37 | Is that you?

3.3K 355 47
                                        

Vote dulu yuk sebelum baca

.    .    .    .    .

Rosé menatap pantulan dirinya pada cermin dihadapannya, penampilannya terlihat sangat mengerikan dengan bagian kelopak matanya yang membengkak juga jejak-jejak air mata yang tersisa dipipi nya.

Semalaman ia terus menangis tanpa henti, terus menangisi penyesalannya yang tak kunjung hilang. Hingga akhirnya ia kelelahan dan paginya ia terbangun di apartemen milik Lisa.

Sekarang ia sudah siap dengan pakaian serba hitamnya, waktu pagi menjelang siang itu waktu dimana akan dilaksanakannya pemakaman Jimin.

Ketika ia terbangun dan mengingat apa yang terjadi semalam, gadis itu kembali menangis. Lisa pun terus saja berusaha menenangkan sahabatnya, walaupun jika ia yang berada diposisi Rosé sekarang ia akan melakukan hal yang sama dengannya.

"Rosé, apakah kau sudah siap?" Tanya Lisa setelah membuka pintu kamarnya.

Sebenarnya Rosé sangat tidak ingin ikut ke pemakaman dimana tempat itu akan menjadi tempat peristirahatan terakhir kekasihnya. Tentunya ia akan kembali menangis selama berlangsungnya pemakaman.

Tetapi ia memaksakan dirinya untuk mengikuti acara pemakaman itu, karena disitulah terakhir kalinya ia dapat melihat wajah seorang Park Jimin, pria yang sangat dicintainya.

Gadis itu memaksakan senyumnya. "Aku sudah siap, Lisa."

.

.

.

Nama itu terukir pada sebuah batu nisan yang berada diatas tanah, sang gadis mendudukkan dirinya sembari mengusap batu nisan itu.

"Jimin.. seandainya saat itu aku menuruti kata-katamu, kau tidak akan menjadi seperti ini." Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.

Acara pemakaman Jimin baru saja selesai dilaksanakan, beberapa orang pun sudah mulai meninggalkan area pemakaman kecuali kedua orangtua Jimin, semua teman-teman Rosé, dan juga Rosé tentunya.

In Na mengusap pelan bahu Rosé. "Sudahlah Rosé, jangan terus menyalahkan dirimu. Meninggalnya Jimin bukan karena kesalahanmu, jadi sudah ya sekarang kita pulang saja. Biarkan Jimin tenang dialam sana."

In Na tentunya juga sangat bersedih atas kematian putranya, dulu ia pernah mengalami ini ketika kematian putrinya. Dan sekarang ia harus mengalaminya lagi. Walaupun rasanya sangat susah untuk merelakannya, In Na tetap terus mencobanya.

"Tidak Eomonim, aku ingin disini saja menemani Jimin." Ujar Rosé tanpa berusaha mengalihkan pandangannya.

"Tapi Rosé, kau belum memakan apapun dari kemarin, setidaknya pulanglah sebentar dan makanlah dulu sedikit untuk mengisi perut kosongmu." Jisoo menarik pelan tangan Rosé yang berada digenganggamannya.

Gadis itu menggeleng dan melepas tangan Jisoo dari tangannya. "Aku tidak mau pulang, Eonni. Kalau kau ingin pulang, pulang saja aku masih ingin berada disini."

Mereka terus membujuk gadis itu untuk pulang, namun Rosé juga terus menolaknya. Rasa penyesalannya  menyebabkan ia terus bertahan di samping makam Jimin.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk menunggu Rosé didalam mobil. Beberapa ada yang tidak bisa ikut menunggui Rosé karena mempunyai urusan penting.

Gadis itu kembali menangis sembari menatapi batu nisan dan mengusapnya, fikirannya saat ini dipenuhi dengan rasa penyesalan yang sangat. Seandainya ia tidak memaksa untuk membelikan pria itu makan siang, seandainya ia tidak keras kepala, seandainya ia bisa memutar waktu dan sampai sekarang pasti Jimin masih berada disampingnya.

Run Away from Them [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang