Aku suka miris haha. Cerita aku itu jumlah pembacanya selalu naik loh. Tandanya ada yang baca. Tapi tapi tapi ... kenawhy jumlah vote and komen gitu-gitu aja?
Aku enggak suka sama sekali dengan pembaca gelap seperti itu. Apa susahnya hey cuma pencet bintang sebelah kiri aja?
Maap maap jadi gini:'( benar-benar lagi kesel aja gitu. Tapi yaudah lah ya, capek juga koar-koar gini. Toh, enggak ada guna haha.
Dahlah SELAMAT MEMBACA^^
Semoga suka^^
•••
"Gue nggak suka lo diperhatiin siapapun, cukup gue yang perhatian sama lo."
•••
"Lo yang jadi imam gue kan?"
Renald diam beberapa detik sebelum deheman bernada dari teman-temannya itu membuat ia kembali fokus. Renald memilih acuh, ia mundur untuk mempersilakan Rere berwudhu duluan.
"Cil."
Renald langsung mencekal tangan Rere, ia langsung berada di belakang tubuh Rere. Rere yang heran hendak berbalik, namun Renald mencegahnya. Bahkan sekarang posisinya mungkin begitu dekat dengan Renald, sampai hembusan napas Renald terasa di lehernya.
Sepertinya Renald tidak mempedulikan jika masih banyak anak-anak cowok di sana.
"Lo pendarahan, cil." bisik Renald lembut, seketika mata Rere melotot tajam. Ia mengeratkan genggaman tangan Renald.
"Bercanda--"
"Gue nggak mungkin bercanda," sela Renald cepat.
Melihat ke arah teman-temannya sejenak, menghela napas karena sedari tadi teman-temannya itu bukan wudhu malah menonton dirinya.
"Balik badan sana! Tutup mata! Yang ngintip matanya gue copot!"
Semuanya langsung menurut, bagaikan anjing dengan majikannya. Renald menarik sudut bibirnya, ia langsung menarik Rere cepat menuju luar rumah.
"Ceroboh! Tahu bakalan dateng tamunya, kenapa nggak--"
"Jadwal bulanan gue itu nggak teratur," sela Rere cepat seraya meremas perutnya yang terasa begitu sakit.
"Jadi ini penyebab perut gue dari tadi sakit. Huaa daddy," rengek Rere meremas perutnya, ia langsung mendudukkan dirinya di salah satu motor, dan parahnya itu motor Renald.
Renald menghela napas, jika Rere duduk di sana pasti jok motornya akan terkena percikan darah. Tapi biarlah, Renald malas debat panjang.
"Lebai," desis Renald sembari bersedekap.
Mata Rere melotot tajam, tidak terima jika di katakan lebay. Tidak tahu saja Renald gimana rasanya sakit setiap bulan seperti ini. Rasanya ingin memakan Renald habis-habisan.
"LO YA--"
"Oke maaf."
Renald memilih langsung meminta maaf, ia baru ingat apa kata mamanya itu. Mamanya bilang kalau cewek lagi PMS itu sangat sensitif.
"Sakit banget emang?" tanya Renald mencoba peduli.
"Iya!!! Bangett!!! Gue mau pulang!!!"
"Yaudah sana."
"Renald kan lo supir gue, anterin!"
"Nggak! Sekarang ini panggilan Tuhan gue lebih penting dibanding lo. Gue shalat dulu."
Renald berlalu pergi, meninggalkan Rere yang mencaci-maki Renald. Tiba-tiba cowok itu kembali lagi, membawa kedua temannya.
"Kalian nggak shalat kan? Jagain ini cewek. Jangan biarin dia berdiri! Tunggu sampai gue balik!" titahnya pada kedua temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Renaldy[Selesai]
Teen Fiction"Sekali percaya, maka enggak akan main-main. Dan sekali dikecewakan, jangan harap kepercayaan dariku lagi." -Renata Jofaline. ••• Namanya Renaldy Angkasa. Dia tampan, kaya, ketua geng motor, dan pintar. Hatinya berkata bahwa ia mencint...
![Renaldy[Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/238120664-64-k141004.jpg)