Everybody wants happiness nobody wants pain But you can't have rainbow without a little rain.
𓄲
Udara di belakang sekolah selalu terasa lebih berat, bercampur aroma aspal panas dan tembakau dari warkop yang menjadi titik kumpul para siswa. Jiaya melangkah ragu, tangannya mendekap sebuah paper bag putih berisi jaket yang aromanya masih sangat identik dengan pemiliknya—parfum maskulin yang tajam namun menenangkan.
Tadi, Ijo sempat berpapasan dengan Jiaya di gerbang dan memberi bocoran singkat. "Genta ke warkop Bu Jum, Ji. Samperin aja kalau mau balikin barangnya sekarang."
Namun, setibanya di area parkir darurat dekat warkop, jantung Jiaya mencelos. Tempat yang biasanya diduduki monster besi hitam, Yamaha R1M milik Genta, kini kosong melompong. Hanya ada sisa jejak ban di tanah kering.
Genta kemana?
Jiaya menghela napas, pundaknya merosot lesu. Ia baru saja hendak memutar tumit untuk kembali ke jalan raya saat sebuah seruan nyaring membelah suasana.
"Jiaya!"
Jiaya tersentak. Di sudut warkop yang terlindung bayangan pohon, ia melihat Jevan melambai heboh dengan cengiran lebarnya. Di sampingnya, Reza duduk santai sambil menyesap es teh, sementara beberapa cowok lain yang tidak Jiaya kenal ikut menoleh. Mau tidak mau, Jiaya melangkah mendekat ke meja kayu panjang itu.
"Nyariin Genta, ya?" tembak Jevan langsung, bahkan sebelum Jiaya sempat menyapa.
"Iya... tadi kata Ijo dia ke sini," jawab Jiaya pelan, tangannya semakin erat meremas tali paper bag.
Reza mengembuskan asap rokoknya ke samping, lalu menyahut tanpa ekspresi berarti. "Baru aja cabut. Nggak ada lima menit. Kayaknya sih emang sengaja kabur."
"O-oh... gitu ya," Jiaya mencoba tersenyum meskipun rasanya hambar. "Ya udah kalau gitu. Gue cuma mau balikin jaketnya doang kok."
"Titip di kita aja, Ji. Nanti biar Reza yang bawa," tawar Jevan ramah.
"Nggak usah, Van. Biar gue kasih langsung aja nanti," tolak Jiaya halus.
Tepat saat Jiaya hendak berpamitan, seorang cewek yang duduk di ujung meja—yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mendongak. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tampak seperti ejekan, lalu menyahut dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
"Ohhh, ini ceweknya Genta?" Cewek itu tertawa kecil, melirik teman di sebelahnya. "Kasihan ya... Cowoknya baru aja pergi sama cewek lain tuh tadi. Masa lo nggak tahu?"
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Jiaya. Pegangannya pada paper bag mengencang hingga kertasnya berbunyi krek. Ia menatap cewek itu dengan bingung, sekaligus merasa dadanya mendadak sesak.
"Sama cewek?" ulang Jiaya lirih.
Jevan dan Reza langsung saling lirik dengan wajah tegang. Jevan berdehem keras, mencoba memberi kode pada cewek tadi untuk diam, tapi cewek itu justru mengedikkan bahu acuh tak acuh.
"Iya, tadi dibonceng. Mesra banget lagi," lanjut cewek itu lagi, memanasi keadaan.
Jiaya tidak sanggup lagi berdiri di sana. Rasa malu dan cemburu yang campur aduk membuatnya merasa ingin segera menghilang. "Gue... gue balik duluan ya. Duluan, Van, Rez."
Jiaya berjalan cepat meninggalkan warkop tanpa menoleh lagi. Pikirannya kalut. Sampai-sampai ia meninggalkan paper bag nya disana.
𓄲
Jiaya kembali ke kelas IPA 1 dengan langkah lemas. Kelas yang biasanya terasa tenang itu mendadak jadi pengap bagi dirinya. Ia langsung mengempaskan diri ke kursinya, menaruh paper bag berisi jaket Genta di kolong meja dengan sedikit kasar, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lipatan tangan di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
