Datang

775 116 20
                                        

Matahari di New Zealand selalu naik dengan cara yang sopan. Tidak menyilaukan. Tidak memaksa orang bangun. Cahaya hangatnya merambat pelan melalui tirai transparan kamar Jiaya, mengisi ruangan dengan warna keemasan yang menenangkan. Jiaya mengusap mata sambil duduk di kasur, rambutnya acak dan hoodie yang kemarin masih menempel di tubuhnya. Udara dingin menyapa kakinya begitu menyentuh lantai kayu.

Dari dapur terdengar suara panci dan aroma roti panggang.
Suara langkah seseorang mendekat.

Tok—tok.
Tidak nunggu jawaban, pintu kebuka.

"Bangun princess," ujar Racquel, sepupunya, sambil nyengir. Rambutnya masih setengah berantakan, tapi auranya penuh energi pagi. "Aku buatin matcha. Terus habis ini kita jalan."

Jiaya memutar badan, duduk menyilangkan kaki di kasur.
"Jalan? Ke mana?"

Racquel mengangkat alis, senyum penuh rencana.
"Ke tempat kita main dulu. Kamu ingat nggak padang kecil di belakang bukit itu?"

Jiaya butuh tiga detik untuk mengingat.

"...yang ada pohon willow besar?"

"Yup. Itu."

Jiaya tersenyum pelan.
Kenangan di sini datangnya seperti kabut: pelan, tidak jelas, tapi terasa.

Udara pagi menggigit. Mereka berjalan menyusuri jalan kecil berkerikil. Rumput di kiri-kanan masih basah embun. Burung-burung bersuara rendah, seperti dunia masih belum benar-benar bangun. Racquel berjalan dengan tangan di saku jaketnya. Sementara Jiaya memeluk dirinya sendiri karena dingin.

"Masa kecil kita lucu banget ya," kata Racquel tiba-tiba. "Kayak semua hal bisa jadi petualangan."

Jiaya tertawa pelan.
"Bahkan cuma ke sungai belakang rumah juga serasa nyari naga."

"Kamu dulu penakut banget," Racquel menggoda.

"Eh, engga—"

"Jiaya, kamu dulu nangis gara-gara bayangan sendiri waktu matahari tenggelam."

Jiaya menutup wajah.
"Oke aku ngaku."

Mereka tertawa.

Hamparan rumput terbuka luas. Di tengahnya, pohon willow besar dengan cabang-cabang panjang menjuntai seperti tirai hijau. Angin lewat, daun-daunnya bergerak pelan, seolah menyapa mereka. Jiaya berdiri terdiam beberapa saat. Ada sesuatu di dadanya yang terasa penuh.

"Kayak..." bisiknya, "...aku jadi kecil lagi."

Racquel tersenyum miring.
"Iya. Tempat ini memang begitu."

Mereka duduk di akar pohon willow.
Sunyi, tapi sunyi yang nyaman.

Setelah beberapa saat, Racquel berkata pelan, dengan nada menggoda tapi ada sesuatu yang lebih halus di belakangnya: "Masih ingat nggak dulu kamu pernah nangisin anak kecil? Yang badannya gemuk banget sampai kamu kira dia jatuh terus nggak bisa bangun?"

Jiaya mengerutkan kening.

"...Aku pernah begitu?"

"Sering." Racquel tertawa. "Kamu sampai bilang, 'dia kasihan, jangan ketawain dia!' padahal dia cuma duduk makan biskuit."

Jiaya memijat pelipis, mencoba mengais memori yang terkubur bertahun-tahun.

"Dan dia masih di sini loh."

Jiaya menoleh.

"Masih tinggal di kampung ini maksud kamu?"

Racquel mengangguk pelan.
"Nanti mungkin kita bakal ketemu."

Jiaya tidak sepenuhnya ingat.
Tapi rasa itu—perasaan bahwa tempat ini menyimpan bagian dirinya yang ia tinggalkan dulu—datang pelan-pelan, seperti cahaya yang menyelinap di sela daun.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang