46 | First Night

5K 400 34
                                        

Vote dulu yuk sebelum baca:)

.       .       .       .       .


Setelah berjam-jam terus berdiri selama resepsi yang berlangsung hingga pukul tujuh malam, membuat seluruh orang tak terkecuali Jimin dan Rosé kelelahan.

Untuk malam ini, keduanya tidak langsung berangkat untuk berbulan madu yang sudah ditetapkan di Paris. Melainkan, menginap di hotel berbintang dimana resepsi pernikahan keduanya diselenggarakan.

Lalu disinilah keduanya berada, keduanya memasuki salah satu kamar hotel yang telah dipesankan orangtua mereka. Semua persiapan ini benar-benar hanya kedua wanita paruh baya itu yang mengurusnya, walaupun jujur sangat merepotkan, namun hal itu membuat Ariana dan In Na senang karena dapat mempersiapkan segalanya untuk pernikahan anak-anak mereka.

Walaupun tubuh mereka rasanya benar-benar lelah dan terasa lengket akibat keringat yang sejak tadi mengucur, namun mereka tidak langsung membersihkan diri melainkan berbaring diatas ranjang, saling berhadapan.

Jimin menggeser tubuhnya untuk mendekat pada Rosé, kemudian mendekap tubuh gadis itu dan menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher sang istri.

"Sayang, aku kan belum mandi."

"Hmm, lalu kenapa?"

"Sejak tadi aku berkeringat sangat banyak, sudah pasti sekarang tubuhku bau keringat."

Jimin mengeratkan tangannya yang melingkar pada pinggang sang istri. "Kau tidak pernah bau keringat sekalipun, tubuhmu selalu wangi, sangat wangi sampai-sampai membuatku kecanduan karenanya."

Rosé terkekeh, kemudian balas memeluk dengan melingkarkan tangannya pada leher Jimin. "Benarkah begitu?"

Jimin hanya berdehem pelan sebagai jawaban. Suasana kembali hening namun diselimuti dengan atmosfir ketenangan dan penuh dengan keromantisan.

Suara bel yang berasal dari luar kamar hotel itu dipencet dan menghasilkan suara yang mengusik dua sejoli yang tengah bermesraan tersebut. "Jimin, lepaskan dulu pelukannya. Aku ingin membuka pintu."

"Tidak mau." Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, tidak membiarkan sang gadis terlepas begitu saja darinya untuk membukakan pintu.

"Ayolah Jimin, ini hanya sebentar. Hanya membukakan pintu setelah itu kau bisa melakukan apapun padaku." Ucapan Rosé memberikan sebuah kesenangan dalam diri Jimin, langsung saja ia mendongak, menatap wajah Rosé.

"Benarkah? Aku bisa melakukan apapun padamu?" Tiba-tiba saja tatapan pria itu seperti diselimuti kabut sesuatu, dimana tatapannya tersirat akan hasrat yang muncul ke permukaan.

Rosé menggigit bibir bawahnya menyadari kalau ia sudah salah berucap, dan malah memberikan harapan pada suaminya itu. Dengan ragu-ragu, Rosé mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

Jimin tersenyum lebar sembari bersorak pelan. "Yes!" Pelukan itupun terlepas, Rosé segera bangkit dari berbaring diatas ranjang itu untuk kemudian membukakan pintu utama kamar hotel mereka.

Gadis itu membukakan pintu lalu nampaklah presensi seorang pria yang merupakan karyawan di hotel tersebut menampakkan senyumannya pada Rosé. Yang kemudian dibalasnya. "Apakah kau yang mengantarkan koperku dan koper Tuan Park?"

Pria itu membungkuk sebelum mengangguk untuk menjawabnya. "Ne, Nyonya." Ah, baru kali ini Rosé mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan Nyonya, ya itu karena ia yang baru saja menikah dengan Park Jimin hari ini.

"Terimakasih sudah mengantarkannya." Rosé membungkukan badannya, tindakan gadis itu membuat si pria membulatkan matanya. Merasa tidak pantas.

Pria itu ikut membungkukkan badannya. "Ah tidak usah sampai membungkuk seperti itu, Nyonya."

Run Away from Them [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang