Sadar

1.8K 142 6
                                        

Mobil berhenti perlahan di depan rumah Jiaya. Wiper masih bergerak pelan, mengikuti rintik hujan yang makin mengecil, kayak ragu-ragu buat berhenti sepenuhnya. Lampu depan mobil menyorot pagar rumah yang setengah terbuka, basah dan berkilau ditimpa cahaya.

"Udah sampe." Suara Genta datar, tapi nadanya pelan, nyaris kayak gumaman buat dirinya sendiri.

Jiaya nggak langsung buka seatbelt. Dia masih diem, masih ngerasain hangat di tangannya yang belum sepenuhnya lepas dari genggaman Genta. Waktu akhirnya Genta gerak, menarik tangannya pelan, Jiaya baru sadar dan buru-buru narik napas dalam. "Oh... iya. Sampe."

Tangannya jadi sibuk sendiri, ngerapihin tali hoodie yang sebenernya udah rapi, pura-pura nyari tas di jok belakang padahal jelas-jelas tasnya udah dia pegang dari tadi. Genta melirik sekilas, lalu matanya balik lagi ke depan, ke arah jalanan basah di luar.

"Payungnya bawa," ucapnya pelan, tanpa nengok.

"Oh iya, makasih." Jiaya buru-buru ngambil payung di sisi kursi, tangannya menyentuh gagang pintu, tapi belum benar-benar membukanya. "Ta."

"Hm?"

"Makasih, ya... buat tadi."

Genta nggak langsung jawab. Dia cuma nyandarin tangannya di setir, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan kemudi, kayak lagi nyari kata yang pas. "Ya," gumamnya akhirnya, singkat aja.

"Tapi aku serius, lho." Jiaya nggak nyerah, malah makin nempel ke topik itu. "Kalau kamu nggak dateng tadi, aku nggak tau bakal kayak gimana." Dia tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa berat. "Mungkin udah pingsan ketakutan di halte."

"Berlebihan," sahut Genta, tapi ujung bibirnya sedikit naik, nggak bisa bohong.

"Emang. Tapi kamu tetep dateng, kan?" Jiaya nggak mau kehilangan kesempatan buat denger jawabannya langsung.

Genta diam sebentar, cukup lama sampai Jiaya hampir nyerah nunggu. Tapi kali ini dia menoleh. Tatapannya nggak keras, cuma capek—capek yang dalam, kayak nyimpen sesuatu yang nggak pernah diomongin ke siapa-siapa. Dia nggak jawab pertanyaan itu langsung. Malah sengaja dialihin. "Udah, masuk sana. Basah."

Jiaya bengong sesaat, ngeh kalau dia baru aja di-php-in lagi—tapi entah kenapa kali ini dia ngebiarin aja. "Kamu nyuruh aku masuk, tapi nggak ngusir, kan?" godanya, mencoba ngebaca ekspresi Genta yang susah ditebak.

"Jangan bikin ribet."

Jiaya terkekeh pelan. "Iya, iya, ngerti." Tapi sebelum benar-benar membuka pintu, dia sempat menyenggol pelan pergelangan tangan Genta, bikin cowok itu refleks menoleh. "Kamu nggak boleh terus nahan semuanya sendiri, Ta. Sekalipun kamu pikir nggak ada yang bakal tinggal..." Dia berhenti sebentar, matanya mengarah ke kaca depan yang mulai berembun, nggak berani lihat reaksi Genta langsung. "...aku masih di sini."

Genta menatap ke arah lain, menahan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokannya. Butuh waktu beberapa detik sebelum dia akhirnya bisa bersuara lagi, dan yang keluar cuma satu kata pendek. "Turun."

Jiaya nggak protes. Dia cuma tersenyum kecil, ngerti kalau itu cara Genta buat ngehindarin ngomong lebih jauh. Dia buka pintu, hujan kecil langsung menyapa kulitnya. Baru aja dia mau menutup pintu di belakangnya, suara berat itu terdengar lagi, pelan tapi jelas.

"Jangan sakit."

Gadis itu menoleh, setengah kaget. "Hah?"

"Lu gampang sakit kalau kehujanan," jawab Genta seadanya, tapi kali ini nadanya agak serak, beda dari biasanya.

Jiaya tersenyum kecil, matanya hangat. "Kamu juga, Ta."

Pintu tertutup pelan. Jiaya berjalan cepat menuju teras rumahnya, payung belum sempat dia buka karena hujan sudah hampir reda. Sebelum masuk, dia berhenti sejenak di depan pagar, menoleh lagi ke arah mobil yang belum juga berjalan. Lampunya masih menyala, siluet Genta masih di sana—diam, kepalanya sedikit menunduk.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang