Halaman depan rumah keluarga Arka – sore menjelang magrib
Udara sore masih hangat, tapi situasi di depan rumah itu terasa tegang. Genta baru aja nurunin koper ke trotoar, dibantu Jiaya yang berdiri di sampingnya sambil megang jaket. Di tangga teras, suara mesin mobil terdengar berhenti — mobil hitam yang baru aja masuk garasi.
Dari balik kemudi, Arka turun sambil masih nenteng map kerja dan kunci mobil di tangan. Wajahnya tampak lelah, tapi begitu liat koper dan Genta berdiri di depan gerbang, ekspresinya langsung berubah.
"Mau kemana kamu?" suaranya berat, tapi nada khawatirnya jelas.
Genta nggak langsung jawab. Dia cuma nutup bagasi mobilnya pelan, lalu nyengir seadanya.
"Apart."
Arka berkerut.
"Loh, kenapa nggak di sini aja?"
Genta langsung berbalik, nadanya datar tapi jelas.
"Masih nanya?"
Hening. Suara jangkrik dari taman belakang terdengar nyaring. Jiaya yang dari tadi diem aja, mulai nunduk, nggak enak sama situasi di antara mereka berdua.
Arka berusaha tersenyum, tapi suaranya lirih, seolah menahan sesuatu.
"Maaf ya... karena kita numpang kamu jadi malah kamu yang pindah."
Genta mendengus pelan, setengah tertawa, setengah getir.
"Tenang aja, nggak sampe sebulan kok kalian di sini. Nanti juga bisa lega lagi."
Jawabannya kayak tamparan halus yang nyesek. Arka cuma diam. Matanya ngikutin Genta yang mulai masuk ke mobil, Jiaya ikut di belakang, masih menatap ke arah Arka dari jendela. Sebelum pintu mobil ditutup, Arka sempat berucap pelan — nyaris nggak kedengeran, tapi cukup untuk bikin dada berat.
"Papa cuma pengen kamu ngerasa di rumah, Ta..."
Genta menatap balik lewat kaca spion, tapi nggak bilang apa-apa. Mesin mobil menyala, lampu depan hidup, dan perlahan mobil itu keluar dari halaman. Di depan gerbang, Arka masih berdiri. Tangannya gemetar sedikit, matanya memandangi mobil yang makin menjauh, sementara napasnya keluar dalam-dalam, berat dan menyesal.
•••
Perjalanan menuju apartemen – malam hari
Suasana di dalam mobil senyap. Hanya suara mesin yang mengisi ruang, sesekali diselingin dengungan AC yang lembut. Lampu jalan berlarian di kaca depan, siluet kota mulai tampak ramai, tapi di dalam mobil itu—dingin. Genta nyetir tanpa banyak bicara. Wajahnya datar, satu tangan di kemudi, satu lagi menyangga dagu. Jiaya menatapnya dari samping, lama. Tatapan yang penuh iba, tapi juga ragu. Ia tahu, di balik dinginnya ekspresi itu, Genta bukan cuma marah. Dia kecewa. Luka lama yang belum sembuh, cuma ketutup waktu.
Akhirnya Jiaya pelan buka suara.
"Kamu jangan kayak gini terus, Ta..."
Genta gak noleh, cuma gumam pelan.
"Kayak gini apaan?"
"Kamu tuh keras banget sama orang tua kamu. Mau gimana pun juga, mereka yang bikin kamu ada, Ta."
Tangan Genta di setir mengetat. Rahangnya bergerak pelan.
"Emang gua minta dilahirin?"
Nada suaranya datar tapi tajam, kayak bilah tipis yang melukai tanpa darah. Jiaya gak langsung bales. Ia tarik napas panjang, lalu menatap jalan di depan. Suaranya pelan, tapi dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
Literatura Feminina"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
