44 | Just wait

3.1K 356 23
                                        

Vote dulu yuk sebelum baca:)

. . . . .

Rosé menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang miliknya. Saat ini ia berada disebuah ruangan yang merupakan kamar miliknya. Setelah bertahun-tahun berlalu, kamarnya ini masih sama seperti dulu.

Setiap harinya, terdapat orang yang membersihkan kamarnya ini sehingga sampai sekarang keadaannya masih sangat terawat.

Ia menatap pada layar ponselnya, menunggu masuknya sebuah panggilan disana. Tapi setelah ia menunggu lama, panggilan itu tidak juga kunjung masuk ke dalam ponselnya.

Gadis itu ingin sekali menghubungi Jimin lebih dulu, kontan ia teringat akan Jimin yang tengah sibuk-sibuknya dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk itu. Rosé tidak ingin mengganggu pria itu.

Ia pun melempar ponselnya ke sisi tubuhnya, menutup matanya menggunakan kedua tangannya. Merasakan rindu itu seketika muncul kembali. Padahal keduanya baru saja bertemu tadi siang.

Ketika dering telfon yang berasal dari ponselnya itu, Rosé buru-buru meraih benda pipih itu. Seketika sebuah senyuman terukir dibibirnya. Ia pun memposisikan dirinya sebelum menjawab panggilan video tersebut.

"Hai sayang."

Yang pertama ia dengar adalah sapaan Jimin dengan suara berat pria itu. Namun bukannya menjawab sapaan itu, Rosé malah memicingkan matanya.

"Jangan bilang, kau lembur lagi dan sekarang kau masih berada dikantormu." Ujarnya penuh dengan nada mengintimidasi.

Jimin tertawa. "Hei, aku baru saja menyapamu. Bukankah kau harusnya membalas sapaanku? Kenapa malah mengomel, hm?" Rosé merotasikan bola matanya. Kemudian berdecak pelan setelahnya.

"Tidak usah mengalihkan pembicaraan Park Jimin."

Disana Jimin menyenderkan tubuhnya pada bangku kerjanya. "Aku baru saja selesai dengan pekerjaanku, tapi aku tidak sedang berada di kantor. Kau bisa lihat sekelilingku, aku berada diruang kerjaku."

"Hmm, aku bisa melihatnya." Ucapnya setelah gadis itu merebahkan kembali dirinya diatas ranjang. Jimin tak lepas menatap layar ponselnya dimana disana terpampang wajah sang kekasih. Hal itu membuatnya tidak berhenti menampakkan senyumannya.

"Ya apakah kau sedang meminum sesuatu?" Seruan itu kembali didengarnya, membuat Jimin tersadar dari lamunannya. Pria itu mengangkat sekaleng beer yang tengah diminumnya.

"Hanya sedikit sayang, hanya untuk menghilangkan penatku seharian bekerja." Namun agaknya, alasan itu tidak membuat Rosé menghentikan niatnya untuk kembali mengomeli kekasihnya.

"Tetap saja Jimin, sedikit saja bisa membuatmu mabuk." Mendengar perkataan itu seketika Jimin tertawa terbahak-bahak. Rosé menatap heran pada Jimin disana yang tengah tertawa. "Mengapa kau tertawa? Dimana letak lucunya?!"

"Apa kau tidak tahu? Aku masih bisa mengendalikan diriku walaupun sudah meminum bergelas-gelas alkohol. Memangnya kau, baru meminum sedikit saja sudah mabuk dan melantur tidak jelas." Gadis itu mendelik, tidak terima dirinya diremehkan seperti itu oleh Jimin.

"Kau meremehkanku?!"

"Tidak Rosié, aku tidak meremehkanmu. Hanya saja, bukankah memang seperti itu kenyataannya? Saat malam dimana kau dan aku menonton bersama, baru meminum beberapa kaleng beer saja kau mulai tidak bisa mengendalikan dirimu."

Rosé berdecak kesal atas omongan pria itu tentang dirinya yang sangat payah dalam urusan meminum alkohol. Memang kenyataan sih, tapi Rosé tidak mau kalah dengan mudahnya seperti itu!

Run Away from Them [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang