29 | Afraid

4.3K 388 6
                                        

Vote dulu yuk sebelum baca:)

.   .   .   .   .

Terhitung dua minggu yg lalu Jimin dan Rosé menjadi sepasang kekasih, Jimin senang karena setiap harinya ia dapat dengan bebas memandangi wajah cantik kekasihnya.

Tak jarang pula omelan Rosé memenuhi gendang telinganya tiap hari, semenjak mereka berpacaran Jimin berubah menjadi sangat manja dan manis pada Rosé.

Seperti tidak ingin berjauhan dengannya, tidak membiarkan Rosé pergi sendirian atau semacamnya.

Selama dua minggu ini Rosé mulai memahami sikap Jimin pada dirinya yg merupakan kekasih pria itu. Jimin termasuk pria yg posesif, walaupun sikapnya itu masih dalam batas wajar.

Tapi tetap saja, saat itu Rosé mendapatkan pesan yg berasal dari teman laki-laki nya semasa kuliah, hanya sekadar menyapa dan menanyakan kabarnya saja dapat membuat Jimin cemburu.

Rosé hanya bisa geleng-geleng kepala kalau Jimin sudah cemburu, lalu untuk membujuknya Rosé akan memeluk tubuh Jimin hingga pria itu tidak lagi merajuk padanya.

Setiap pagi, yg pertama Jimin lihat sudah pasti kekasihnya. Sebab, Rosé lah yg selalu membangunkannya.

Tapi hari ini berbeda, Jimin terbangun sendiri karena alarm dari ponselnya berbunyi. Dan tidak biasanya Rosé belum membangunkannya.

Biasanya gadis itu akan membangunkannya pukul enam pagi.

Jimin keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Rosé yg berada disamping kamar miliknya. Dan terlihat lah Rosé yg masih tertidur dengan selimut yg menutupi seluruh tubuhnya.

Jimin menduduk kan dirinya ditepi ranjang gadis itu, lalu menyelipkan helai rambut Rosé kebelakang telinganya. Jimin mengecup pipi Rosé bermaksud untuk membangunkan kekasihnya.

Tapi sesaat setelah ia mengecup pipi Rosé, Jimin menjauhkan wajahnya dan segera memegang kening gadis itu. Hangat, Jimin merasakan suhu tubuh Rosé yg tidak seperti biasanya.

Jimin juga menempelkan punggung tangannya pada leher Rosé. "Tubuhnya hangat."

Jimin tidak membangunkan Rosé, ia membiarkan gadis itu untuk beristirahat. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadinya.

"Yeoboseyo, Dokter Lee."

"Yeoboseyo Tuan Park, ada apa?"

"Bisakah kau datang ke mansion ku sekarang?"

"Tentu saja bisa Tuan."

"Baiklah, kalau bisa secepatnya."

"Baik, akan aku usahakan Tuan."

Jimin memutus sambungan telfon, lalu pria itu mengelus kepala Rosé penuh sayang. "Tunggu sebentar ya, sebentar lagi Dokter Lee datang."

Sesaat kemudian mata Rosé mengerjap pelan, hingga kedua mata gadis itu terbuka sempurna. "Jimin.." Lirih Rosé.

"Kau membuatku khawatir Roséanne." Ucap Jimin dg raut wajah khawatirnya.

Run Away from Them [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang