POV GINA
Dapur terasa lebih sunyi setelah pintu ruang kerja tertutup. Keheningan itu bukan sekadar hening — ia punya suara sendiri. Suara penyesalan yang telat disadari. Gina masih berdiri di tempat yang sama, jari-jarinya menggenggam kain yang ujungnya kini kusut. Seolah kusut itu bisa menyerap segala yang ia simpan di dada. Tapi tidak.
Justru terasa semakin penuh.
Riski melangkah pelan dari arah ruang tamu. Bocah laki-laki itu — tidak lagi bocah sebenarnya — usianya hanya terpaut setahun dari Genta. Tapi di hadapan Gina, ia masih anak kecil yang dulu ia gendong saat menangis karena lututnya tergores aspal.
Kini, anak itu sudah bersuara pelan dan dewasa.
"Bu," panggilnya, lembut. "Boleh duduk dulu?"
Gina mendongak, seakan baru sadar air matanya sudah menggenang sebelum ia sempat berniat mengeluarkannya. Riski menarik kursi. Gina duduk. Lalu Riski duduk di hadapannya.
"Kenapa Ibu diam aja pas Genta ngomong?" suara Riski tenang, tidak menghakimi.
Gina menatap meja.
Ada bekas uap teh di permukaan marmer — bundar, perlahan menghilang.
Seperti orang.
"Apa yang Ibu lakukan salah, ya?" tanyanya pelan, seperti anak yang meminta dikoreksi, bukan ibu yang sedang dibantah.
Riski menghela napas, tetapi tidak tergesa menjawab. Ia menunduk sedikit, menyusun kata-katanya dengan hati-hati.
"Bukan salah... tapi Ibu tau Genta itu punya luka dari Ibu, kan?"
Kata luka membuat dada Gina terasa seperti disayat.
Ia menutup mata sebentar. Mengingat semua: Genta kecil yang selalu terjaga karena suara ribut. Genta remaja yang pergi dari rumah tanpa pamit. Genta dewasa yang selalu pulang dengan jarak, meski hanya berdiri beberapa langkah dari ibunya.
"Dia nggak pernah sebenci itu sama Ibu," lanjut Riski pelan. "Tapi dia selalu hati-hati... sama Ibu."
Gina mengulum bibir bawahnya agar suaranya tidak pecah.
"Apa... Ibu terlalu memaksanya waktu itu?" bisiknya.
"Padahal Ibu cuma ingin dia memilih yang terbaik. Yang tidak membuat hidupnya susah. Yang tidak—"
"Yang tidak seperti Ibu dulu?" Riski memotong lembut.
Gina membuka mata. Riski tidak sedang menghakimi. Dia hanya... memahami. Gina tersenyum kecil — senyum yang lebih mirip luka.
"Kalau kamu pernah jatuh di lubang, kamu pasti ingin anakmu tidak jatuh di lubang yang sama, kan?" suara Gina bergetar halus. "Tapi Genta... dia justru berjalan ke lubang itu dan secara nggak langsung bilang, ibu nggak berhak atasnya."
Riski menatap ibunya lama.
Kemudian ia bertanya sangat pelan:
"Dan Ibu takut... kalau Jiaya sama seperti Ibu dulu?"
Air mata Gina jatuh.
Bukan banyak.
Hanya satu. Tapi jatuhnya sangat pelan, dan sangat sakit.
"Bukan... bukan karena dia buruk." Gina menggeleng. "Tapi karena dia baik sekali."
Ia tertawa hambar, suaranya bergetar.
"Orang yang baik... itu paling mudah hancur, Ris.
Ibu tahu. Ibu pernah begitu."
Riski mencondongkan tubuh, suaranya lembut sekali:
"Lalu kenapa Ibu hancurkan dia duluan?"
Semua napas berhenti. Gina memejamkan mata — lama. Saat ia membuka mata, pandangannya tak lagi ditahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
