesta lebih erat.

Terkesan terburu-buru Viano pamit pada kepala Panti untuk pergi. Dia pun meletakkan tangan di pundak Garseta seakan-akan mengajaknya keluar juga.

Nesta dan Raja mengikuti dari belakang.

Kelihatannya Viano tidak nyaman ada mamanya di sini. Memangnya, semenakutkan apa, ya?

Mobil mereka diparkir di luar gerbang panti karena halaman dalam kurang cukup luas.

Saking mereka buru-buru sampai-sampai kepala panti dan yang lain tidak mengantar keluar.

Garseta menghempas tangan Viano. "Kenapa setiap Mama mau ketemu dengan kamu, kesannya kamu seperti mengusir Mama!"

"Viano bukan mau mengusir Mama. Cuma, setiap kita bertemu di waktu yang nggak tepat, ujungnya jadi ribut."

Garseta menghela napas. "Kenapa kamu nggak ajak Lusi ke acara ini?"

Viano memijit kening. "Lusi ngadu sama Mama? Dia terlalu kekanak-kanakan, hanya karena Viano nggak mau ajak, dia sampai harus cerita segala ke Mama."

"Wajar, Vi!" Garseta menyentak. "Dia itu calon istri kamu. Harusnya kamu lebih sering pergi dengan dia, bukan sama orang lain."

Nesta dengar waktu Garseta bilang Lusi adalah calon istrinya Viano. Gawat, bakalan jadi nyata mimpinya. Nesta bakalan jadi pelakor kalau beneran naksir sama si Bospret.

"Jangan terlalu percaya diri dulu, Ma. Lusi sama Viano nggak pernah punya hubungan apa-apa kecuali sebatas rekan kerja."

"Kalau gitu, kamu sama seperti Aldi yang menentang Mama!"

Nama Aldi disebut-sebut lagi, Nesta penasaran, siapa cowok itu. Kenapa kelihatannya dia jadi topik utama di sini.

"Viano nggak sama dengan Aldi!" tegasnya.

Garseta menggeleng. Kelihatannya sudah cukup penat untuk berdebat lagi dengan Viano.

"Dengan kamu mempertahankan Raja di sisi kamu, kamu menyakiti perasaan banyak orang. Mama, papa, Lusi!"

Viano bungkam tidak berani lagi membantah ucapan mamanya. Diam-diam Nesta menilai Viano. Dia bisa saja garang di luar, tetapi aslinya masuk golongan IATE alias Ikatan Anak Takut Emak.

Melihat anaknya mengatup rapat bibir, Garseta mendecih.

"Kamu bahkan belum bilang soal siapa kamu sebenarnya buat Raja."

Dari bahasa tubuhnya, Viano sedang memohon agar mamanya tidak mengatakan apa pun.

Nesta yang ada di sana jadi bingung harus melakukan apa. Obrolan mereka kurang pantas didengar anak kecil. Nesta putuskan untuk membawa bocah itu pergi. Biar, deh, kalau Viano masih mau debat sama mamanya. Yang penting Raja aman dulu.

"Kalau kamu masih mau menganggap Mama orang tua, tinggalkan anak itu pulang ke rumah, pilih calon istri yang tepat. Jangan dekati gembel sama seperti yang dulu Aldi lakukan!"

***
Raja sudah aman sama Nesta. mereka melipir dulu beli es kelapa muda. Kebetulan kedainya tidak jauh dari panti.

Duduk bersama menikmati minuman, Nesta mulai tanya-tanya soal siap siapa Garseta.

"Dia omanya Raja," jawab Raja polos.

Nesta masih merasa aneh, misalkan benar itu omanya Raja, kenapa dia malah takut?

"Oma kamu galak, ya?"

Raja manggut-manggut. "Oma nggak suka sama Raja."

"Hah!" Nesta tersentak. Masa, sih? Hal yang paling tidak mungkin menurutnya karena mau dinilai bagaimanapun Raja anak yang baik, sopan pintar, dan tidak banyak tantrum. Kok, bisa mamanya Viano tidak suka dengan dia?

"Oma pernah bilang, kalau Raja bukan anak papa."

"Ya Robbi!" Nesta memekik. serius sekejam itu?

"Tapi, Raja tau kalau oma bohong. Raja anak papa. Papa bilang Raja ditemuin di dalam semangka."

"Eh?" Nesta mengernyit bingung.

"Raja anak papa dari semangka," tandasnya polos.

Miris dan terenyuh rasanya hati Nesta. Viano bisa saja akal-akalan buat bohongi anak kecil.

Jadi, Raja anak siapa sebetulnya?

Jadi, Raja anak siapa sebetulnya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arrogant vs Crazy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang