Approval 2

864 128 14
                                        

Percayalah. Akan ada saat dimana orangtua akan merasa cemburu kepada seseorang yang kelak lebih bisa membahagiakan anaknya.

•••

Begitu pintu rumah terbuka, aroma khas ruang tamu langsung menyambut — bau kayu tua yang bercampur wangi masakan hangat dari dapur. Genta baru sampai dari bandara, matanya sayu, pundaknya berat. Dia cuma ingin naik ke kamar, rebahan, dan menenangkan kepala yang penuh pikiran. Langkahnya pelan menaiki satu anak tangga. Tapi kemudian, terdengar suara kecil dari arah ruang tengah.

"Kakak?"

Langkahnya berhenti.
Suara itu... lembut, tapi jelas.
Ia menoleh pelan.

Dari balik dinding, muncul seorang anak perempuan — rambutnya dikuncir dua, masih mengenakan piyama dengan gambar kelinci. Bola matanya besar dan penuh rasa ingin tahu. Begitu pandangan mereka bertemu, wajah anak itu langsung bersinar.

"Kakak Mageeee!!"

Dia berlari kecil, pelan tapi penuh semangat, lalu memeluk kaki Genta.

Genta kaku di tempat.
Butuh beberapa detik buat otaknya nyambung.
Mage?

"...siapa?" suaranya rendah, agak serak.

Anak kecil itu mendongak, senyumnya merekah polos.

"Kata Papa, aku dulu pernah liat foto Kakak waktu masih bayi. Papa bilang aku harus nyapa Kakak kalau Kakak pulang."

Deg.
Jantung Genta terasa nyesek.

Dia masih ingat — foto itu, yang ada di ruang kerja Papanya. Foto dirinya waktu bayi, digendong sang Papa, sebelum semuanya berubah. Dan sekarang, anak kecil di hadapannya... memanggil dia dengan sebutan yang udah lama gak kedengeran di rumah ini.

"Papa lagi di dapur, Kak. Tadi Papa bilang, 'kalau Kakak pulang, kasih tau ya, bilang Papa masak ayam goreng kesukaan Kakak.'"

Genta menatap bocah itu lama. Ada rasa aneh di dadanya — antara kaget, bingung, dan entah kenapa... hangat.
Dia berjongkok, lalu mengusap kepala si kecil pelan.

"Siapa?"

"Arabella!" jawabnya bangga. "Tapi Papa suka manggilnya 'Ara'."

"Enggak."

Anak kecil itu mengerutkan kening.

"Enggak apa, Kak?"

"Maksudnya siapa yang suruh masak ayam? Kan gua nggak minta."

Nada suaranya datar, tapi ada guratan getir di baliknya. Bocah itu langsung terdiam, ekspresinya gugup.

"O-oh..." ia menunduk pelan. "Maaf, Kak."

Melihat itu, Genta menatapnya beberapa detik. Ada rasa bersalah kecil yang muncul tanpa diundang. Dia menghela napas lagi, kali ini lebih dalam, 

"Udahlah."

Ara — begitu Papa memanggilnya — mengangkat wajah lagi dengan senyum kecil.

"Aku seneng Kakak pulang."

Dari arah dapur terdengar bunyi spatula beradu dengan wajan, aroma ayam goreng menyebar ke seluruh ruangan. Genta melangkah perlahan, setiap langkah terasa berat seperti nahan sesuatu di dadanya. Begitu ia sampai di ambang pintu, seseorang muncul dari balik meja dapur — Arka, papanya. Lelaki paruh baya itu memakai celemek warna krem yang bagian depannya sudah kena cipratan minyak.

Wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat Genta.

"Lohh, kok gak bilang Papa, Kakak udah pulang?"

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang