Tiyo membuka pintu apartemen, yang menyambutnya hanyalah kegelapan dan kesunyian. Dia duduk di sofa dan bersandar… memejamkan mata, saat terpejam pun yang muncul adalah wajah Embun. Tiyo membuka matanya, tak sanggup meski hanya melihat Embun dalam mata terpejam… membuat rasa sakitnya kian terasa.
Tiyo berdiri, berjalan menuju kamar. Di dalam kegelapan itu dia hendak membuka kemejanya. Rasa sakit itu masih terasa saat dia banyak menggerakkan punggungnya… "Aduh…aduh sakit." Rintihnya saat coba menarik lengan keluar dari lengan kemejanya. Tiyo masih tak mampu melepaskan kemejanya sendirian.
Tiba-tiba lampu kamar menyala, Embun bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Tiyo, kembali menggulung kemeja itu dan mendorong lengan Tiyo keluar dari kemejanya. Tiyo terperangah, dia bahkan sampai menampar-nampar pipinya, dan beraduh sakit.
Embun ada di hadapannya… Embun ada di rumah… Embun tidak jadi pergi… Embun? Apa ini mimpi? Dengan ragu ragu Tiyo menyentuh pipi Embun lalu mencubitnya. "Aduh!"
Suara itu nyata, Tiyo langsung merengkuh Embun erat. Dia biarkan air mata keluar kali ini tanpa menahan diri lagi. Tiyo bahkan menenggelamkan wajahnya di pundak Embun.
Merasakan pundaknya hangat, Embun tersenyum. Apalagi pelukan erat Tiyo yang tanpa perlu berkata apapun, dia mampu merasakan cinta teramat besar di sana.
"Kamu gak mau tau kenapa aku kembali?"
"Cukup kamu ada di sini, aku sama sekali gak butuh alasannya." Jawab Tiyo.
"Tapi aku pingin kamu tau!" Ketus Embun. Tiyo langsung melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Embun, "Apa alasannya istriku?"
"Karena ayahku mengomel sepanjang perjalanan yang isinya membelamu! Dan kupingku panas!" Jawab Embun.
Sebelum Embun melanjutkan ocehannya, Tiyo menangkup wajah istrinya, mencium lembut bibir itu. Apa Embun pikir Tiyo percaya pada alasannya…? Embun kembali karena dia mencintainya… hanya itu alasannya.
Tanpa permisi Tiyo mengangkat Embun dan membaringkannya di ranjang. Dalam lampu temaram, Tiyo menatap mata Embun, begitu pun Embun menatap wajah suaminya yang sembab. Dia tersenyum sambil mengusap sisa air mata di pipi Tiyo.
"Apa sebesar itu cintamu sampai aku bisa membuatmu menangis…?" Tanya Embun.
"Dengan cintaku kali ini aku yang akan membuatmu menangis…" kata Tiyo dengan makna tersembunyi.
Tiyo menenggelamkan wajahnya di leher Embun, membuat tanda dari hasratnya yang membara di sana. Sedang Embun menggelayutkan tangannya di leher Tiyo, memberi lampu hijau.
"Tolong hati-hati… aku takut."
Tiyo tertawa. "Kamu fikir aku tidak takut? Ini juga yang pertama bagiku…"
"Apa kita perlu membaca buku?" Tanya Embun, sekali lagi membuat Tiyo yang sudah menegang mendadak tertawa.
"Kadang ada hal hal yang terjadi secara alami…"
Tidak membutuhkan waktu lama sampai Tiyo kehilangan kendali dan akhirnya menyatu dengan tubuh istrinya yang hangat. Kekuatan seorang pembunuh dia perlihatkan tak peduli lagi dengan luka juga rasa sakit disekujur tubuhnya yang samar-samar terasa bercampur dengan kenikmatan. Bersama Embun adalah candu yang membuatnya ingin meminta lagi dan lagi. Tidak berhenti sepanjang malam.
Embun tidak bisa menolak dan akhirnya menuruti hasrat Tiyo, laki-laki matang yang entah berapa lama sudah menahan hasratnya.
Tiyo bangun lebih dulu, Embun masih terbaring di sampingnya sehelaipun benang hanya selimut putih yang membalutnya. Tiyo tersenyum, kemudian mendekati istrinya… mencium pundaknya. Dia akhirnya bangun, membereskan kamar di mana pakaian mereka yang semalam bergeletakan di lantai. Tiyo membuat sarapan, membuat teh hangat, dan kembali ke kamar… mengisi bathup dengan air hangat, menyiapkan tempat mandi untuk Embun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysterious Husband
Roman d'amourAura berbahaya terpancar kuat, berada dekat dengannya jadi agak menakutkan meski pria ini suaminya. Saat memutuskan menikah, Embun sama sekali tidak mengetahui asal usul suaminya yang ternyata adalah seorang pembunuh bayaran. "Dari matamu tadi aku b...
