Elmira mengamati gerak gerik Reksa sepulang dari kerja. Masih sama seperti biasanya, tak ada yang berubah. Lalu kapan waktu yang suaminya gunakan untuk menemui Delia. Pintar sekali suaminya ini mengatur waktu. Benarkah dirinya adalah satu-satunya wanita yang dicintai suaminya. Lalu bagaimanakah dengan kedua istrinya yang lain. Apakah dirinya sudah terlalu egois karena terus menuntut Reksa agar menjadikannya yang utama.
"Sayang ...." Elmira terkesiap saat tangan Reksa membelai pipinya. Ia tak sadar bahwa sekarang ini suaminya sudah duduk di sebelahnya. Padahal sedari tadi ia terus memperhatikan gerak gerik suaminya. Mungkin ia terlalu sibuk dengan pemikirannya.
"Kau dari tadi melamun," sambung Reksa sambil tersenyum.
Elmira tersenyum canggung pada Reksa lalu menunduk memperhatikan perutnya.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Reksa khawatir karena dari tadi Elmira hanya diam sambil terus mengelus perutnya.
Elmira menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Reksa.
"Lalu ada apa?" tanya Reksa.
"Tidak ada ...," sahut Elmira.
Reksa sedikit membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan perut besar Elmira.
"Sayang ... Ibumu kenapa, dari tadi hanya diam." Reksa mencoba berbicara pada janin yang ada dalam kandungan Elmira. Reksa mengusap perut besar istrinya itu. Sesekali ia juga mengecup permukaan perut Elmira.
"Waahh anak ayah aktif sekali!" Seru Reksa antusias saat ia merasa ada pergerakan dari janin dalam kandungan Elmira.
Elmira tersenyum. "Seharian ini dia terus menendang," sahut Elmira.
Reksa menempelkan telinganya, sesekali mengecup perut Elmira selama berulang-ulang.
"Aku sudah tak sabar menanti kelahirannya. Dia pasti setampan dan segagah ayahnya," ucap Reksa.
"Bagaimana jika dia perempuan?" tanya Elmira.
"Aku yakin dia laki-laki, Sayang. Lihat saja, tendangannya begitu kuat." Ucap Reksa, sedangkan Elmira meringis kesakitan saat bayinya menendang begitu kuat.
"Pinggangku sudah terasa sakit." Ucap Elmira sambil mengelus pinggangnya.
"Ayo, lebih baik kau berbaring di ranjang saja." Ucap Reksa lalu berdiri memapah Elmira bangkit dari duduknya.
Elmira berbaring di ranjang. Reksa duduk sejajar dengan kaki Elmira lalu memijitnya perlahan.
Meskipun Elmira tak melakukan aktifitas yang berat tapi kakinya membengkak. Mungkin ini karena efek kehamilannya. Ia juga sering merasa gampang lelah walau tak melakukan aktifitas apapun. Nafasnya pun sudah mulai berat saat usia kehamilannya menginjak bulan keenam.
Elmira, melihat ketulusan Reksa saat memijat kakinya yang bengkak. Ia mengingat selama bersama Reksa, tak sekalipun suaminya ini jengah dengan sikap manjanya yang selalu menuntut. Reksa terlalu sempurna jika disandingkan dengan dirinya.
"Hiks hiks ...." Elmira membungkam mulutnya untuk meredam isakannya.
Reksa terkejut saat tiba-tiba istrinya menangis terisak.
"Ada apa, Sayang? Mana yang sakit?" Reksa mendekati Elmira lalu menggenggam tangannya.
Elmira menggeleng dan malah semakin terisak setelah mendengar nada khawatir dari suaminya itu. Ia menarik tangannya yang berada di dalam genggaman tangan Reksa. Ia lalu memeluk tubuh Reksa dan menangis sesenggukan di dada Reksa.
Reksa bingung, perihal apa istrinya ini menangis hingga sesenggukan seperti ini.
"Ada apa Elmira? Katakan padaku apa yang kau rasakan. Apa ada sesuatu yang melukai hatimu?" Pertanyaan Reksa hanya mendapat gelengan dari Elmira.
Setelah tenang, Elmira mengurai pelukannya. Reksa menghapus jejak air mata yang membekas di pipi Elmira.
"Aku begitu beruntung mendapatkan suami seperti dirimu. Aku sungguh mencintaimu." Ucap Elmira lalu mencium bibir Reksa.
***
Delia melihat jam yang menempel di dinding, sudah lewat tengah malam. Biasanya Juragan Reksa akan menemuinya jika tengah malam seperti ini, menunggu Elmira terlelap dan akan pergi sebelum Elmira terbangun.
"Apa Elmira tak membiarkan Juragan menemuiku? Tapi dia bilang, dia tak marah padaku." Kata Delia sambil berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintunya perlahan. Sepi, tak ada seorangpun yang ada di luar. Ia lalu kembali menutup pintunya.
"Elmira memang tak marah padaku. Tapi ... belum tentu juga dia merelakan Juragan pergi mendatangiku," gumam Delia.
"Aku ... seharusnya aku meminta sedikit waktu Juragan pada Elmira agar Juragan bisa tetap datang menemuiku," sambung Delia dengan raut muka cemas.
"Juragan tidak datang. Mungkin karena Elmira tengah terjaga saat ini." Ucap Delia sambil mendudukan dirinya di tepian ranjang.
Ceklek
Delia mendongak saat pintu kamarnya terbuka. Senyum mengembang di bibirnya kala melihat pria yang ia nanti akhirnya datang menemuinya.
Delia berdiri lalu berlari menyongsong pria pujaan hatinya itu.
"Saya kira Anda tak akan datang, Juragan." Ucap Delia, memeluk erat tubuh kokoh Reksa.
Reksa mengelus puncak kepala Delia. Ia lalu mengurai pelukan mereka. "Kenapa kau berpikir aku tak akan datang?" tanya Reksa.
Delia menggeleng, ia lalu berjinjit agar bibirnya bisa menggapai bibir juragan Reksa. Mereka bercumbu mesra. Dengan perlahan Juragan Reksa mulai melucuti pakaian selir cantiknya ini. Tanpa banyak bicara, Reksa menggiring Delia berbaring di ranjang.
***
Elmira membuka matanya setelah beberapa saat Reksa keluar dari kamar. Saat tadi Reksa keluar pun ia dalam keadaan terjaga tapi ia sengaja berpura-pura terlelap agar suaminya tetap bisa pergi menemui istrinya yang lain. Air matanya keluar begitu saja. Ia bahkan tak tau mengapa ia mengeluarkan air mata seperti ini.
Dirinya tahu, suaminya pasti sedang mendatangi Delia. Ini semua demi kerukunan rumah tangganya. Ia tak boleh egois, ia harus bisa menerima bahwa suaminya bukan hanya miliknya. Ada Delia dan Andini yang juga membutuhkan suaminya.
Elmira berjalan menuju balkon kamarnya. Hawa dingin seketika menusuk sampai ke tulangnya. Ia merasa kedinginan, tapi entah mengapa hatinya terasa panas dan sesak. Ia duduk di sofa sambil memandangi langit gelap bertabur bintang. Ia melihat jam di dinding, ternyata sudah dua jam ia duduk di sini. Saat hendak berdiri tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan jaket tebal di pundaknya.
Elmira mendongak lalu mendapati Reksa lah yang ada di belakangnya.
"Angin malam tak baik untuk kesehatan." Ucap Reksa lalu duduk di sebelah Elmira.
"Kalau begitu ayo kita masuk." Ajak Elmira yang tiba-tiba berdiri dan berjalan mendahului suaminya.
Elmira langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang setelah sebelumnya ia melepas jaket tebal yang ia kenakan. Reksa menyusul di belakangnya.
"Apa kau terbangun lalu menungguku? Tadi aku--"
"Aku sudah sangat mengantuk." Elmira memotong perkataan Reksa karena tahu suaminya ini sedang merancang sebuah kebohongan untuk memberikan sebuah alasan padanya. Ia tak mau suaminya ini merangkai sebuah kebohongan agar dirinya tak terluka.
"Kalau begitu tidurlah." Sahut Reksa ikut berbaring di belakang tubuh Elmira karena saat ini Elmira sedang berbaring miring membelakanginya.
"Aku merasa kepanasan. Bisakah kau sedikit memberi jarak." Ucap Elmira saat tangan kokoh suaminya mendekap tubuhnya.
"Ah?! Maaf ...." Sahut Reksa lalu melepas dekapannya dari tubuh Elmira. Ia lalu berbaring terlentang sedikit menjauhi tubuh istrinya ini. Tapi pandangan matanya tak lepas dari punggung Elmira.
***
27 Agustus 2020
-Silvia Dhaka-
Repost 20 Juli 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Ratu
RomantikDewasa +18 Kisah seorang gadis biasa bernama Elmira Amaria anak seorang petani dari desa terpencil di sebuah pulau yang menjadi ratu di hati sang bangsawan muda nan tampan bernama Raka Reksa Dhanuar. Baru diketahui jika sebenarnya Reksa sudah memil...
