31. Pernyataan

1.3K 172 206
                                        

"Sekarang lo milik gue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sekarang lo milik gue. Lo cuman punya gue, Gabriella Maharani."



Happy Reading




Sesuai permintaan Elang, Gabriella akan menemui laki-laki itu di rofftop. Pesan singkat akan ancaman utang membuat Gabriella mau menurutinya. Menyebalkan memang, tapi Gabriella juga penasaran kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Elang.

Padahal laki-laki itu baru saja keluar dari rumah sakit, tetapi dia sudah pergi ke sekolah. Bukankah lebih enak istirahat di rumah?

Sesampainya di rofftop Gabriella kebingungan. Pasalnya disana tak ada siapapun. Dimana laki-laki itu?

Gabriella mengedarkan pandangannya mencari Elang, tiba-tiba punggungnya ada yang menepuk. Dengan cepat dia membalikkan badannya dan menemukan Elang tengah menatapnya.

"Kenapa nyari gue?" tanya Gabriella to the point. Setelah ucapan Elang semalam, Gabriella ingin menghindarinya, meskipun tidak bisa.

"Emangnya gak boleh?" Elang bertanya balik.

Gabriella menghela napasnya. "Ada apa? Kalau mau nagih utang kapan-kapan aja, sekarang gue gak ada duit."

"Sekarang balik lagi ke sikap awal." Elang berdecih di ujung kalimatnya.

Disaat seperti ini, Gabriella tidak tahu harus melakukan apa. Baginya kini merasa canggung berhadapan langsung dengan Elang. Jika waktu dapat diputar kembali, Gabriella pastikan akan menjaga sikapnya agar tidak begitu khawatir dengan Elang dan membuat hatinya tidak goyah.

Keheningan melanda beberapa saat, hingga Elang mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Gabriella sedikit terkejut.

"Lo suka sama Raka?"

"Maksud lo?"

"Lo kayaknya deket banget sama Raka. Jadi gue pikir lo suka sama dia." Di dalam hatinya, Elang sudah lebih dulu mengumpati saudaranya itu. Menyebalkan bukan ketika orang yang kita sukai ternyata dekat dengan orang lain, terlebih orang itu adalah saudara sendiri.

"Enggak."

"Masa?" Elang sedikit memajukan wajahnya membuat Gabriella refleks mundur beberapa langkah.

"Terserah lo." Gabriella bingung. Dia juga tidak mau terjebak di situasi seperti semalam saat Elang melarangnya dekat dengan laki-laki lain.

Elang mencoba untuk percaya, dia tidak akan memojokkan Gabriella. Sudah terlalu banyak tuduhan yang dilayangkannya untuk Gabriella, lagipula Gabriella tidak mungkin menyukai Raka. Elang yakin itu, karena dari segi manapun wajahnya lebih tampan dari Raka Barata.

"Semalam entah lo dengar atau enggak, gue bilang kalau gue berharap benci yang ada di diri lo berubah jadi cinta," ujar Elang dengan menatap wajah Gabriella lekat.

GABRIELANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang