project

576 88 11
                                        

toxiclove


Pukul 04.40 pagi.
Alarm tidak perlu berbunyi—mata Genta sudah terbuka sendiri. Kebiasaan yang ia bentuk sejak beberapa tahun terakhir: bangun sebelum matahari, sebelum pikiran sempat menawar.

Pertama, ia duduk sejenak di sisi ranjang, menstabilkan napas, memastikan dirinya sadar dan hadir, bukan sekadar hidup otomatis. Lalu ia berdiri, merapikan selimut dengan presisi dan sudut yang sama, seperti selalu. Tidak ada yang boleh dibiarkan berantakan saat hari belum dimulai.

Kamar mandi menyala, dan suara air shower terdengar. Genta mandi tidak pernah lama, tapi selalu dilakukan dengan ritme yang sama:

wajah — rambut — tubuh — sikat gigi — bilas — selesai.

Setelahnya ia turun ke dapur, dan seperti biasa, Bu Ningsih sudah bangun, menyiapkan sarapan tanpa diperintah, tanpa bertanya.

"Pagi, Mas."
"Pagi, Bu."

Tidak ada basa-basi panjang. Mereka sama-sama tahu ritme pagi harus tenang.

Menu pagi itu sederhana tapi bergizi: oatmeal hangat, madu organik, telur, dan jus apel. Genta makan sambil membaca tablet berisi agenda kerja, laporan, dan jadwal meeting. Tidak tergesa, tidak lambat, pas.

05.35 — Genta sudah berpakaian rapi. Kemeja biru muda, jas charcoal, jam tangan hitam. Rambut selalu rapi tanpa terlihat di-styling berlebihan. Ia bukan tipe yang memamerkan kekayaan, tetapi orang yang memperlihatkan kualitas.

Di ruang tamu, Pak Paryo sudah menunggu, berdiri tegak sambil membawa kunci mobil.

"Selamat pagi, Mas."
"Pagi, Pak."

Mereka berjalan menuju garasi. Mobil hitam matte yang tenang namun berkelas sudah siap; tidak mencolok namun jelas mahal.

Sebelum masuk mobil, Genta sempat berhenti sejenak, menatap ke arah bangunan kecil tempat Bu Ningsih dan Pak Paryo tinggal — pasti lampunya sudah mati, tanda keduanya tidak mau terlalu boros listrik. Ia selalu memperhatikan detail, bahkan yang tidak pernah diucapkan orang lain.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Genta tidak memutar musik. Ia lebih suka diam, memberi ruang bagi pikirannya untuk menyusun rencana, bukan kenangan.


Ruang rapat lantai 12 – 08.00 WIB

Semua manajer departemen sudah duduk, lengkap dengan dokumen, tablet, dan kopi masing-masing. Mereka tahu, ketika rapat dipimpin langsung oleh Magenta Gama Tama, tidak ada satu detik pun yang boleh terbuang.

Pintu terbuka. Genta masuk dengan langkah mantap, bukan terburu-buru, bukan santai. Tepat.
Ia hanya mengangguk singkat sebagai sapaan, lalu duduk di kursi utama.

"Baik. Kita mulai."

Tidak ada basa-basi "apa kabar", tidak ada small talk, tapi bukan karena ia sombong — ia menghargai waktu semua orang.

Vika duduk di sisi kanan dengan tablet, siap mencatat poin penting, sementara Rara duduk lebih jauh karena hari ini ia bukan PIC utama, hanya support dokumentasi.

Genta menatap layar presentasi.

"Saya sudah menerima laporan kuartal dua. Secara angka, perusahaan aman. Namun, aman tidak sama dengan berkembang."

Nada suaranya tenang, tapi semua orang otomatis memperbaiki duduk mereka.

"Kita ini perusahaan creative interior & architecture, bukan pabrik statistik yang hanya mengejar margin. Saya mau keunikan, karakter, solusi yang tidak dimiliki kompetitor."

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang