31. Bospret Dilema

9.9K 1K 56
                                        

"Keluar kamu, Van!" hardik Viano. Ya salahnya, ditanya sama atasan kasih jawaban yang ngaco.

Masih bersikap tenang, Ivan bisa saja kamuflase. Padahal dalam hati sudah ngikik. "Serius saya, Pak. Kalau kasih yang lain belum tentu dipake, tapi kalau yang itu pasti dipake."

"Yah terus, saya nggak tau ukuran dia!" Viano naik pitam. "Kalau kekecilan atau kebesaran, gimana coba?"

"Tanya dululah, sama orangnya atau Bapak pakai ilmu kirologi alias kira-kira."

Lantaran Ivan bilang pakai ilmu kira-kira, Viano tanpa sadar malah jadi mikirin Nesta.

"Bapak pasti bisa!" desis Ivan.

"Ish!" Viano bergidik. Jijik sendiri dia sama pikirannya. Terus, buat apa juga Ivan semangatin dia?

"Keluar, Van, atau saya pecat kamu!" Serius marahnya.

Ivan tidak tahan lagi, lepas juga tawanya. Si bos memang galak, cuma bukan tipe diktaktor. Masih bisa, kok, diajak bercanda sedikit.

"Kalau ceweknya Nesta, dia anaknya simple, Pak. Bapak kasih aja paket makan siang gratis selama satu bulan. Pasti dia terima."

"Sok tau!" Mata Viano memelotot. "Saya bukan kasih ini ke Nesta."

Mau bohong si bos. Ivan biar kata bukan mata-mata, sudah bisa baca dari gesteur Viano yang di depan marah-marah, tetapi kalau di belakang sering perhatian sama Nesta. Bisa bucin juga dia?

Omong-omong, dia ketuaan tidak, sih, kalau mau bucin-bucinan?

"Ya udah, Pak. Bapak cuma tanya itu aja, "kan?"

"Sudah."

"Kalau gitu, saya mau lanjut kerja lagi."

"Kan saya sudah bilang kamu keluar. Dari tadi kurang jelas?"

Jangan dikira Ivan bakal marah. Tidak, tenang saja. Viano memang hobi, bikin orang kesal sama dia. Kayaknya itu bakat alami yang tidak bisa ditiru siapa pun.

"Permisi, Pak." Ivan keluar.

***

Jam empat sore, Garseta sengaja mendatangi rumah Viano. Sengaja dia datang di jam segitu. Karena Raja pasti sudah di rumah dan Viano belum pulang dari kantor.

"Nyonya?" Mia membungkuk segan ketika dia tahu siapa tamu yang datang. Ketika Garseta melangkah masuk, dia segera membuka jalan.

"Mana anak itu?" tanya Garseta dingin.

"Den Raja?" Mia coba meyakinkan tebakannya.

Garseta berdiri tepat di pusat ruangan, matanya menyapu sekitar.

Mia tanpa banyak bertanya lagi, dengan segera memanggil Raja. Kalau ada yang bisa mengukur, saat ini Mia sangat epat detak jantungnya.

Menghampiri Raja di kamar, Mia menyampaikan pesan duku sebelum menuntunnya ke bawah.

"Nanti, kalau oma tanya sesuatu, Den Raja jawabnya yang baik, ya?"

Arrogant vs Crazy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang