Jiaya bangun lebih pagi dari biasanya. Mata tidak bengkak, karena memang ia tidak menangis—tapi lelahnya terasa merayap sampai tulang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang dari tadi diam di meja. Tidak dibuka. Tidak disentuh.
Ia hanya duduk, menatap jendela.
Udara New Zealand pagi-pagi selalu jernih. Tapi kali ini tidak terasa melegakan.
Racquel mengetuk pintu, setengah mengantuk.
"Kamu udah bangun? Sarapan sebentar lagi."
Jiaya mengangguk pelan.
"Ya. Aku nyusul."
Racquel memperhatikan sebentar. Ada yang ingin ia tanya. Tapi ia tahu betul waktu diam perlu dihargai. "Okay," katanya singkat. Pintu menutup.
Jiaya masih belum bergerak. Ponselnya tetap diam.
Sementara itu, di Jakarta...
Genta menatap ponselnya sejak mata terbuka. Jam menunjukkan pukul 07:54. Ia bahkan belum mandi, belum minum. Hanya duduk di tepi kasur, menunggu.
Kotak pesan penuh dengan chat yang belum dibaca.
Genta: udah sampe rumah aku
Genta: aku jelasin
Genta: p
Genta: jawab
Genta: kamu dimana?
Tidak ada balasan. Rasanya bukan panik. Lebih seperti tenggorokan kering yang tidak bisa ditelan.
Riski muncul di pintu kamar sambil bawa roti selai.
"Bangun pagi?"
Tanya yang sederhana, tapi nadanya hati-hati.
Genta hanya mengusap wajah. "Iya."
Riski duduk di lantai, mengambil jarak.
Dia tidak nanya apa-apa.
Tidak sok bijak.
Tidak komentar.
Beberapa menit kemudian, Genta akhirnya mengetik.
Tapi ia tidak langsung kirim.
Ia tarik napas pelan.
Tahan.
Lepas.
Kirim.
Kalau udah bangun, gua bisa telepon?
.
.
.
Pagi itu rumah terasa lebih sunyi. Matahari baru naik, cahaya lembut masuk dari sela tirai. Jiaya duduk di meja makan dengan secangkir teh yang sudah tidak panas lagi. Tangan menggenggam mug, tapi pikirannya tidak di situ.
Racquel duduk di seberangnya. Baru bangun, rambut masih agak berantakan, tapi tatapannya jernih cukup untuk mengerti suasana tanpa harus diceritakan.
Ia tidak langsung bertanya. Hanya mengamati Jiaya beberapa detik.
"Semalam kamu pulang duluan," ucap Racquel pelan.
Bukan menuntut, bukan menyindir. Hanya sebuah kalimat.
Jiaya mengangguk. "Iya."
Sunyi sebentar.
Racquel memutar sendok kecil di tangannya. "Kamu nggak cerita apa-apa ke aku."
Nadanya bukan kamu harus cerita.
Lebih ke aku memperhatikan kamu.
Jiaya menarik napas pelan, tapi tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, tapi ia belum siap merapikannya menjadi kata.
"Aku cuma mau kamu tahu... kamu nggak sendirian di rumah ini. Kalau kamu mau diem, aku temenin diem. Kalau kamu mau nangis, aku ada. Kalau kamu mau ngomong, aku denger."
Jiaya mengedipkan mata pelan. Tidak menangis. Tapi napasnya melembut.
"Makasi, Quel."
Racquel tersenyum tipis, kemudian dengan nada yang lebih ringan:
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
Literatura Feminina"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
