Vote dulu yuk sebelum baca:)
•••
Kedua orang itu masih saja betah bergelung dibalik selimut, dengan posisi saling mendekap dapat menambah kenyamanan pada keduanya, membuatnya enggan untuk beranjak dari ranjang yang rasanya begitu empuk dan memanjakan. Namun, tidurnya harus terusik akibat alarm yang berbunyi dari ponsel milik Rosé, alarm yang dipasang untuk mengingatkannya kalau saat ini adalah waktu untuk Ryujin dan Jaemin memakan makan pagi mereka.
Walaupun rasanya ia masih sangat mengantuk akibat Ryujin yang semalam tidak hentinya menangis hingga tengah malam, sang ibu muda tersebut tetap memaksakan dirinya untuk bangun. Rosé menyingkirkan lengan Jimin yang melingkari pinggangnya, mendudukkan dirinya sebelum tiba-tiba ia ditarik untuk kembali berbaring, tentunya kalian tahu siapa pelakunya.
Jimin mendekap tubuh itu, dengan matanya yang masih terpejam. "Yah, Jimin. Lepaskan pelukanmu." Ujarnya sembari berusaha membebaskan dirinya dari pelukan pria itu. "Tidak akan aku lepaskan." Rosé mendengus, pria ini benar-benar menyebalkan. Jari-jemari si wanita bergerak menarik salah satu pipi Jimin, membuat sang pemilik pipi kontan membuka matanya.
"Akh.. sayang, kenapa kau mencubit pipiku?" Gerutunya dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur. Cubitan wanita itu memang sangat berpengaruh pada Jimin, buktinya, Jimin yang sangat susah dibangunkan bila itu adalah hari minggu langsung terbangun begitu saja.
"Lepaskan, aku ingin memasak untuk makan pagi, Jimin." Walaupun sudah mendapat ancaman secara tidak langsung dari wanita itu, Jimin tetap tidak mau melepaskannya. "Biarkan aku memelukmu sayang, aku sangat merindukanmu." Pria itu bergerak untuk menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher si wanita, bersamaan dengan ia yang mengeratkan pelukannya pada pinggang Rosé.
"Akhir-akhir ini aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, dan kau sibuk dengan Ryujin dan Jaemin. Kita jarang memiliki waktu untuk berdua, Rosié." Rosé menghela nafasnya, membiarkan pria itu untuk terus memeluk tubuhnya. "Terserah kau." Walaupun begitu, Rosé tetap membalas pelukan itu juga dengan tangannya yang mengusap surai Jimin lembut.
Perlahan masing-masing mereka mulai memejamkan mata, menikmati waktu berharga keduanya yang belakangan ini sangat sulit untuk mereka dapatkan. Tetapi, dipertengahan momen itu sayup-sayup terdengar suara yang berasal dari kamar yang berbeda dirumah besar itu. Rosé yang tadinya sempat memejamkan matanya, lekas kembali membuka matanya lebar-lebar. "Jimin, kau mendengarnya?"
Bukannya menjawab, Jimin malah mengecupi leher jenjang si wanita. Rosé yang kesal pada Jimin sebab pria itu tidak menjawabnya, kembali menarik salah satu pipi Jimin. "Yah, jawab pertanyaanku!" Tangan Jimin meraih tangan Rosé yang masih mencubit pipinya, dengan ringisan yang membersamainya. "A-akh, iya sayang. Aku mendengarnya."
"Lepaskan pelukanmu sekarang. Aku ingin ke kamar anak-anak." Dengan sangat terpaksa, Jimin pun melepas pelukannya pada tubuh wanitanya. Begitu terbebas dari pelukan itu, Rosé beranjak kemudian keluar kamar untuk melihat apa yang menjadi penyebab kedua anaknya menangis.
Hampir saja ia tertawa ketika melihat bagaimana posisi Ryujin dan Jaemin yang memang diletakkan pada satu tempat tidur. Rosé mengambil tubuh Ryujin yang tadinya berada diatas tubuh mungil Jaemin, berusaha menenangkan keduanya yang masih menangis keras.
Padahal Ryujin yang menindih tubuh Jaemin tadi, tapi kenapa Ryujin juga ikut menangis? Bahkan, suara tangisan Ryujin lebih keras daripada Jaemin. Saat ia tengah kerepotan menenangkan dua anaknya yang tidak juga berhenti menangis, Jimin datang dengan wajah khas menahan kantuknya, pria itu memaksakan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away from Them [✔]
RomanceTiada hari tanpa perdebatan keduanya, setiap harinya terus saja bertengkar tak ada hentinya. Namun, hal itu juga yang menjadi salah satunya faktor dari tumbuhnya perasaan yang tidak keduanya duga. Seiring berjalannya waktu bisa saja perasaan itu had...
![Run Away from Them [✔]](https://img.wattpad.com/cover/216397356-64-k264896.jpg)