30. Diam-diam Bucin

11.1K 1.1K 97
                                        

"Coba, Papa tanya. Gantengan mana Papa apa si Kevin yang di toko Kak Nesta itu?" Malam-malam, kalau tidak sibuk Viano biasa mengobrol dengan Raja.

Mata bocah kecil tersebut, naik ke atas menatap langit-langit rumahnya sembari membayangkan bagaimana bentukan wajah Kevin.

Setelah ditunggu beberapa detik, jawabannya bikin terkejut.

"Papa itu ganteng, tapi Papa udah tua."

Viano mendelik. Untung saja Raja anak kesayangan, kalau bukan udah dia jitak ubun-ubunnya.

"Masa Papanya dibilang tua." Belum sadar Viano, dia memang jauh lebih tua dari Kevin.

"Papa itu rambutnya udah kayak bapak-bapak. Kalau Om Kevin rambutnya bagus, ke atas semua. Papa yang di kening udah ada kerut-kerut, Om Kevin belum."

"Tapi, Papa tetep yang paling keren, 'kan?"

Raja mengangguk. "Papa itu keren, tapi kerjaannya marah-marah melulu. Kalau Om Kevin itu orangnya baik, sabar. Jadinya, Kak Nesta lebih suka sama dia."

Ya jelas. Kevin lebih santai, ada masalah atau yang tidak beres dia diskusi dulu sama Nesta. Beda dengan Viano, yang debu sebesar biji atom saja bisa mencak-mencak.

"Papa itu bukan marah-marah, cuma kasih tau mana yang bener."

"Kalau Kak Nestanya dimarahin terus, kasian Pa. Nanti bisa masuk rumah sakit jiwa, lama-lama."

"Kak Nestanya?" tanya Viano.

"Papa." Raja mendongak, untuk melihat langsung papanya. Tatapannya polos, tetapi belum tahu saja dia berhasil bikin hati Viano potek.

"Papa, makanya yang baik sama orang jangan marah-marah. Biar Papa kelihatan muda, kayak Om Kevin." Kembali Raja berceloteh. "Kasih hadiah buat Kak Nesta. Dia udah baik, mau temenin Raja, terus Papa marah-marahin juga."

Viano beranjak dari tempat tidur, buru-buru ke kamar mandi. Raja cukup bengong lihat papanya yang main pergi begitu saja.

Di dalam toilet, Viano hadapkan wajahnya ke depan cermin besar. Putar kiri-putar kanan. Lihat baik-baik wajahnya. Apa benar, seperti yang Raja bilang, dia sudah tua?

Tampan. Cermin tidak pernah bohong, kalau wajah Viano tetap tampan.

Buka sedikit baju, otot six pack jelas terlihat.

Miringkan badan, lengannya masih kekar tidak ada gelambir.

Viano lebih mendekatkan wajahnya ke cermin, dia raba-raba sendiri keningya.

Wah iya, setelah diperhatikan memang ada keriput. Kok, baru sadar yah Viano?

Harus pesan cream anti aging!

"Papa!" Pintu kamar mandi diketuk-ketuk. Raja curiga, kenapa papanya lama di kamar mandi.

Viano buka pintu.

"Papa ngapain?" tanya Raja, polos.

Viano melangkah keluar. "Papa cuma mau bersihin muka."

"Raja mau eek!" Masuk toilet, dia tutup pintunya.

Kuping Viano panas. Bahasa aliennya Nesta, menular ke Raja.

***

Esok harinya di kantor, di saat senggang yang sebetulnya tidak senggang-senggang amat.

Buka Google, cari beberapa jenis hadiah yang biasanya disukai wanita.

Beberapa menit menjelajah .....

Basi. Semua sama saja, menyebut; mawar, cincin, berlian, makan malam, tiket liburan sebagai hadiah yang disukai wanita.

Satu kata, TIDAK! Viano tidak mau kasih hadiah model begitu untuk Nesta. Bisa salah tanngap dia.

Saking galau dan tidak konsentrasi, rapat yang dipimpinnya juga jadi sedikit tersendat. Bahkan sesi ganti slide presentase, Viano sempat bengong beberapa detik.

"Mang, bawain saya kopi pahit, ya!" Sepertinya, kopi pahit cocok buat mengurangi sakit kepalanya Viano. Kerjaan menumpuk, ditambah harus kucing-kucingan sama perasaan sendiri.

Ujang tidak pakai lama bergegas membuatkan kopi untuk Viano, dia antarkan ke ruangannya.

Selesai Ujang taruh kopi dan keluar, Viano sesap kopinya.

Peh! Viano lepeh lagi kopinya.

"Kok pait gini, sih!" omelnya sendiri. Tadinya mau langsung telepon Ujang, minta antar gula. Untung, keburu sadar kalau dia tadi yang minta kopi pahit.

Apesnya Ivan, di saat Viano lagi galau begini dia malah harus ke ruangannya. Walhasil, dia lagi yang jadi sasaran untuk bantu Viano keluar dari kegalauan.

"Apaan ini, Van?" Ada berkas yang baru saja ditaruh Ivan.

"Laporan yang Bapak pinta, masa cireng?" sindir Ivan.

Viano mencebik. Makin lama karyawannya pada ngaco. Kalau cireng, Viano kunyah itu berkas.

Ivan mau pergi, ditahan sama Viano.

"Van, kalau mau kasih hadiah ke orang enaknya apa, ya?"

Pertama yang Ivan lakukan adalah menghela napas dulu. Dosa apa dia, sampai setiap kali Viano lagi eror selalu dia yang kebagian untuk meluruskan.

"Apa aja, Pak."

"Kamu jangan males gitu kalau ditanya. Bagi ilmu dikitlah, kamu, 'kan, jurusan psikologi pasti ada ilmunya dikit."

Ivan harus tegaskan. "Saya bukan psikolg, Pak." Tahan emosi dia. "Oke, deh, saya bantu sebisanya."

Senang Viano mendengarnya.

"Itu hadiah buat cowok apa cewek?" tanya Ivan.

"Cewek."

"Simple. Cewek suka sesuatu yang manis. Coklat, bunga-"

"Nggak, deh! Saya nggak mau kalau yang gituan, nanti salah tanggap dia."

Ivan mengernyit.

"Ini tuh, cuma hadiah sebagai tanda terima kasih karena udah banyak bantu saya."

Berpikir sebentar. Kayaknya, Ivan tahu siapa orangnya. Otak iseng Ivan malah aktif.

"Kasih aja yang pasti dibutuhin dia, Pak."

"Saya nggak tau, apa yang pasti dia butuhin, Van."

"Gampang!" Ivan mencetak senyum di bibirnya. "Barang yang saya saranin ini pasti dia butuhin."

"Apa?" Viano penasaran Ivan mau sebut apa.

"Beha sama celana dalem, Pak."

Ivan ketularan sableng sama Nesta, Raja juga wakakak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ivan ketularan sableng sama Nesta, Raja juga wakakak.

Viano bisa ketularan nggak tuh?

Arrogant vs Crazy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang