Sweet

1.1K 126 4
                                        

Jiaya ngakak sampe harus nunduk. Tapi begitu dia ngeliat Genta balik ngeliatin dia — dengan pandangan tenang, hangat, dan sedikit gak bisa dibaca — tawanya pelan-pelan memudar.

"Ay," panggil Genta pelan.

"Hm?"

"Deket sini."

"Ngapain?"

"Udah, sini dulu."

Jiaya kaget, "Apa?"

"Gua suruh ke sini, bukan cuma langkah lebih deket."

"Lah emang bedanya apa?"

Genta narik napas, lalu jawab santai tapi matanya serius,
"Gua nyuruh ke sini, biar gua bisa meluk."

Jiaya langsung bengong, ngerasa otaknya berhenti sepersekian detik. "Ha—hah? Ngapain juga tiba-tiba—"

Belum sempat protes, Genta udah narik tangannya pelan, ngebawa Jiaya mendekat sampai jarak di antara mereka hampir gak ada. Tanpa banyak bicara, tangan Genta melingkar di pinggang Jiaya, ngebawa tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. Hangat. Nggak terlalu erat, tapi cukup buat bikin Jiaya ngerasa tenang.

Suara ombak, angin laut, dan degupan jantungnya sendiri bercampur jadi satu.

"Kenapa tiba-tiba meluk?" bisik Jiaya pelan.

Genta jawab dengan suara rendah, nyaris gak kedengeran.

"Karena pengen."

"Eh bentar, Ta!"

Cowok itu noleh, agak heran. "Kenapa lagi?"

Jiaya udah jongkok di pinggiran pasir yang mulai basah, nyari-nyari posisi. "Sayang banget kalo udah sejauh ini tapi gak foto bareng."

"Foto?"

"Iya lah, kapan lagi kita nyebrang ke sini berdua doang. Sekali-sekali biar ada dokumentasinya," jawabnya semangat, matanya nyipit dikit gara-gara silau matahari.

Sebelum Genta sempat nolak, Jiaya udah ngeluarin HP-nya dari dry bag kecil, nyalain kamera depan, terus naruh HP-nya di atas batu karang yang menjorok dikit ke laut. Ia ngatur posisi dengan serius—sampe jongkok, miring, terus berdiri lagi. Genta cuma geleng-geleng, tapi senyum tipisnya gak bisa disembunyiin.

"Ayo sini!" seru Jiaya.
Cowok itu jalan mendekat, berhenti satu langkah di belakangnya.

"Live photo," katanya sambil pencet layar. "Natural aja, candid."

Dan sebelum Genta bisa mikir, Jiaya udah ngerapatin diri, nyengir lebar sambil melet ke kamera.
Tapi Genta malah nyengir miring, terus tiba-tiba nunduk dikit — dagunya nyentuh kepala Jiaya. Pas banget... klik!

Timer di layar HP sudah mulai menghitung mundur lagi.
"Lima... empat..." gumam Jiaya pelan sambil menatap layar.

Genta berdiri di sampingnya, tangannya dimasukkan ke saku, wajahnya tenang tapi matanya terus ngelirik ke arah Jiaya.

"Dua... satu—"

Tepat sebelum kamera berbunyi klik, Jiaya tiba-tiba berbalik cepat dan—
cup.

Bibirnya menyentuh bibir Genta. Bukan lama, cuma sepersekian detik, tapi cukup untuk bikin Genta terdiam. Kamera menangkap semuanya: senyum kecil di bibir Jiaya, dan ekspresi kaget setengah beku di wajah Genta.

Jiaya langsung mundur satu langkah, matanya membulat. "Eh... aku—aku cuma bercanda!" katanya terbata.

Tapi Genta masih diam. Lalu, dengan satu tarikan napas pelan, dia mendekat lagi.
"Bercanda kayak gitu gak aman, Ay," ucapnya pelan, nadanya rendah tapi jelas.

TOXICLOVE (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang