"Sekali percaya, maka enggak akan main-main. Dan sekali dikecewakan, jangan harap kepercayaan dariku lagi."
-Renata Jofaline.
•••
Namanya Renaldy Angkasa. Dia tampan, kaya, ketua geng motor, dan pintar. Hatinya berkata bahwa ia mencint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Btw covernya RR ganti lagi, aku tuh bingung sama covernya wkwkw😂 •••
Mauren berjalan menyusuri koridor kampus, ia sungguh tidak sabar bertemu dengan Raisa. Dan pas sekali, Raisa sedang berjalan kearahnya dengan senyum lebar.
Mauren manggut-manggut, ia tahu efek dari obat yang ia beri itu. Mauren tersenyum miring. "Em, sebenarnya tuh masalahnya Renald sama ceweknya apa sih, Sa?"
"Aku ... nggak tahu."
"Masa?"
"Iya!"
Mauren manggut-manggut lagi. "Gapapa. Yang penting semalam gue udah bantuin lo."
"Bantu apa ya?"
"Nanti lo juga tahu, Sa. Pokoknya lo bakalan bersatu sama Renald."
"Kok gitu? Terus Rere?"
Mauren memutar bola matanya malas. "Peduli amat sama cewek itu? Udah, Sa jangan munafik. Lo masih suka kan sama Renald?"
"Aku nggak mau nyakitin Rere."
"Terserah sih. Pokoknya gue udah bantuin lo ya."
Mauren berlalu pergi meninggalkan Raisa. Raisa menghela napas panjang. "Iya, aku masih sayang Renald."
•••
Rere tersenyum lebar, menatap dirinya dipantulan cermin. Sore ini ia berencana akan pergi ke mall untuk belanja keperluan liburan besok. Tentu bersama keempat teman biadab nya itu.
"Udah cantik Re, mau ketemu siapa hayo?" goda Rachel, meski Rachel tahu Rere tidak akan semudah itu membuka hatinya. Apalagi setelah disakiti Renald.
"Ada gebetan baru nih!" seru Anya.
"Itu loh mas-mas tukang gas!" imbuh Fia.
"Oh itu, iya kalau ngeluarin gas bau anjir!" ucap Rania membuat yang lainnya tertawa kecil.
Rere ikut tertawa, ia tidak ingin terus sedih seperti itu. Ia menghargai usaha teman-temannya yang sudah berusaha membuatnya ceria kembali dengan lelucon recehnya itu.
"Dah ih! Ayo pergi!" Rere mengambil tas serta kunci mobilnya. Saat hendak pergi, Fia malah diam saja. "Fi! Ayo!"
Fia mengalihkan pandangannya dari ponselnya. "Gue nggak jadi ngikut dah."
"Kenapa sih?" tanya Rachel.
"Ada urusan, penting banget."
Anya kembali duduk di ranjang sebelah Fia. Matanya menyipit, menelisik wajah Fia dalam-dalam. Hal itu membuat Fia risih dan menoyor kening Anya.