shocking

996 62 8
                                        

Keesokan harinya, Genta terlihat pucat dan tubuhnya panas tinggi saat Vika datang mengecek. Ia terbaring di sofa, wajahnya memerah dan tubuhnya menggigil sedikit. Vika, panik tapi tetap tenang, segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Arka, ayah Genta.

"Pak, Genta lagi panas tinggi, saya khawatir," kata Vika.

Arka yang mendengar suara sekretaris anaknya pun langsung serius. "Baik, Vik. Kamu rawat dia dulu, kalau bisa dibawa ke rumah sakit, tapi kalau Genta menolak, tetap tenang dan jagain di hotel. Jangan biarkan dia sendirian."

Vika menatap Genta, yang masih berusaha tersenyum tipis tapi jelas lemah. "Pak, tadi saya udah tanya katanya beliau mau di hotel aja... nggak usah repot-repot ke rumah sakit, gitu" katanya pelan, suaranya serak karena demam.

Arka mengangguk dari balik telepon, menahan rasa khawatirnya. "Oke, Vik. Kamu pastiin dia tetap terjaga dan minum obat. Jangan panik. Kalau ada apa-apa kabarin saya ya?"

"Baik, pak."

Genta sedikit membuka mata, mencoba rileks, sementara Vika sigap menyiapkan segala kebutuhan: obat, air hangat, dan handuk basah untuk menurunkan panasnya. Meskipun Genta keras kepala dan ingin tetap di hotel, Vika tetap menjaga dengan penuh perhatian, memastikan ia nyaman dan aman.

Sejak fajar, Vika sudah berdiri di ambang pintu kamar Genta sambil mengetuk pelan. Begitu pintu terbuka, aroma obat dan tubuh demam langsung menyeruak keluar. Genta terbaring dengan wajah memerah, rambutnya menempel di dahi, napasnya berat seolah baru selesai berlari jauh.

Tanpa menunggu perintah, Vika masuk dan langsung mengambil mangkuk berisi air hangat serta handuk kecil. Ia sudah terbiasa bekerja cepat, tapi pagi ini gerakannya jauh lebih lembut. Dengan telaten ia mengompres leher Genta, menyeka keringat di wajah, lalu mengelap dada dan lengan lelaki itu yang terasa panas seperti bara.

"Vik... kamu capek. Udah," gumam Genta parau.

Vika hanya menggeleng. "Bapak diam saja. Saya nggak suka lihat bapak begini."

Ia menyuapi bubur hangat ketika waktunya obat. Genta yang biasanya keras dan tidak suka dibantu, kini hanya bisa menerima. Setiap kali ia batuk atau mengerang kecil, tatapan Vika otomatis melunak, seperti ada sesuatu yang ingin ia jaga tapi tidak berani ia akui. Terkadang Genta menahan lengan Vika, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi setiap kali pula Vika menepuk pelan punggung tangannya, menyuruhnya tidur.

Di kantor pusat perusahaan JT Coorporation, suasana meeting room dipenuhi aroma kopi mahal. Adrian melangkah masuk membawa semua berkas yang seharusnya Genta presentasikan sendiri. Juan langsung memperhatikan.

"Pak Genta tidak datang? Apa ada masalah?" suaranya datar, tetapi matanya tajam seolah mencari sesuatu.

Adrian membalas dengan sopan, "Tidak, Pak. Beliau demam tinggi sejak tadi subuh. Baru diketahui saat Vika, rekan saya, mengecek kondisinya."

Ada jeda satu detik—singkat, namun cukup untuk membuat Adrian merasa seperti diawasi.

"Kalau perlu saya panggil dokter saya, biar Pak Genta dibawa ke rumah sakit aja, gimana?"

"Tidak usah, Pak, terima kasih" potong Adrian cepat. "Pak Genta bilang dia hanya ingin istirahat di hotel. Tidak mau diributkan."

Juan mengangguk. Meeting berjalan cepat. Hanya finalisasi, tanda tangan, dan beberapa detail teknis. Semuanya selesai tanpa hambatan. Atau setidaknya, tanpa hambatan yang terlihat.

Setelah para peserta keluar, Jiaya berjalan di belakang Adrian. Tumit sepatunya mengetuk marmer dengan ritme cepat, seolah langkahnya mengikuti degup jantungnya sendiri.

"Pak Adrian," panggilnya pelan.

Adrian menoleh. Jiaya berdiri tegak, tapi sorot matanya mengkhianati kekhawatiran yang ia coba sembunyikan.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang