"Gimana, Re?" Tanya Juan saat Reano sudah duduk di bangkunya.
"Ke gep Pak Bima." Jawab Reano santai.
"Lagian kenapa kaga ngomong ke kita-kita sih? Nyelonong sendiri ae lu." Sahut Agi.
"Udahlah, masalah pribadi." Timpal Reano masih santai sembari mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Sepribadi apa sih masalah lo sama si Adrian itu? Palingan juga masalah lama kan yang kaga kelar-kelar." Aga kini ikut nimbrung setelah menyelesaikan gamenya.
"Yaudalah, nggak penting juga." Reano menyahuti malas.
"Yang jelas ini urgent sampai tuh anak berani masuk Savielle. Dia sendirian atau bawa temen-temennya?" Tanya Aga lagi.
"Dia emang nekat. Gue sih bodo amat ya, yang penting gue sama dia urusannya, bukan sama temen-temennya."
"Masih masalah orang tua lo pada?" Kini Juan yang bertanya to the point.
Reano mengangguk. "Apalagi? gue aja males ngeladenin. Padahal dia udah menang."
"Rumit amat masalah idup lo, mati sono. Kesel gue." Celetuk Agi.
"Bareng gue mau ga?" Jawab Reano sekenanya. Agi mendelik.
"Cabut aelah, males sejarah gue."
Setelah mengatakan itu yang disetujui oleh ketiga temannya, Reano dkk tampak bersiap dengan tas yang disampirkan di sebelah bahunya sebelum Bu Risma datang untuk mengisi kelasnya.
∆∆∆∆∆
Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 yang menandakan semua murid Savielle pulang ke rumah masing-masing. Para siswa-siswi sudah berhamburan keluar sekolah begitupun dengan Elga dan Ara yang seperti biasa sudah berada di halte untuk menunggu sopir Elga.
"Ra..." Panggil Elga menghentikan aktifitas Ara yang sedang membalas beberapa orderan GoFood di apk kerjanya.
"Hmm?" Gumam Ara menanggapi.
"Kalo gue nggak salah, tadi liat ada Bang Adrian keluar ruang guru. Lo tau?" Tanya Elga.
Ara hanya menggedikkan bahunya acuh, walaupun ia tahu kakaknya tadi memang berada di Savielle dan dihakimi oleh guru.
"Bukannya lo dari mejanya Bu Risma ya tadi naruh buku sejarah, masa lo nggak tau Bang Adrian disana?" Cecar Elga masih mendesak Ara. Kembali, gadis itu hanya mengangkat bahu acuh.
"Nggak penting juga." Jawab Ara singkat.
"Ih, Ra kok lo gitu sih. Gimana-gimana dia tuh Abang lo." Kesal Elga. Ara jadi ikut kesal juga karena sahabatnya itu terlalu terobsesi dengan kakak tirinya.
"Bukan kakak gue." Peringat Ara. Elga meringis mendengarnya.
"Hehe iya sih, kakak tiri." Koreksi Elga sendiri. "Kayanya dia habis berantem deh, Ra. Gue liat tadi seragamnya lusuh gitu."
"Bukan urusan gue, Elga Aulia Wasesa Arumanegara." Jawab Ara gemas, menyebutkan nama lengkap Elga yang begitu panjang dapat diartikan bahwa Ara sedang kesal pada sahabatnya itu.
TIN!
"Ye, elu. Ya udah sih, gue pulang dulu ya. Jangan marah-marah terus, cepet tua loh. Ingat pesan gue biasanya." Pinta Elga sebelum memasuki mobilnya.
∆∆∆∆∆
Tidak biasanya Adrian dan Reano menjadi beban pikirannya. Ia bahkan akan bersikap bodoh amat dengan semua hal, tapi kenapa ini begitu ganjal dihatinya? Seperti ada sesuatu diantara mereka dan dirinya juga sedang terlibat. Entah ada apa ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakboy Kelas Sebelah
Dla nastolatkówWARNING 18+‼️⚠️ Banyak toxicnya & mengandung 18+ Jiwa bar-bar ga masalah, yang qalem banyak-banyak nyebut dahhh "Lo harus tanggung jawab. Udah tiga kali lo nyelakain gue!" Teriak Reano menahan kepergian Ara. "Mau apa lo?" Balas Ara to the point. Se...
