Tiyo menggendong Embun di lengan, membiarkan suaminya berjalan pelan menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan pohon sampai rimbunnya pohon itu usai karena jalan tanah itu mulai dihiasi bebatuan putih di antara bunga bunga beragam warna, lalu ada sebuah bangunan yang dindingnya perpaduan kayu dan kaca. Tirai tirai putih bergelantungan di balik dinding kaca. Bangunan dua lantai itu terlihat modern tapi nyaman.
Tiyo menurunkan Embun sesaat setelah sampai di ruang tamu. Semua di ruangan ini terbuat dari kayu dan bernuansa putih. Sofa besar putih, meja kayu, ada penghangat ruangan tradisional yang masih menggunakan kayu bakar. Embun berjalan ke dapur dan masih dengan tatapan takjub, ada meja besar kayu di tengah ruang makan dengan banyak kursi berpunggung tinggi cukup untuk keluarga besar.
Tiyo hanya berdiri dari jauh, memandangi punggung terbuka istrinya yang terlihat menggodanya. Semakin Embun berjalan, semakin api dalam diri Tiyo bergejolak semakin membara. Embun menaiki tangga, ada satu pintu kamar, dia membukanya... kamar itu luas... ranjang kayu ada di tengah tengah ruangan luas ini. Kelambu putih mengitari bingkai ranjang itu. Lantai kayu, bahkan semua sampai kamar mandi pun semua terbuat dari kayu yang dipahat halus. Tiyo berdiri di depan kamar, Embun menoleh melihat suaminya, "Apa kita bisa tinggal di sini saja? Kita akan aman dari orang orang jahat itu..." pinta Embun.
"Kamu tidak aman dariku." Kata Tiyo. Embun tertawa memandang suaminya, gejolak panas dari wine itu masih terasa. Mata Embun mendadak menggelap, dia berjalan mendekati suaminya. Tatapan matanya tajam, dengan berani Embun berkata, "Aku rasa kali ini kamu yang tidak aman bersamaku."
Embun menarik jas tuxedo Tiyo ke dalam kamar, dan mendorong dadanya hingga Tiyo jatuh di atas ranjang. Tiyo tau ini bukan Embun, alkohol sedang membuat darah istrinya mendidih. Jadi Tiyo membiarkan Embun melakukan apa yang dia inginkan. Toh di pulau ini hanya ada mereka berdua.
Embun duduk di atas perut Tiyo, meski tatapannya liar dan Embun mencoba merobek kemeja Tiyo, tapi toh Embun bahkan tidak bisa membuka satu kancing kemeja Tiyo dengan tenaganya. Tiyo tersenyum, semakin Embun berusaha semakin Tiyo terkekeh.
"Sudah cukup bercandanya!" Kata Tiyo lalu duduk. "Tunggu aku belum selesai!" Sergah Embun masih ingin berusaha merobek kemeja Tiyo tapi jangan kan terbuka, yang ada Embun keburu merintih tangannya sakit. Tiyo menarik dasinya semudah mengambil daun di ranting. Dia ikat kedua tangan Embun, tanpa memalingkan tatapan mata tajamnya. "Apa seperti ini kamu tidak bisa?" Tanya Tiyo sambil merobek sendiri tuxedo beserta kemeja putih di baliknya. Kancing kancing itu berhamburan tidak terkendali, sama seperti pemiliknya.
...
Matahari terbenam, sinarnya memaksa masuk ke dalam jendela, Tiyo berdiri bertelanjang dada memandangi sinar indah yang menerpanya membuat tubuhnya terlihat berkilauan. Embun masih bergulung dalam selimut, tak berdaya. Tapi cahaya matahari itu menyinari wajahnya, membuatnya mau tak mau membuka mata. Ia tak mengenakan apapun, dress mahalnya tergeletak di lantai, entah jadi apa.
Tiyo menoleh melihat istrinya sudah terbangun. Dia menghampiri ranjang, mengangkat Embun beserta selimut yang menggulungnya. Keduanya keluar kamar, Tiyo sengaja membawa istrinya ke bagian belakang villa. Mungkin karena tak ada orang di pulau ini, dan Tiyo sudah memastikan itu.
Ada kursi kayu di bibir pantai seperti sudah sengaja disediakan di sana. Tiyo menurunkan Embun, membiarkannya duduk di kursi itu sambil memegang erat selimutnya, "Lima detik lagi..." kata Tiyo. Embun tidak mengerti, tapi dalam hati dia menghitung sampai lima, dan mendadak lautan gelap saat matahari benar benar terbenam, menyisakan segaris sinar keemasan yang indah, fenomena yang baru pertama kali dia lihat... meski hanya sebentar... namun bersama Tiyo, bukankah itu yang terpenting.
Matahari benar benar tenggelam, menyisakan kegelapan. Namun Embun dan Tiyo masih bisa melihat satu sama lain, "Aku selalu ke tempat ini sendiri. Tak ada yang kulakukan, hanya duduk di sini, menunggu matahari terbenam... sampai aku menemukan fenomena itu... aku menyimpannya sendiri, sampai kelak aku memiliki matahariku sendiri. Matahari yang takkan pernah terbenam di hidupku. Itu kamu." Kata Tiyo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysterious Husband
RomansaAura berbahaya terpancar kuat, berada dekat dengannya jadi agak menakutkan meski pria ini suaminya. Saat memutuskan menikah, Embun sama sekali tidak mengetahui asal usul suaminya yang ternyata adalah seorang pembunuh bayaran. "Dari matamu tadi aku b...
