Perjalanan

1.2K 128 3
                                        

Flashback – Di Pesawat, Beberapa Jam Sebelum Mendarat di Bali

Suara mesin pesawat berdengung stabil, seperti latar yang konstan. Lampu kabin sudah diredupkan, sebagian penumpang tidur, sebagian lagi menatap layar di depan kursi.

Jiaya duduk di dekat jendela, memandang awan yang tampak seperti lautan gelap di luar sana. Di sebelahnya, Rara duduk tegak, tangan dilipat rapi di pangkuan. Dari tadi dia lebih banyak diam, tapi bukan diam yang canggung—lebih ke diam yang hati‑hati.

Jiaya melirik pelan.
"Kamu pertama kali ke Bali?"

Rara mengangguk.
"Iya, Kak."

"Pertama kali naik pesawat juga?"

Rara tersenyum kecil, malu-malu.
"Iya..."

Jiaya ikut tersenyum.
"Gak apa-apa kok kalau deg-degan. Dulu aku juga gitu."

Rara menggeleng pelan.
"Sebenernya... bukan takut pesawatnya."

Jiaya menoleh sedikit.
"Hm?"

Rara diam sebentar, seperti mengumpulkan kata-kata. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh dengung mesin.

"Aku tuh... awalnya gak dibolehin ikut."

Jiaya mengangguk, memberi isyarat supaya dia lanjut.

"Bapakku ragu. Katanya jauh... terus aku belum pernah pergi sama temen-temen yang dia gak kenal semua."

"Terus?" tanya Jiaya lembut.

"Haje kak datang ke rumah," kata Rara. "Dia ngomong langsung sama bapakku."

Jiaya sedikit kaget. Ia bisa membayangkan Haje yang biasanya santai, tiba‑tiba duduk serius di ruang tamu orang tua seseorang.

"Dia bilang... 'Om, Rara itu anak baik. Dia juga butuh seneng-seneng. Dia pantas punya momen bahagia di hidupnya, jangan cuma sekolah sama rumah terus.'"

Jiaya terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi hangat.

"Bapakku diem lama banget," lanjut Rara. "Terus dia nanya... 'Kamu bisa jaga Rara?'"

Rara tersenyum kecil, matanya berbinar mengingatnya.
"Haje kak jawab, 'Saya jagain dia, Om. Tenang aja.'"

Jiaya tersenyum pelan.
"Terus dibolehin?"

"Iya... akhirnya iya," kata Rara. "Bapakku bilang... kalau aku pergi, aku harus bener-bener nikmatin. Jangan takut terus."

Ada jeda sebentar. Rara menatap tangannya sendiri.

"Aku sayang banget sama bapakku," katanya pelan. "Dia... satu-satunya pria dewasa yang aku gak takut sama sekali."

Jiaya sedikit mengernyit, bukan menghakimi—lebih ke bingung dan khawatir.
"Kenapa kamu bilang gitu?"

Rara terdiam sebentar. Lalu, dengan suara yang makin kecil, dia berkata,
"Aku dulu... pernah punya pengalaman gak enak sama pria yang lebih tua..."

Kalimatnya menggantung. Jari-jarinya saling meremas pelan, bahunya menegang tanpa dia sadari.

Jiaya langsung mengulurkan tangan dan memegang tangan Rara pelan.

"Udah," katanya lembut. "Gak usah cerita kalau itu bikin kamu sakit."

Rara terdiam, menatap tangan Jiaya yang menggenggam tangannya. Pegangan itu hangat, tenang, tidak memaksa.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang