Hamil

1.2K 107 15
                                        

Sore itu, Jiaya duduk di kamarnya, cahaya lampu meja menerangi buku-buku yang berserakan di samping laptopnya. Udara New Zealand yang segar masuk lewat jendela, membawa aroma rumput dan hujan yang baru reda. Teleponnya berbunyi, menandakan pesan masuk dari grup chat lama mereka. Ia mengangkat ponsel dan menatap layar.

Pesan itu datang dari teman lama, memberinya kabar tentang Keno. Kata-kata singkat tapi tajam: Keno sekarang kuliah di Jakarta, sibuk dengan dunianya sendiri, dan hampir putus kontak dengan semua teman lamanya—termasuk Jiaya.

Jiaya menatap layar, napasnya sedikit tercekat. Ia ingat ketika mereka masih sering menghabiskan waktu bersama, tertawa, bercanda, dan merencanakan hal-hal kecil yang terasa penting saat itu. Sekarang, semua itu terasa jauh, seperti kenangan yang dikaburkan oleh jarak dan kesibukan masing-masing.

Ia menunduk, jemarinya menekan layar ponsel tanpa sadar, mencoba menyerap informasi itu. Ada rasa kehilangan, tapi juga sedikit lega. Jiaya tahu hidup terus berjalan; setiap orang punya jalannya sendiri. Tapi ada rasa cemas yang menempel—apakah Keno akan benar-benar hilang dari lingkaran mereka, atau hanya sementara, sebelum akhirnya menemukan ritme hidupnya yang baru?

Di sisi lain, Jiaya merasa ada tanggung jawab kecil dalam hatinya. Mungkin tidak banyak, tapi cukup untuk menanyakan kabar, mencoba menjaga sedikit koneksi yang tersisa. Ia menulis pesan singkat, sederhana, tanpa berharap balasan cepat: "Semoga semuanya baik-baik saja di Jakarta."

Setelah menekan tombol kirim, Jiaya menatap jendela lagi, melihat langit senja yang perlahan berubah menjadi ungu tua. Ada perasaan campur: rindu, lega, dan sedikit sedih. Dunia Keno kini berbeda, dan Jiaya harus belajar menerima bahwa hubungan yang dulu dekat bisa berubah seiring waktu dan jarak.

Namun di hatinya, Jiaya tetap yakin satu hal: meski hampir putus kontak, kenangan itu tidak akan hilang, dan koneksi mereka, sekecil apapun, masih ada—meski hanya tersimpan dalam diam dan doa kecil di senja hari.

•••

Pagi itu, rumah Genta terasa sepi. Hanya Genta dan Riski yang berada di dalam. Arka dan Gina sedang membawa Ara keluar, meninggalkan keduanya sendirian. Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Riski mengerutkan kening, berjalan ke depan pintu, dan membuka dengan hati-hati. Di depan pintu berdiri Clara, langkahnya mantap, pandangannya menilai rumah itu dengan cepat.

"Hei... siapa ya?" Riski langsung menatapnya, nada suaranya waspada. Ia belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, hanya pernah mendengar Genta menyebut Clara sebagai mantannya.

Clara tersenyum tipis, tetap tenang. "Aku mantannya Mage, cuma pengen ngobrol sebentar. Dia lagi di rumah?"

Riski menahan napas sebentar, alisnya mengerut. "Ngapain nyamperin lagi?"

Clara tertawa pelan, sedikit mengejek, tapi tetap mencoba terdengar ringan. "Santai aja... cuma pengen tau tentang dia. Kamu bisa kasih tau nggak dia udah ada pacar atau masih sendiri? Terus kuliahnya sekarang di mana?"

Riski menatapnya tajam, tetap waspada. Ia menjawab seadanya, singkat. "Udah ada pacar. Baru mau kuliah di Jakarta."

Clara mencondongkan tubuh sedikit, mata masih menelusuri ekspresi Riski. "Hmm... baiklah. Aku cuma penasaran."

Riski tetap tegap, tetap curiga, tapi tidak menambahkan kata-kata lagi. Ia menjaga jarak sambil tetap mengawasi Clara dengan seksama, memastikan bahwa tamu yang tiba-tiba muncul itu tidak mengganggu Genta. Suasana di depan pintu tegang tapi terkendali. Clara mencoba menggali informasi, sementara Riski menahan diri, memberikan jawaban seminimal mungkin, sambil tetap waspada terhadap setiap gerak-gerik wanita itu.

Genta berjalan pelan ke dapur, menarik napas panjang sambil membuka kulkas untuk mengambil segelas air. Tapi begitu matanya menangkap Riski yang sedang berbicara dengan wanita asing itu, wajahnya langsung mengeras.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang