toxiclove
Begitu masuk ke mobil, Jiaya masih sedikit tegang, menatap jalanan gelap di luar jendela basement. Tapi Genta tak menunggu lama—tanpa kata, ia memeluk Jiaya erat.
Pelukan itu hangat, menenangkan, tapi begitu kuat hingga Jiaya bisa merasakan tekanan dada Genta menempel di punggungnya. Jiaya menunduk sedikit, mencoba mengatur napas.
"Udah... lepasin dulu,"
(Okay... let go for a bit.))
Genta hanya membalas dengan satu sentuhan lembut di punggung Jiaya, seolah ingin memastikan bahwa dia benar-benar ada di sampingnya, aman, dan tidak akan pergi. Jiaya menutup mata sesaat, menikmati rasa nyaman itu sebelum akhirnya menarik napas panjang.
Genta tiba-tiba menahan diri tak kuat lagi. Matanya memerah, dan tanpa sadar air mata jatuh di pipi. Ia menunduk, lalu memeluk lutut Jiaya erat—seolah itu satu-satunya sandaran yang bisa menahan rasa sakitnya.
"Aku... aku gak bisa bohong lagi, Jiaya..."
Jiaya menatapnya kaget, ragu. Genta menutup wajahnya di lutut Jiaya, suara sesak dan bergetar.
(I know... you're happy... with him... but I... I... I just want you to know I still...)
Air mata Genta jatuh deras, mengguyur lutut Jiaya, sementara Jiaya menahan napas, tak ingin mendorong Genta menjauh tapi juga bingung harus bagaimana.
Genta menatap Jiaya sebentar, mata memerah, suara nyaris menangis.
"Tolong... jangan pergi dari aku. Aku minta... aku mohon... jangan hilang lagi dari hidupku."
Jiaya terpaku, hatinya bergetar. Sementara Genta merangkul lututnya lebih erat, seolah memohon keselamatan untuk hatinya sendiri, untuk kejujuran yang tak pernah bisa ia tutupi lagi.
Jiaya menatap Genta yang masih menunduk di lututnya, napas tersengal, air mata mengalir deras. Hatinya berdebar tak menentu. Ada sesuatu yang asing tapi kuat menghimpit dadanya—perasaan bersalah, campur takjub, campur... iba.
"Genta..."
(Genta...)
Kata itu nyaris tak terdengar, tapi Jiaya bergerak perlahan, meraih Genta, dan tanpa sadar memeluknya. Pelukan itu hangat, menenangkan, tapi juga sarat rasa bersalah. Jiaya tak tahu harus menamai perasaan itu, hanya tahu bahwa melihat Genta memohon dengan tulus seperti ini membuatnya goyah.
Genta, yang awalnya menunduk, langsung menekan wajahnya lebih dekat ke dada Jiaya, menggenggam jaket dan tubuhnya seolah itu satu-satunya jangkar yang tersisa.
Di dalam pelukan itu, ada keheningan panjang, hanya suara napas yang berpadu. Jiaya merasakan beratnya perasaan Genta—rasa kehilangan, rindu, penyesalan—dan entah kenapa, hatinya ikut terseret. Ia merasa salah, merasa tak berhak, tapi juga tak bisa melepaskan Genta.
"Shh... aku di sini, Genta... semuanya baik-baik saja..."
Suaranya lembut, tapi hatinya sendiri bergetar, karena ini bukan pelukan biasa.
"Aku tau kamu udah sama Pak Juan... aku rela kalau harus jadi selingkuhan kamu... aku butuh kamu."
Jiaya terdiam, hatinya tercekat. Kata-kata itu terdengar begitu jujur, begitu mentah, sampai ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Rasa bersalah dan terkejut bercampur—tak pernah ia menyangka Genta bisa mengakui perasaannya begitu lugas, begitu tulus.
Genta menunduk lagi, napasnya berat, seolah melepaskan semua beban yang telah ditahan bertahun-tahun. Jiaya menatapnya lama, merasakan betapa dalam kerinduan dan kejujuran itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
