Part 41

1.7K 258 23
                                        

Menerima segala hal yang tak sesuai harapan tentulah berat. Menunggu dengan cemas kedua mata yang tak kunjung terbuka. Ruangan bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat serta banyaknya alat medis yang terpasang di tubuh lemah seorang gadis. Setiap hari anggota keluarganya berkunjung, yang bisa mereka lakukan hanya menangis. Seharusnya setelah operasi itu keadaannya akan membaik. Namun siapa sangka, dalam waktu 24 jam gadis itu tak kunjung membuka mata. Hingga sang Dokter mengatakan jika gadis itu koma. Siapapun pasti mengerti dengan kondisi itu, dirinya ada di antara hidup dan mati.

Hari ke sepuluh Yeri berkunjung, sama seperti hari-hari sebelumnya. Berdiri di depan sebuah ruangan dengan pakaian steril khas untuk mengunjungi pasien ruang ICU. Dengan langkah kaki yang terasa berat, Yeri mencoba menguatkan hatinya untuk kembali menemui sang kakak. Satu hal yang membuat hati Yeri terasa begitu sakit, pemandangan tubuh sang Kakak yang tak berdaya di atas bangsal dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.

'Tubuh Nona Sooyoung tidak merespon jantung barunya.'

Lagi air mata itu kembali jatuh, sama derasnya seperti hari kemarin. Seharusnya kakaknya itu sudah sehat dengan jantung barunya. Namun takdir berkata lain, seolah kembali menguji seberapa kuat mereka menghadapi ujian yang Tuhan berikan.

Perlahan Yeri menggenggam tangan kanan Kakaknya yang terasa begitu dingin. Hatinya lebih sakit melihat kakaknya tak berdaya seperti ini. Yeri mengusap kasar air matanya yang terus mengalir. Ia tau Joy akan marah jika dirinya menangis, tapi hanya itu yang bisa Yeri lakukan. Ia hancur melihat kakaknya kesakitan.

"Kau mengingkari janjimu Kak." ucap Yeri berdialog sendiri. Tidak, Yeri tidak sendiri. Karna meski Joy menutup mata, dia bisa mendengar.

Ada yang berbeda dengan Yeri, gadis itu berucap dengan sangat lancar. Semua seolah keajaiban dari Tuhan, Yeri bisa berbicara normal. Saat hari dimana dirinya menunggu sang kakak. Saat Dokter mengatakan jika operasinya tidak berjalan lancar. Dan ketika Dokter menyampaikan jika Joy mengalami henti jantung.

Sebuah kabar yang tentu menghancurkan hati semua orang disana. Irene pingsan, Seulgi memeluk Wendy yang terlihat limbung. Menatap tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Kenyataan tentang anggota keluarga mereka yang sudah pergi.

Yeri berlari masuk ke ruang operasi. Memohon kepada semua tenaga medis untuk mengembalikan kakaknya. Namun mereka hanya diam dan menunduk. Yeri, gadis itu berteriak kepada semua orang disana. Mengatakan jika kakaknya tidak pergi, kakaknya tidak akan meninggalkan dirinya. Berakhir dengan Yeri berteriak memanggil nama kakak ketiganya dengan sangat keras. Hingga monitor yang menampilkan detak jantung Joy kembali berbunyi. Yeri tidak tau apa yang selanjutnya terjadi. Karna setelahnya kegelapan menghampirinya.

"Kau berjanji akan sembuh, dan aku berjanji saat kau sembuh kita akan kembali bersama. Kenapa sekarang kau yang tak menepati janjimu." ucap Yeri lirih.

"Bangunlah Kak. Mari lakukan hal yang belum pernah kita lakukan bersama. Bukankah itu yang kau ucapkan padaku?"

Suara Yeri terdengar begitu memilukan. Ia menunduk, mencium tangan kakaknya beberapa kali. Berharap sang kakak tau bahwa dirinya menunggu.

"Jika kau dengar, bukalah matamu Kak. Lihatlah adikmu ini yang tak lagi menyebut namamu dengan terbata. Aku... bisa bicara dengan baik Kak."

Yeri menutup mulutnya, menahan agar isakannya tidak terdengar memenuhi ruang ICU. Yeri tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dadanya seolah di hantam benda berat. Sakit melihat sang kakak tersiksa.

Tanpa Yeri sadari, sudut mata Joy mengeluarkan air mata. Joy mendengarnya, suara memilukan dari sang adik.

......

PROMISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang