Ternyata

2.3K 174 14
                                        

Keesokan paginya, Jiaya kembali menghadang Ijo di parkiran. Wajahnya pucat karena kurang tidur, dan tangannya gemetar memegang tabletnya.

"Jo, tunggu!" seru Jiaya. "Chat gue udah ceklis dua, tapi nggak dibaca sama sekali sama Genta. Dia beneran nggak masuk lagi hari ini? Tolong, Jo, gue cuma mau tahu dia baik-baik aja atau enggak."

Ijo yang baru saja turun dari motor langsung menghentikan langkahnya. Dia melepaskan helm dengan kasar, lalu menatap Jiaya dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan dan kejenuhan.

"Gausah sok peduli deh, Ji! Muak juga gue lama-lama sama lo," bentak Ijo. Suaranya cukup keras hingga membuat beberapa murid di sekitar mereka menoleh.

Jiaya tersentak, matanya mulai memanas. "Gue beneran peduli, Jo! Gue ceweknya, wajar kalau gue khawatir—"

"Ceweknya?" Ijo tertawa sinis, langkahnya maju satu tindak untuk mengintimidasi. "Lo ngerasa jadi ceweknya cuma pas lo mau dimengerti doang? Pas lo mau dimanja? Pas lo mau diperhatiin?"

"Maksud lo apa?"

"Ji, dengerin gue," suara Ijo merendah tapi penuh penekanan. "Coba sekali-kali jangan lo mulu yang maunya diperhatiin, tapi perhatiin juga Genta! Lo ngerasa dia berengsek karena banting HP lo? Iya, dia emang salah. Tapi lo pernah nggak, sekali aja, nanya kenapa dia bisa sekacau itu belakangan ini?"

Jiaya terdiam, air matanya mulai luruh.

"Lo nggak pernah tahu sekarang dia lagi suffer dari apa, kan? Lo nggak tahu seberapa hancur mental dia sekarang?" Ijo menunjuk dada Jiaya dengan telunjuknya. "Di saat dia butuh pegangan, lo malah sibuk pamer kebahagiaan sama cowok lain di depan muka dia. Lo egois, Ji. Lo cuma mikirin luka lo sendiri, tanpa mau tahu kalau Genta lagi berdarah-darah sendirian di luar sana."

"Gue nggak tahu, Jo... dia nggak pernah cerita!" Jiaya membela diri di sela isaknya.

"Gimana dia mau cerita kalau tiap ketemu lo cuma bisa nuntut dan nuntut?!" Ijo mendengus, dia memakai kembali tasnya dengan sentakan kasar. "Sekarang terserah lo. Kalau lo emang sayang, cari tahu sendiri. Jangan ngerengek ke gue terus seolah lo korban paling menderita di sini. Karena jujur, buat gue, yang paling menderita sekarang itu Genta, bukan lo."

Ijo berjalan pergi meninggalkan Jiaya yang mematung di parkiran. Kata-kata Ijo seperti belati yang menusuk tepat ke ulu hati Jiaya. Suffer? Berdarah-darah sendirian? Jiaya terduduk lemas di bangku taman sekolah. Dia baru sadar bahwa selama ini dia memang tidak tahu apa-apa tentang sisi gelap yang sedang dihadapi Genta.


ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🦋་༘࿐

Jiaya berdiri mematung di depan pagar besi tinggi rumah keluarga Genta. Sunyi. Tidak ada suara mesin mobil, tidak ada aktivitas pembantu rumah tangga, bahkan lampu teras pun tidak menyala padahal langit sudah mulai menggelap karena mendung.

Ia mencoba menekan bel beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Jiaya terduduk di trotoar, menyandarkan kepalanya di lutut, menunggu dengan sisa-sisa harapan kalau Genta akan pulang sore ini.

Hingga kemudian, sebuah motor kurir paket berhenti di depan gerbang. Kurir itu tampak menghela napas saat melihat tumpukan paket yang gagal dikirim di balik celah pagar bawah.

"Cari orang rumah ini, Neng?" tanya kurir itu sambil merapikan tas besarnya.

Jiaya mendongak dengan wajah kuyu. "Iya, Bang. Dari tadi nggak ada yang keluar ya?"

"Wah, kalau dari kemarin saya ke sini mah kosong terus, Neng. Paket-paket yang lain juga pada dibalikin ke gudang karena nggak ada orang sama sekali di dalam. Kayaknya emang lagi pergi jauh semua sekeluarga," jelas si kurir.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang