Sejak kejadian di rumah sakit itu, semuanya terasa berubah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan Jiaya. Malam itu seharusnya biasa saja—hanya kunjungan singkat, lorong rumah sakit yang lengang, suara sandal berderit pelan di lantai. Tapi semuanya pecah begitu cepat.Jiaya masih ingat suara pertama yang ia dengar: bentakan. Keras, tajam, memantul di dinding lorong yang sepi. Ia berlari mengikuti suara itu, jantungnya berdegup tak karuan, sampai akhirnya ia melihat mereka.
Genta dan Keno.
Awalnya hanya dorong-dorongan, kata-kata yang saling ditusukkan seperti pisau. Jiaya tidak sempat menangkap semua kalimatnya, hanya potongan-potongan nada marah, tuduhan, dan emosi yang meluap. Lalu tiba-tiba semuanya berubah.
Genta memukul lebih dulu.
Satu pukulan keras yang membuat Keno terhuyung. Jiaya membeku di tempat. Ia belum pernah melihat Genta seperti itu—wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya seperti tidak mengenali siapa pun.
Keno mencoba menahan, mencoba berdiri, tapi Genta tidak berhenti. Pukulannya datang bertubi-tubi, liar, tanpa jeda, seakan semua kemarahan yang selama ini terpendam meledak dalam satu waktu. Suara benturan, napas terengah, dan teriakan orang-orang yang mulai berdatangan bercampur menjadi satu.
"Genta, berhenti!" Jiaya akhirnya berteriak, suaranya pecah.
Tapi Genta seperti tidak mendengar.
Butuh beberapa orang untuk menariknya menjauh. Bahkan saat tangannya sudah ditahan, tubuhnya masih bergetar, napasnya kasar, matanya tetap kosong—bukan kosong karena lelah, tapi kosong seperti seseorang yang tersesat jauh di dalam pikirannya sendiri.
Itu terakhir kalinya Jiaya melihatnya.
Dalam kekacauan itu, ketika perhatian semua orang tertuju pada Keno yang terluka dan para petugas yang berlarian, Genta menghilang. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan ia pergi. Seolah-olah ia larut begitu saja di antara kerumunan dan lorong-lorong rumah sakit yang panjang.
Sejak malam itu, tidak ada kabar.
Hari pertama, Jiaya masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa Genta hanya butuh waktu sendiri. Ia menunggu pesan, menunggu telepon, menunggu apa pun yang menandakan Genta baik-baik saja.
Hari kedua, kecemasan mulai menggerogoti. Ia menghubungi siapa pun yang mungkin tahu, tapi semua jawaban sama: tidak ada yang melihat Genta.
Hari ketiga, Jiaya berhenti keluar kamar.
Awalnya hanya karena lelah. Lalu karena tidak ingin bertemu siapa pun. Lalu karena dunia di luar terasa terlalu berat untuk dihadapi.
Tirai kamarnya selalu tertutup, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam cahaya redup.
Ponselnya sering berada di genggamannya, tapi layar itu tetap kosong dari nama yang paling ia tunggu. Waktu berjalan, tapi rasanya seperti terjebak di satu titik yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
