"Sekali percaya, maka enggak akan main-main. Dan sekali dikecewakan, jangan harap kepercayaan dariku lagi."
-Renata Jofaline.
•••
Namanya Renaldy Angkasa. Dia tampan, kaya, ketua geng motor, dan pintar. Hatinya berkata bahwa ia mencint...
Rere menatap kotak makan yang ada di tangannya, senyumnya terbit dengan lebar. Pagi ini ia sudah membuatkan sarapan untuk Renald. Menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.
Rere baru saja hendak mengetok pintu kamar Renald. Namun tiba-tiba pintu itu terbuka. Menampilkan sosok abangnya yang tengah menguap lebar.
"Merusak pemandangan!" gerutu Rere kesal.
Rama mendelik sebal. "Ngapain lo pagi-pagi gini? Masih pagi cil, bucinnya ditunda dulu."
"Abang minggir deh. Jangan buang-buang waktu ya."
"Mana mungkin gue baik hati sama lo?" Rama berkacak pinggang. "Nih ya, gue--"
"Awas."
Rama langsung menghentikan ucapannya, menoleh ke belakang dan melihat Samuel. Cowok dingin itu berdiri di belakangnya dengan kedua tangan dimasukkan di saku celana.
Rama nyengir, lalu mempersilahkan Samuel untuk keluar. Bisa dibilang, nyalinya langsung menciut berhadapan dengan cowok dingin semacam Samuel.
Rere masih mengamati Samuel yang menunggu Anya di depan kamarnya. Tak lama Samuel dan Anya pergi. Rere pun segera mengalihkan pandangannya.
"Minggir deh."
Rere menepis badan abangnya, ia segera masuk ke dalam kamar Renald. Di kamar ini sangat luas, bisa dihuni 5-6 orang. Rere mengamati Renald yang masih tertidur pulas di ranjangnya.
Rere mendekati ranjang Renald, duduk di tepi ranjang cowok itu. Tangannya bergerak, mengelus lembut rambut cowoknya. Senyumnya mengembang lebar, menatap dalam wajah Renald yang tertidur pulas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sayang, bangun yuk." Rere mengelus kening Renald, suaranya begitu lembut. "Aku bawa sarapan ini."
Renald tetap tidak mau bangun, padahal Rere juga sudah menggoyangkan badannya. Rere menghela napas panjang, sesusah itu ternyata membangun kan Renald.
"Lumat aja tuh bibir Re! Ntar bangun!" usul Randy sembari merapikan tempat tidurnya.
Rere menggeleng lirih, tidak mau memperdulikan ucapan Randy. Rere kembali menatap Renald, mengelus-elus rambutnya. Nyatanya Rere sangat menikmati wajah Renald yang sedang tidur pulas seperti ini.
"Kenapa lihat-lihat? Terpesona?"
Rere terkejut ketika Renald bersuara. Cowok itu masih terpejam tapi bisa bersuara. Rere yakin Renald sudah bangun. Rere hendak menarik tangannya dari kepala Renald, tapi ditahan oleh Renald.
Perlahan cowok itu membuka matanya. Tersenyum lebar ketika melihat Rere. Ia menaruh tangan Rere di pipinya.
"Nanti kamu orang pertama yang saya lihat ketika bangun tidur," ucap Renald sembari mengecup punggung tangan Rere.