Party

949 108 10
                                        

Pagi itu rumah masih sepi. Lampu-lampu ruang tengah belum semuanya menyala, dan tirai belum dibuka. Udara masih dingin, khas pagi Jakarta yang belum sepenuhnya bangun. Genta turun dari kamar dengan langkah pelan, rambutnya masih berantakan, kaos lusuh yang biasa ia pakai tidur. Ia berniat hanya mengambil segelas air.

Tangga berderit pelan di bawah langkahnya.

Tapi ketika ia tiba di lantai bawah, langkahnya terhenti.

Di bawah tangga, di ruang tengah yang cahaya lampunya lembut, Jiaya berdiri.

Tangannya memegang kue sederhana dengan lilin angka 18 menyala pelan. Wajahnya masih sedikit mengantuk, rambut diikat seadanya, tapi senyumnya... jelas sekali.

Di sampingnya ada Arka, tangan menyilang dengan ekspresi sok biasa aja, padahal bibirnya hampir naik menahan senyum. Gina berdiri di sebelah Arka, membawa piring kue kecil. Riski berdiri di belakang, masih berusaha terlihat rileks meski sebenarnya agak canggung. Sementara Ara, balita itu, justru yang paling semangat, menggoyang-goyangkan tangan dan hampir memantul ke depan.

"Surprise," ucap Jiaya pelan, tapi suaranya stabil.

Hanya satu kata. Tapi cukup untuk membuat ruangan terasa penuh.

Genta diam cukup lama. Mata yang sebelumnya setengah mengantuk kini benar-benar terbuka. Ia melihat Jiaya seperti memastikan ini nyata. Bahwa ini bukan halusinasi karena baru bangun tidur.

"Kamu..." suaranya sempat berhenti sebentar. "...pulang cepat?"

Jiaya mengangguk kecil. "Iya."

Tidak ada penjelasan panjang. Tidak perlu.

Lilin kecil di atas kue bergetar sedikit karena AC.

Ara sudah tidak sabar. "Tiup! Tiup! Tiup!!"

Arka akhirnya tertawa kecil. "Yaudah, ayo. Sebelum lilinnya keburu meleleh."

Genta mengembuskan napas pelan, seolah mencoba menahan sesuatu yang hangat di dadanya. Kemudian ia menunduk sedikit ke arah kue, matanya masih tidak lepas dari Jiaya.

Dalam hati, ia tahu:
Jiaya datang.
Tidak ada kabar lewat chat.
Tidak kabar lewat telepon.

Begitu lilin padam, suasana hening sebentar. Bukan hening yang canggung, tapi hening yang penuh rasa. Jiaya masih memegang kue di tangannya, sedikit kaku karena takut menjatuhkannya.

Genta menatapnya tanpa kata.
Lama.
Hanya menatap.

Lalu ia melangkah mendekat.

Pelukannya datang begitu saja. Tidak dramatis. Tidak tergesa. Tapi penuh. Kedua tangannya melingkar di pinggang Jiaya, menariknya dekat, seolah memastikan bahwa ini nyata, bahwa dia benar-benar ada di sini. Jiaya sempat terkejut, tapi langsung membalas pelukan itu, menempelkan wajahnya di bahu Genta.

"Akhirnya," gumam Genta pelan, hampir tidak terdengar.

Jiaya tersenyum kecil. "Ulang tahun kan."

Arka, yang memperhatikan dari samping, mengangkat kue dari tangan Jiaya karena jelas keduanya tidak akan melepaskan pelukan dalam waktu dekat.

"Udah, sini. Nanti kuenya jatuh," katanya sambil mengalihkan kue ke meja makan. Gina membantu menyiapkan piring dan pisau, sementara Riski pura-pura sibuk mengatur gelas padahal dia terlihat ikut tersenyum.

Ara berdiri dekat kaki Genta, menepuk-nepuk betisnya pelan. "Kakak, peluk aku juga," katanya polos.

Itu baru membuat Genta melepaskan pelukan sedikit. Jiaya juga mundur satu langkah, tapi tidak jauh.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang