Matahari memancarkan cahaya dari celah-celah dedaunan, mata Ara perlahan terbuka akibat sinar matahari membangunkan tidurnya.
Dipeganglah lehernya yang terasa kaku, oh rupanya tidur bersandar di pundak tidak seenak yang orang-orang bilang, nyatanya saat ini Ara sakit leher.
Masih dalam posisi sama seperti semalam, Ara yang duduk selonjor dan bersandar di bahu Reano dan cowok itu duduk selonjor sembari menggenggam kedua tangan Ara, erat semacam takut kehilangan.
"Udah bangun kamu." kata Reano yang merasakan pergerakan kepala Ara di bahunya.
"Eh.. iya." jawab Ara sedikit grogi.
Gimana tidak? Baru pertamakali ia tidur bersama Reano dalam konteks darurat, bukan disengaja dan hasilnya? Demi apapun tidurnya pulas walau harus sakit leher bangunnya.
"Gimana kaki kamu? masih sakit?" tanya Reano.
"Gapapa kok." jawab Ara.
"Langsung pulang aja lah kita, nggak usah balik tenda. Aku kabari anak-anak bentar, biar mereka bawa motor kesini." ujar Reano mengutik ponselnya.
"Eh eh.. nggak, Re. Kita balik tenda aja." tolak Ara.
"Kenapa? Kangen sama Beni?" balas Reano membuat Ara mengernyitkan dahi.
Pliss masih pagi Reano ngajak war, ga lihat sikon banget anjuy...
"Jangan mulai, masih pagi." sergah Ara, agak malas olahraga mulut pagi-pagi begini.
"Kenyataannya iya kan, kamu selama di camp sama Beni mulu. Kemana-mana sama dia, kesana kesini sama dia." oceh Reano tidak miror bagaimana sikapnya pada Ara.
"Soalnya kamu nggak ada buat aku." balas Ara semakin membuat Reano dongkol.
"Oh jadi gitu, kalo aku nggak ada, kamu sama dia? Oke."
Nahkan kesel sendiri, salah banget ngajak ribut Ara.
"Lagipula aku juga liat kamu makin deket sama Clara." ujar Ara to the point, membalikkan sebuah fakta yang ia rasakan.
"Jadi kamu perhatiin aku." terka Reano merasa menang.
"Kebetulan lihat aja." jawab Ara sembari berjalan meninggalkan Reano.
"Kamu cemburu kan? Alah bilang aja, iya kan? hm?" goda Reano, mensejajarkan jalannya dengan Ara.
"Punya otak kan buat mikir?" kata Ara kesal, sedikit menyesal jadi pacar Reano tapi terlanjur sayang, gimana dong?
"Kalo aku sih yes." tebak Reano.
"Emang iya, nggak munafik." Ara menjawab sambil terus berjalan, membiarkan Reano yang senyum-senyum sinting.
∆∆∆∆∆
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Mawar berniat membangunkan Adrian. Gadis itu hendak mengetuk pintu kamar inap Adrian, tapi pintu terbuka lebih dulu, Mawar berangsur mundur.
"Kenapa?" suara serak khas bangun tidur Adrian menyambut pagi Mawar, membuat jantung gadis itu berdetak kencang.
"Ka.. kamu udah bangun?" tanya Mawar gugup.
Melihat bare face Adrian bangun tidur dengan rambut acak-acakan yang disurai ke belakang demage nya nggak ngotak emang. Mawar belum pernah sedekat ini sama cowok.
Tetap dengan wajah datarnya, Adrian tanpa menjawab melewati gadis itu menuju meja makan homestay tersebut untuk sarapan.
"Ih nyebelin dicuekin, dingin banget sik." gerutu Mawar menatap kepergian Adrian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakboy Kelas Sebelah
Teen FictionWARNING 18+‼️⚠️ Banyak toxicnya & mengandung 18+ Jiwa bar-bar ga masalah, yang qalem banyak-banyak nyebut dahhh "Lo harus tanggung jawab. Udah tiga kali lo nyelakain gue!" Teriak Reano menahan kepergian Ara. "Mau apa lo?" Balas Ara to the point. Se...
