Vote dulu yuk sebelum baca:)
. . . . .
Liburan bulan madu tersebut telah berakhir sejak dua minggu yang lalu, keduanya pun telah kembali pada rutinitas seperti biasanya. Namun bedanya, saat ini mereka sudah menjadi pasangan suami istri.
Seperti pagi ini, Rosé tengah membantu Jimin untuk memakaikan dasi pada leher pria itu. Padahal sebenarnya Jimin bisa memakainya sendiri, tapi dengan sikap manjanya Jimin terus meminta Rosé untuk memakaikannya.
"Selesai." Ujar Rosé sembari merapihkan kerah pria itu, dengan senyuman yang tersungging pada bibir ranumnya.
Jimin mengecup sekilas bibir wanita itu. "Terimakasih, sayang."
Berlanjut untuk sarapan pagi lalu berangkat bersama menuju perusahaan dimana keduanya bekerja. Selama dua minggu ini, Rosé masih tetap menjadi sekretaris dari suaminya itu. Jika suatu hari buah hati mereka telah hadir di dunia, Rosé memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.
Hari itu, entah bagaimana bisa tiba-tiba pekerjaan menjadi begitu banyak dan bertumpuk, begitupun dengan jadwal meeting yang harus Jimin dan Rosé hadiri.
Karena itu, keduanya pun pulang lewat dari waktu biasanya. Langkah mereka terasa begitu lelah ketika memasuki rumah, namun sepulangnya dari bekerja Rosé tidak langsung istirahat melainkan membuatkan makan malam untuk ia dan Jimin.
Melihat itu Jimin mendekati istrinya, berniat untuk membantunya. Merasakan kehadiran Jimin disisinya, Rosé menoleh. "Sedang apa disini?"
"Aku ingin membantumu."
Tetapi Rosé menolak bantuan yang Jimin tawarkan, wanita itu menghentikan tangan Jimin yang hendak mengambil salah satu bahan makanan. "Biar aku saja, Jimin. Aku tahu kau lelah."
"Tapi, kau juga sama denganku. Kau juga lelah, jadi biarkan aku membantumu." Balasnya tidak mau menuruti perkataan Rosé.
Rosé tetap menggeleng lalu mendorong tubuh Jimin untuk keluar dari dapur. "Lebih baik sekarang kau mandi, biar aku yang menyiapkan makan malam untukmu. Ini sudah tugasku sebagai istri, sayang."
"Tapi—"
"Tidak ada penolakan."
Jimin tidak mempunyai pilihan lagi selain menuruti perkataan Rosé, jika wanita itu sudah berucap dengan suara tegasnya, seketika sikapnya bisa sama seperti Jimin. Tidak bisa dibantah.
"B-baiklah."
Jimin memasuki kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, beberapa saat setelah ia selesai, pria itu langsung kembali ke dapur. Membantu Rosé yang telah selesai dengan masakannya, membawa seluruh makanan itu ke ruang makan.
Namun ketika keduanya ingin mulai memakan malam mereka, tiba-tiba Rosé merasakan perutnya sangat mual. Dengan segera ia kembali memasuki dapur untuk memuntahkan isi perutnya pada wastafel.
Jimin menghampiri Rosé dengan raut khawatirnya, menekan-nekan tengkuknya lembut. "Ada apa denganmu?" Tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
Rosé hanya menggeleng tidak tahu, ia pun tidak memuntahkan apapun selain cairan tak berwarna. Menyadari gejala kehamilan yang seringkali dikaitkan dengan mual-mual, Jimin tersenyum. "S-sayang, apakah kau hamil?"
Rosé kembali menggeleng, ia benar-benar tidak tahu menahu apa yang terjadi pada dirinya. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat menginginkan apa yang Jimin tanyakan padanya menjadi kenyataan.
"Aku akan menyuruh Dokter Lee untuk datang memeriksamu." Ujar Jimin sebelum ia meninggalkan dapur, namun Rosé menahan langkahnya yang hendak mengambil ponsel miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Run Away from Them [✔]
RomanceTiada hari tanpa perdebatan keduanya, setiap harinya terus saja bertengkar tak ada hentinya. Namun, hal itu juga yang menjadi salah satunya faktor dari tumbuhnya perasaan yang tidak keduanya duga. Seiring berjalannya waktu bisa saja perasaan itu had...
![Run Away from Them [✔]](https://img.wattpad.com/cover/216397356-64-k264896.jpg)