04.00pm
Semua siswa-siswi Savielle berkumpul di tanah lapang yang lumayan luas. Wakil kepala sekolah yang menghimbau acara Studycamp mengumumkan bahwa mereka yaitu murid-murid Savielle harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sesuai peta kurang lebih 45 menit untuk sampai ke puncak kemudian mendirikan tenda disana.
Para ketua kelas sudah berada di depan barisan kelas masing-masing. Reano mengetatkan rahangnya ketika melihat Beni caper kepada Ara, yang dasarnya Beni kelas 12 MIPA 1 barisan kelasnya dekat dengan kelas 11 IPS 1.
Tapi ketika Ara melihat kearah Reano, cowok itu langsung membuang wajah membuat Ara merasa semakin gelisah. Reano begitu dingin. Entah mengapa Studycamp yang ia harapkan realitanya sangat menyakitkan.
Dari jauh-jauh hari Ara sudah berencana menyaksikan indahnya sunset atau sunrise di ujung puncak bersama Reano, agar kelak ia teringat jika ia mempunyai cerita di puncak ini. Tapi sepertinya suasana dan orangnya tidak mendukung untuk melakukan itu.
"Baiklah anak-anak, sesuai yang sudah saya jelaskan tadi, sekarang mari bersiap-siap untuk menanjak sedikit agar kita cepat sampai sebelum petang. Untuk ketua kelas, bagikan peta tersebut masing-masing satu peta dua orang. Untuk pasangan bebas, tapi tetap tertib dan jaga sikap. Ayo bersiap!" ujar Pak Tri selaku Wakasek Savielle High School.
"Hayuuu baby, satu peta sama gue." ucap Juan tiba-tiba merangkul pundak Elga.
"Gak! Gamau gue apa'an." tolak Elga menghempaskan tangan Juan dari pundaknya.
"Pake malu-malu anjing segala. Nggak papa sekarang satu peta, besok-besok satu KK sama gue." kata Juan mengerlingkan matanya membuat Elga berekspresi muntah.
"Huekkk muntaber! Dasar buaya safari." celetuk Elga.
"Enak aja, gue bukan buaya. Reano tuh the king of buaya in the world." sergah Juan tak terima.
Mendengar kata Reano, Ara jadi ingat bahwa cowok itu sama sekali tidak menghampirinya seperti apa yang dilakukan Juan kepada Elga. Sedari tadi ia sibuk mendengarkan pertengkaran antara Elga dan Juan, kemudian matanya beralih mencari sosok Reano yang ternyata sedang santai bersandar di sebuah pohon sembari menghisap rokoknya.
Ara memperhatikan selembar peta di tangannya, kemudian hendak melangkah tapi suara Elga menghentikannya.
"Ara lo mau kemana?" tanya Elga.
"Gue mau kesana bentar. Lo duluan aja sama Juan, gue nanti bareng sama yang lain." jawab Ara benar-benar membuat Juan tersenyum lebar. Cowok itu merasa menang debat dengan pacarnya sendiri.
Setelah mengatakan hal tersebut, Ara langsung meninggalkan keduanya dan berjalan perlahan menuju Reano di sana.
"Tuh dengerin! Ara aja nyuruh kita jalan duluan." ejek Juan. Elga tetap melengos kesal.
"Yaudah kalo lo nggak mau bareng gue. Duluan, Dahhh..." ujar Juan akhirnya.
Dalam hati ia berhitung, menebak Elga akan menyusulnya. 'Satu.. Dua.. Ti.. Tiga setengah.. Ti.. Tiga seperempat.. Ti.. ga..'
"Heh tungguin!" teriak Elga. "Gue sama lo! Awas aja kalo lo macem-macem di tengah jalan."
"Dih, ngarep banget lo gue apa-apain? Hahaha!" balas Juan tertawa keras. Elga mengkerut kesal.
Di samping itu Ara berjalan menghampiri Reano yang sedang asik menghisap sebatnya. Cowok itu tetap tenang walau teriakan guru sana sini menyuruh agar mereka semua segera berjalan naik ke puncak.
"Sat, gue sama Anggie duluan ya. Aga kayanya udah kesana dulu ngusilin si Anggel." kata Agi begitu Ara sampai di hadapan Reano. Cowok itu hanya mengangguk tanpa berkata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakboy Kelas Sebelah
Novela JuvenilWARNING 18+‼️⚠️ Banyak toxicnya & mengandung 18+ Jiwa bar-bar ga masalah, yang qalem banyak-banyak nyebut dahhh "Lo harus tanggung jawab. Udah tiga kali lo nyelakain gue!" Teriak Reano menahan kepergian Ara. "Mau apa lo?" Balas Ara to the point. Se...
