Jiaya mengerjap-erjapkan matanya yang terasa sangat berat. Aroma debu dan kayu tua menyengat indra penciumannya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, dia menyadari bahwa dia masih terduduk di lantai gudang yang dingin, bersandar pada tumpukan matras olahraga.
Ternyata, saking lamanya menunggu jawaban Genta dan saking lelahnya menangis tadi, tubuhnya menyerah duluan. Jiaya ketiduran karena benar-benar kehabisan energi.
"Genta..." bisiknya pelan, suaranya parau. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tapi area belakang gudang itu sudah kosong. Genta sudah pergi, meninggalkan Jiaya dalam keheningan yang menyesakkan.
Jiaya merogoh sakunya, lalu teringat ponsel kesayangannya sudah menjadi rongsokan. Dia kemudian mendekat ke kaca jendela gudang yang sedikit kusam untuk merapikan rambutnya. Begitu melihat pantulan dirinya, Jiaya tersentak.
"Ya ampun..."
Wajahnya kacau. Matanya bengkak sejadi-jadinya sampai terlihat sipit, hidungnya merah, dan kulit di sekitar pipinya sembab karena air mata yang mengering. Dia terlihat berantakan, jauh dari kata baik-baik saja.
Dia melirik jam dinding di dalam gudang. Sedikit lagi jam pulang sekolah. Jiaya tidak mungkin kembali ke kelas dengan wajah seperti ini. Dia tidak mau jadi pusat perhatian atau dikasihani orang seantero koridor.
Beruntung, tablet kecil masih tersimpan di dalam tas kainnya. Dia segera menyalakannya dan mengirim pesan ke Risa lewat akun cadangan.
Jiaya: Ris, tolong bawain tas gue ke gerbang belakang sekarang. Gue tunggu di sana. Jangan tanya apa-apa dulu, please.
Jiaya berjalan mengendap-endap menuju gerbang belakang yang biasanya sepi. Tak lama kemudian, Risa muncul dengan wajah panik, menenteng tas ransel Jiaya.
"Ji! Lo ke mana aja si—" Kata-kata Risa terputus seketika saat Jiaya berbalik menghadapnya.
Risa menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Jiaya? Mata lo... ya Tuhan, lo habis ngapain?! Kok bisa bengkak begini?!"
Jiaya hanya menunduk, berusaha menutupi wajahnya dengan rambut panjang yang berantakan. "Gue gapapa, Ris. Tolong, tas gue..."
"Nggak, lo nggak gapapa! Ini bengkaknya parah banget, Ji! Lo kayak habis dipukulin!" seru Risa tanpa saring, saking syoknya melihat sahabatnya yang biasanya rapi kini terlihat sangat hancur. "Ini pasti ulah Genta kan?! Mana itu cowok berengsek? Biar gue kasih pelajaran!"
"Udah, Ris... gue mau pulang aja. Gue capek banget," bisik Jiaya, air matanya nyaris luruh lagi tapi ditahan sekuat tenaga.
Risa yang melihat Jiaya sudah di ambang batas akhirnya luluh. Dia menyerahkan tas itu dan mengusap bahu Jiaya pelan. "Ya udah, lo pulang ya. Mau gue pesenin ojek?"
"Enggak usah, gue bisa sendiri. Makasih ya, Ris."
Jiaya berjalan lunglai keluar gerbang. Di kepalanya hanya ada satu keinginan — sampai di kamar, mengunci pintu, dan tidak bertemu siapa pun. Terutama Genta.
Baru beberapa meter dari gerbang belakang, sebuah motor matic hitam berhenti tepat di sampingnya. Pengendaranya membuka kaca helm, menampilkan wajah datar milik Ijo.
Ijo menatap Jiaya. Dia sempat terdiam sejenak — mungkin syok melihat kondisi mata Jiaya yang bengkaknya sudah tidak manusiawi — tapi dengan cepat dia menguasai ekspresinya.
"Naik," kata Ijo pendek.
Jiaya menggeleng lemah. "Nggak usah, Jo. Gue bisa cari ojek di depan."
"Belum ada ojek jam segini di sini. Panas juga. Naik, gue anter sampai depan rumah lo," balas Ijo dengan nada yang sedikit lebih tegas, bahkan terkesan maksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
