50. Kalian Kenapa?

8K 807 36
                                        

"Kalian kalau mau buat Mama pusing, baiknya jangan datang ke sini." Garseta memijit pelipis. Dia menggeram, lantaran anak dan calon menantunya harus berdebat di depannya.

Sempat memelotot pada Lusi, Viano kemudian mendelati mamanya.

"Istirahat, jangan banyak pikiran."

"Gimana Mama nggak banyak pikiran, kalau kamu terus-terusan bangkang ucapan Mama."

Raja yang ada di sebelah Garseta berpindah tempat ke belakang Viano. Dia genggam baju papanya cukup erat.

"Viano sudah turuti mau Mama, jangan bersikap begini."

Garseta yang sudah berbaring, kini bunag muka dari Viano. "Bilang kalau kamu nggak niat, Vi."

Lusi yang ada di sana, ingin tersenyum puas.

Rasakan! Suruh siapa sibuk membela Nesta.

Sementara Viano cukup berusaha menguatkan hati menghadapi kelakuan mamanya dan Lusi.

"Lusi minta maaf, Tante." Gadis itu mendekat dan memasang wajah sok lugu. Pandainya dia mencari perhatian.

"Bukan salah kamu."

"Lusi cuma kecewa kalau Viano malah lebih dekat dengan orang lain yang jelas nggak sepadan."

"Ahh, jangan sedih." Garseta mengusap tangan Lusi. "Viano memang menjengkelkan."

"Oma!" Raja memanngil.

Setelah Garseta menoleh padanya, dia kembali bicara. "Oma sama Tante Lusi, kenapa harus nggak suka dengan Kak Nesta?"

"Raja!" Viano menyentak supaya bocah itu berhenti bicara.

"Kak Nesta baik, dia sayang sama Raja juga sama Papa. Oma harus ketemu dengan Kak Nesta. Kak Nesta bisa apa-apa sendiri, nggak suka nangis juga. Beda dengan Tante Lusi."

Sontak Lusi membulatkan mata. Maksud anak itu, Lusi manja dan cengeng?

"Oma, kenapa malah suka Tante Lusi?

"Raja, jangan ikut campur, Nak!" Viano menyuruh diam.

"Tante Lusi jangan kata-katain Kak Nesta."

"Raja!" Viano bicara cukup keras, sampai seisi ruangan hening.

Seandainya saja ada pemilihan pemenang piala Oscar malam ini, Viano yakin Lusi bisa mendapatkannya.

Dia menunduk, menutup matanya bagai orang yang sangat terpukul.

Viano mengabaikan.

"Kamu kenapa diam, minta maaf dengan Lusi!"

"Ma--"

"Tante Lusi sering nangis, masa kalah sama Raja. Papa nggak suka lihat anak kecil nangis, apalagi tante-tante yang nangis."

Wah, ini jiwa serigala dalam hati Lusi aslinya udah meraung-raung.

"Gimana Papa mau suka sama Tante Lusi?"

Arrogant vs Crazy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang