61. Panggil 'Mas' aja, Gimana

9.5K 856 56
                                        

Malam-malam Viano Kirim pesan ke Nesta. Menyuruh gadis itu keluar keluar dari kamar kosnya.

Nesta sampai berjengit, tumben-tumbenan Viano datang menemuinya. Penasaran. Yang paling penting dari itu semua adalah Nesta bisa melihat wajahnya Viano lagi setelah beberapa jam terpisah.

Buru-buru pakai sandal, dia keluar untuk menemui Viano.

Aduhai, makin tampan saja dia. Makin kesengsem Nesta. Kemeja hitamnya digulung sedikit, tangannya dilipat di dada, bersandar di mobilnya.

"Lama amat!" protes Viano ketika dia melihat Nesta.

Lama dari Hongkong!

Jelas-jelas begitu baca pesannya, Nesta langsung buru-buru datang.

"Bilang aja, Bapak enggak sabar mau ketemu saya.:

"Idih, kepedean!" Viano bergidik.

Nesta tingak-tinguk. Tadinya dia kira Viano menyuruh keluar sebab ada pekerjaan yang mau dikasih atau mau titip Raja karena ada kesibukan lainnya.

Tidak ada Raja dan dia kelihatannya santai-santai saja.

Detik selanjutnya, Viano membuka pintu mobil. Sebentar dia mengambil sesuatu yang ada di dalam.

"Ambil!" Dia memberikan satu buket bunga.

Sebelum menerima bunga tersebut, Nesta malah bertanya, "Bapak habis lewat toko bunga, ya?"

Dasar perempuan tidak punya perasaan. Sudah setengah mati Viano mengumpulkan keberanian untuk memberikan bunga ini, malah dikira habis lewat toko bunga.

"Iya, saya habis dari toko bunga. Kasihan sama yang jual, tokonya sepi. Makanya saya beli!"

"Ambil!" Bunganya ditemplokin langsung ke muka Nesta. Kesal.

Tatap dulu, sebentar hirup aromanya. Ternyata wangi.

Walau sikapnya sangat menjengkelkan, Viano merasa senang Nesta menyukai bunga pemberiannya.

"Bapak medit banget, deh. Udah tau toko bunganya sepi, beli cuma satu. Orang sekaya Bapak, bisa beli banyak."

"Kamu nyebelin!" ketus Viano.

Masa iya sih, dia harus jelaskan kalau membeli bunga itu memang sengaja untuk Nesta? Secara, 'kan, hari ini mereka sudah sama-sama saling mengakui perasaan. Masih juga tidak paham. Kapan bisa 'nyambungnya'.

"Marah melulu."

Nesta bukan gadis sebodoh yang Viano kira. Dia paham, kok, kalau bunga itu memang untuknya. Memang sengaja mau usil. Habis, kangen dengan wajah songong bosnya it

"Ngapain kamu senyum-senyum?"

Ditegur, Nesta malah makin mengembangkan senyuman. "Daripada saya nyosor ke Bapak."

Viano malah menutup mulutnya. "Kamu kalau ngomong sembarangan banget, sih!

Nesta terkikik. Jujur saja, dibandingkan bunga yang ada di tangan, hatinya jauh lebih berbunga-bunga.

"Makasih ya, Pak, bunganya. Saya seneng, Bapak mau nyamperin saya buat ngantar bunga."

Ini Nesta bukan lagi kumat, 'kan?

Ternyata, gadis di depan Viano Ini bisa juga membuat jantungnya bertalu-talu. Sekarang hatinya ikut berbunga-bunga.

"Simpan baik-baik!" Masih menunjukkan gaya angkuh.

"Beres, Pak.Saya jaga ini dengan sepenuh hati. Nanti kirim saya taruh sana di Vas bunga dari Kevin,mditambah air pasti bisa awet selama berapa hari.

Viano memelotot. "Jangan coba-coba kamu taruh bunganya di sana!"

Arrogant vs Crazy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang